Kesatuan dan Persatuan Umat, Inti Syariat Islam

Hasil gambar untuk kesatuan umat islamOleh: Ustadz Drs. K.H. Yakhsyallah Mansur,M.Ag., Imaam Jama’ah Muslimin (Hizbullah)

Firmah Allah Subhanahu Wa Ta’ala:

شَرَعَ لَكُم مِّنَ ٱلدِّينِ مَا وَصَّىٰ بِهِۦ نُوحً۬ا وَٱلَّذِىٓ أَوۡحَيۡنَآ إِلَيۡكَ وَمَا وَصَّيۡنَا بِهِۦۤ إِبۡرَٲهِيمَ وَمُوسَىٰ وَعِيسَىٰٓ‌ۖ أَنۡ أَقِيمُواْ ٱلدِّينَ وَلَا تَتَفَرَّقُواْ فِيهِ‌ۚ كَبُرَ عَلَى ٱلۡمُشۡرِكِينَ مَا تَدۡعُوهُمۡ إِلَيۡهِ‌ۚ ٱللَّهُ يَجۡتَبِىٓ إِلَيۡهِ مَن يَشَآءُ وَيَہۡدِىٓ إِلَيۡهِ مَن يُنِيبُ

Artinya: “Dia telah mensyari’atkan bagi kamu tentang agama apa yang telah diwasiatkan-Nya kepada Nuh dan apa yang telah kami wahyukan kepadamu dan apa yang telah kami wasiatkan kepada Ibrahim, Musa dan Isa yaitu: Tegakkanlah agama dan janganlah kamu berpecah belah tentangnya. amat berat bagi orang-orang musyrik agama yang kamu seru mereka kepadanya. Allah menarik kepada agama itu orang yang dikehendaki-Nya dan memberi petunjuk kepada (agama)-Nya orang yang kembali (kepada-Nya).” (QS Asy-Syuura [42]: 13).

Pada ayat tersebut Allah Subhanahu wa Ta’ala menjelaskan bahwa ad-dien (agama) yang di syari’atkan untuk manusia yang dibawa oleh para Rasul hanyalah satu, yaitu Islam.

Jarak antara Nabi Nuh ‘Alaihi Salam dan Nabi Muhammad Shalallahu ‘Alahi Wasallam sekitar 8.000 tahun, namun inti ajaran yang disyari’atkan kepada keduanya adalah sama yaitu agar menegakkan agama (Islam) dan tidak berpecah belah di dalamnya.

Islam adalah satu-satunya agama yang mengajak kepada persatuan, persaudaraan dan saling menolong serta mengecam perpecahan dan perselisihan.

Hal ini banyak ditekankan di dalam Al-Qur’an antara lain:

وَٱعۡتَصِمُواْ بِحَبۡلِ ٱللَّهِ جَمِيعً۬ا وَلَا تَفَرَّقُواْ‌ۚ وَٱذۡكُرُواْ نِعۡمَتَ ٱللَّهِ عَلَيۡكُمۡ إِذۡ كُنتُمۡ أَعۡدَآءً۬ فَأَلَّفَ بَيۡنَ قُلُوبِكُمۡ فَأَصۡبَحۡتُم بِنِعۡمَتِهِۦۤ إِخۡوَٲنً۬ا وَكُنتُمۡ عَلَىٰ شَفَا حُفۡرَةٍ۬ مِّنَ ٱلنَّارِ فَأَنقَذَكُم مِّنۡہَا‌ۗ كَذَٲلِكَ يُبَيِّنُ ٱللَّهُ لَكُمۡ ءَايَـٰتِهِۦ لَعَلَّكُمۡ تَہۡتَدُونَ

Artinya: “Dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali [agama] Allah seraya berjama’ah, dan janganlah kalian bercerai berai, dan ingatlah akan ni’mat Allah kepada kalian ketika kalian dahulu [masa Jahiliyah] bermusuh-musuhan, maka Allah mempersatukan hati kalian, lalu menjadilah kalian karena ni’mat Allah orang-orang yang bersaudara; dan kalian telah berada di tepi jurang neraka, lalu Allah menyelamatkan kalian daripadanya. Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepadamu, agar kalian mendapat petunjuk”. (QS Ali Imran [3]: 103).

قُلۡ هُوَ ٱلۡقَادِرُ عَلَىٰٓ أَن يَبۡعَثَ عَلَيۡكُمۡ عَذَابً۬ا مِّن فَوۡقِكُمۡ أَوۡ مِن تَحۡتِ أَرۡجُلِكُمۡ أَوۡ يَلۡبِسَكُمۡ شِيَعً۬ا وَيُذِيقَ بَعۡضَكُم بَأۡسَ بَعۡضٍ‌ۗ ٱنظُرۡ كَيۡفَ نُصَرِّفُ ٱلۡأَيَـٰتِ لَعَلَّهُمۡ يَفۡقَهُونَ

Artinya : “Katakanlah: “Dialah yang berkuasa untuk mengirimkan azab kepada kalian, dari atas kalian atau dari bawah kaki kalian atau Dia mencampurkan kalian dalam golongan-golongan [yang saling bertentangan] dan merasakan kepada sebahagian] kalian keganasan sebahagian yang lain. Perhatikanlah, betapa Kami mendatangkan tanda-tanda kebesaran Kami silih berganti  agar mereka memahami [nya]. (QS Al-An’am [6]: 65).

إِنَّ ٱلَّذِينَ فَرَّقُواْ دِينَہُمۡ وَكَانُواْ شِيَعً۬ا لَّسۡتَ مِنۡہُمۡ فِى شَىۡءٍ‌ۚ إِنَّمَآ أَمۡرُهُمۡ إِلَى ٱللَّهِ ثُمَّ يُنَبِّئُہُم بِمَا كَانُواْ يَفۡعَلُونَ

Artinya : “Sesungguhnya orang-orang yang memecah belah agamanya dan mereka [terpecah] menjadi beberapa golongan, tidak ada sedikitpun tanggung jawabmu terhadap mereka. Sesungguhnya urusan mereka hanyalah [terserah] kepada Allah, kemudian Allah akan memberitahukan kepada mereka apa yang telah mereka perbuat”. (QS Al-An’am [6]: 159).

أَلَمۡ تَرَ أَنَّ ٱلۡفُلۡكَ تَجۡرِى فِى ٱلۡبَحۡرِ بِنِعۡمَتِ ٱللَّهِ لِيُرِيَكُم مِّنۡ ءَايَـٰتِهِۦۤ‌ۚ إِنَّ فِى ذَٲلِكَ لَأَيَـٰتٍ۬ لِّكُلِّ صَبَّارٍ۬ شَكُورٍ۬ ( ) وَإِذَا غَشِيَہُم مَّوۡجٌ۬ كَٱلظُّلَلِ دَعَوُاْ ٱللَّهَ مُخۡلِصِينَ لَهُ ٱلدِّينَ فَلَمَّا نَجَّٮٰهُمۡ إِلَى ٱلۡبَرِّ فَمِنۡهُم مُّقۡتَصِدٌ۬‌ۚ وَمَا يَجۡحَدُ بِـَٔايَـٰتِنَآ إِلَّا كُلُّ خَتَّارٍ۬ كَفُورٍ۬ ( )

Artinya: “Tidakkah kamu memperhatikan bahwa sesungguhnya kapal itu berlayar di laut dengan ni’mat Allah, supaya diperlihatkan-Nya kepadamu sebagian dari tanda-tanda [kekuasaan]-Nya. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi semua orang yang sangat sabar lagi banyak bersyukur. Dan apabila mereka dilamun ombak yang besar seperti gunung, mereka menyeru Allah dengan memurnikan keta’atan kepada-Nya maka tatkala Allah menyelamatkan mereka sampai di daratan, lalu sebagian mereka tetap menempuh jalan yang lurus. Dan tidak ada yang mengingkari ayat-ayat Kami selain orang-orang yang tidak setia lagi ingkar. (QS Ar-Ruum [31]: 31-32).

Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wasallam menyampaikan bahwa umat Islam akan selamat dari kesesatan dan satu-satunya jalan menuju kejayaan hanya dengan bersatu dalam satu kepemimpinan (Al-Jama’ah).

Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda:

إِنَّ اللهَ لَا يُجْمِعُ أُمَّةِ عَلَى ضَلَالَةٍ وَيَدُ اللهِ مَعَ الجَمَاعَةِ وَمَنْ شَذَّ شَذَّ إِلَى النَّارِ

Artinya: “Sesungguhnya Allah tidak akan menghimpun ummatku atau ummat Muhammad Shalallahu Alaihi Wasallam atas kesesatan. Tangan Allah bersama Al-Jama’ah, barangsiapa menyempal maka dia menyempal ke neraka.” (HR At-Tirmidzi).

Di dalam hadis lain disebutkan,

إِنَّ الشَّيْطَانَ قَدْ أَيِسَ أَنْ يَعْبُدَهُ الْمُصَلُّونَ فِي جَزِيرَةِ الْعَرَبِ وَلَكِنْ فِي التَّحْرِيشِ بَيْنَهُمْ

Artinya: “Sesungguhnya setan telah putus asa untuk disembah oleh orang-orang yang shalat di jazirah arab, akan tetapi dia mengadu domba di antara mereka (manusia).” (HR Muslim dari Jabir bin Abdullah).

Ketika menjelaskan kalimat inna aqiimuddiina walaa tatafarraquu pada ayat 13 surat As-Syuura Imam Al-Baghawi berkata, “Allah Subhanahu wa Ta’ala mengutus seluruh Nabi agar menegakkan agama, menjalin kasih sayang, hidup berjama’ah, meninggalkan perpecahan dan perselisihan.”

Ibnu Katsir berkata, “Allah Subhanahu Wa Ta’ala mewasiatkan kepada semua Nabi ‘Alaihi Shallaatu Wasallam untuk hidup rukun dan berjama’ah serta melarang berpecah-belah dan berselisih.”

Ajakan para nabi ini dirasakan berat oleh orang-orang yang musyrik karena untuk menegakkan kehidupan berjama’ah membutuhkan perjuangan yang tidak ringan, harta yang tidak sedikit dan waktu yang panjang.

Di samping itu, yang membuat mereka berat menerima ajakan Nabi tersebut adalah dikarenakan mereka sudah terbiasa hidup berpecah-belah, menyembah banyak Tuhan dan mempunyai banyak keyakinan sebanyak kepala (pemimpin) agama.

Ketika menjelaskan kalimat, “Dan tidaklah mereka berpecah belah melainkan setelah datangnya pengetahuan.” Imam Al-Baghawi berkata, “Mereka mengetahui bahwa berpecah belah adalah sesat tetapi mereka tetap melakukannya.”

Uraian di atas memberikan pengertian dengan jelas bahwa syariat Islam sangat menekankan pentingnya kesatuan.

Namun saat ini terasa ironis bahwa Islam seakan-akan telah berhenti menjadi kekuatan pemersatu. Umat Islam porak-poranda menjadi beberapa golongan dan kelompok yang saling bermusuhan. Inilah yang menjadikan umat Islam menjadi lemah sehingga pihak lain dengan mudah melecehkan Islam, secara kuantitas umat Islam ini banyak, namun kondisi umat Islam masih menjadi maf’ul bih (objek penderita).

Mereka memiliki berbagai potensi, namun mereka masih saja tetap tertindas. Tidak terkecuali permasalahan Masjid Al-Aqsha al-Mubarak yang terus menjadi bulan-bulanan Zionis Yahudi Isarel.

Jumlah umat Islam mencapai hingga angka satu milyar bahkan lebih. Namun mereka tidak berdaya, sekedar mengembalikan hak miliknya itu masih saja belum mampu dan tak berdaya.

Inilah saatnya muslimin insyaf dan sadar, sudah waktunya kita bangkit, di atas aqidah kita bangun ukhuwah sehingga kita menjadi umat yang satu, kompak dan kuat bias menjadi obat terhadap peradaban yang sedang sekarat dan mampu mengembalikan Qiblat pertama yakni Masjid Al-Aqsha al-Mubarak.

Sehinggakita bisa mengunjungi kembali Masjid Al-Aqsha. Sebagaimana Nabiyyuna Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda:

لاَ تَشُدُّ الرِّحَالُ إِلاَّ إِلَى ثَلاَثَةِ مَسَاجِدَ أَلْمَسْجِدِ الْحَرَامِ وَمَسْجِدِ الرَّسُوْلِ وَمَسْجِدِ اْلأَقْصَى

Artinya: “Tidaklah perjalanan benar-benar dilakukan kecuali ke tiga mesjid, yaitu Al-Masjidul Haram, Masjid Rasul dan Masjidul Aqsha”. (HR Bukhari dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘Anhu).

Bagaimana mungkin, umat ini bersungguh-sungguh melakukan perjalanan ke Masjid Al-Aqsha, padahal Zionis tetap mempersulit dan menghalanginya.

Karena begitu mulia dan pentingnya kedudukan Al-Aqsa dalam Islam, sehingga Amirul Mukminin, Umar bin Al-Khaththab pun tidaklah meninggalkan Madinah kecuali untuk urusan Al-Aqsha ini.

Khilafah Sebagai Pemersatu  

Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada para malaikat:

وَإِذۡ قَالَ رَبُّكَ لِلۡمَلَـٰٓٮِٕكَةِ إِنِّى جَاعِلٌ۬ فِى ٱلۡأَرۡضِ خَلِيفَةً۬‌ۖ

Artinya: “Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi.” (QS Al-Baqarah [2] : 30).

Imam Al-Qurthubi dan ulama yang lain menjadikan ayat ini sebagai dalil wajibnya menegakkan khilafah dikalangan umat Islam setelah wafatnya Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam, guna menyelesaikan dan memutuskan pertentangan di antara manusia, menolong orang yang teraniaya, menegakkan hukum Islam dan mencegah merajalelanya kejahatan.

Khilafah merupakan kepemimpinan khas dien yang ditegakkan dalam rangka memelihara agama dan mengadakan urusan dunia.

Menurut ijma mu’tabar (kesepakatan yang benar), hukum menegakkan khilafah adalah fardlu khifayah (kewajiban yang tidak bisa terlaksana kecuali dilakukan dengan banyak orang). Dengan alasan:

Pertama, Ijma shahabat, ketika Rasulullah Shalallahu Alaihi Wasallam wafat para shahabat mendahulukan memilih khalifah penganti beliau sebelum pemakaman jenazahnya dengan memilih Abu Bakar sebagai khalifah.

Kedua, untuk menyempurnakan kewajiban agama seperti jihad, menjaga kemurnian akidah, menjalinkan ukhuwah Islamiyah dan sebagainya.

Ketiga, janji Allah kepada orang-orang yang beriman dan beramal shalih untuk menjauhkan mereka dari kegelisahan, perasaan yang mencekam karena takut akan menjadi obyek kezaliman, sebagaimana dalam Surat An-Nuur ayat 55, Allah berfirman;

وَعَدَ ٱللَّهُ ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ مِنكُمۡ وَعَمِلُواْ ٱلصَّـٰلِحَـٰتِ لَيَسۡتَخۡلِفَنَّهُمۡ فِى ٱلۡأَرۡضِ ڪَمَا ٱسۡتَخۡلَفَ ٱلَّذِينَ مِن قَبۡلِهِمۡ وَلَيُمَكِّنَنَّ لَهُمۡ دِينَہُمُ ٱلَّذِى ٱرۡتَضَىٰ لَهُمۡ وَلَيُبَدِّلَنَّہُم مِّنۢ بَعۡدِ خَوۡفِهِمۡ أَمۡنً۬ا‌ۚ يَعۡبُدُونَنِى لَا يُشۡرِكُونَ بِى شَيۡـًٔ۬ا‌ۚ وَمَن ڪَفَرَ بَعۡدَ ذَٲلِكَ فَأُوْلَـٰٓٮِٕكَ هُمُ ٱلۡفَـٰسِقُونَ

Artinya: “Dan Allah telah berjanji kepada orang-orang yang beriman di antara kamu dan mengerjakan amal-amal yang saleh bahwa dia sungguh- sungguh akan menjadikan mereka berkuasa dimuka bumi, sebagaimana dia telah menjadikan orang-orang sebelum mereka berkuasa, dan sungguh dia akan meneguhkan bagi mereka agama yang telah diridhai-Nya untuk mereka, dan dia benar-benar akan menukar (keadaan) mereka, sesudah mereka dalam ketakutan menjadi aman sentausa. mereka tetap menyembahku-Ku dengan tiada mempersekutukan sesuatu apapun dengan Aku. dan barangsiapa yang (tetap) kafir sesudah (janji) itu, maka mereka Itulah orang-orang yang fasik.”(QS An-Nuur [24]: 55).

Dengan demikian, kehidupan berjama’ah dan menegakkan kekhilafahan bagi seorang muslim merupakan inti syariat Islam yang harus dilaksanakan kaum muslimin. Tanpa adanya kekhilafahan, syariat Islam yang kamil wa mutakammil ini tidak dapat terlaksana dengan menyeluruh.

Tanpa adanya kesatuan umat, muslimin tidak akan pernah memiliki kekuatan dan kehormatan, umat Islam senantiasa dicampakan dan dihinakan. Tanpa adanya kesatuan umat, niscaya tugas besar muslimin membebaskan Masjid Al-Aqsha yang hari ini dalam cengkaram Zionis Israel tidak akan pernah berhasil.

Kekhilafahan Ditetapi Kembali

Alhamdulillah, dengan pertolongan Allah Subahanahu Wa Ta’ala pada awal tahun 1972 H. (1953 M.), Allah Ta’ala menunjukan kepada hamba-Nya Wali Al-Fattah tentang bagaimana Rasulullah dan para shahabatnya berhimpun mengamalkan wahyu-wahyu Allah Ta’ala.dan bentuk kesatuan serta wujud kemasyarakatan Islam.

Dengan takdir serta izin Allah Subahanahu Wa Ta’ala semata, setelah berulang kali didiskusikan dan dimusyawarahkan, pada tanggal 10 Dzulhijjah 1373 H. (20 Agustus 1953 M.) ditetapilah Jama’ah Muslimin (Hizbullah) dengan Imaam pertama Wali Al-Fattah. Jama’ah Muslimin (Hizbullah) bukanlah organisasi, Partai, perserikatan, dan bentuk lain yang bersifat politis, melainkan berbentuk Jama’ah.

Takhtim

Mari dengan aqidah dan semangat ukhuwwah, kita selesaikan bersama berbagai problema dan masalah umat ini. Mari kita akhiri hidup berpecah-belah dan berfirqoh-firqoh, kita sudahi hidup tanazu’ dan tafarruq karena akan menjadikan kita menjadi lemah, hina dan tak berdaya.

Mari kita satukan barisan, luruskan shaf dalam Jama’ah Muslimin. Dengan Al-Qur’an kita buktikan bahwa Islam mampu memberi jawaban dan solusi terhadap krisis peradaban yang sedang melanda umat manusia di abad ini.Wallahu a’lam bishawab. (P4).


Sumber: Mi’raj Islamic News Agency (MINA)

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s