Celaan Allah bagi Orang yang Bakhil dan Kikir

Hasil gambar untuk bakhilSetiap harta-benda yang Allah anugerahkan kepada kita sudah seharusnya kita syukuri, karena sesungguhnya semua itu merupakan titipan Allah yang kelak akan dimintai pertanggungjawabannya. Salah satu bentuk rasa syukur kita terhadap rezeki yang Allah titipkan kepada kita adalah dengan berbagi kepada orang lain. Namun, sangat disayangkan masih begitu banyak orang yang merasa berat untuk menyisihkan sedikit rezeki yang Allah titipkan kepadanya untuk berbagi dengan orang lain yang kurang beruntung. Padahal harta-benda yang kita keluarkan dalam rangka kebaikan di jalan Allah, sejatinya tidak akan berkurang. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

مَا نَقَصَ مَالُ عَبْدٍ مِنْ صَدَقَةٍ

“Harta seorang hamba tidaklah akan berkurang karena shadaqah.” (HR At-Tirmidzi)

Tercelanya Sifat Bakhil dan Kikir

Sifat bakhil dan kikir merupakan sifat yang sangat tercela, dan tidaklah hal ini muncul di diri seseorang kecuali disebabkan oleh sifat cinta yang berlebihan terhadap dunia. Allah Subhanahu wa Ta’ala mencela orang-orang yang bakhil lagi kikir di dalam firmanNya yang berbunyi:

وَأَمَّا مَن بَخِلَ وَاسْتَغْنَى (٨) وَكَذَّبَ بِالْحُسْنَى (٩) فَسَنُيَسِّرُهُ لِلْعُسْرَى (١٠) وَمَا يُغْنِي عَنْهُ مَالُهُ إِذَا تَرَدَّى (١١)

Dan adapun orang-orang yang bakhil dan merasa dirinya cukup, serta mendustakan pahala terbaik, maka kelak Kami akan menyiapkan baginya (jalan) yang sukar. Dan hartanya tidak bermanfaat baginya apabila ia telah binasa.” (QS Al-Lail [92]: 8-11)

Ketika menjelaskan ayat ini, Imam Ibnu Katsir rahimahullah mengatakan, “Orang-orang yang bakhil dengan harta-benda yang dimilikinya, dan dia tidak merasa butuh dengan (pahala) Allah, serta mendustakan balasan (dari Allah) kelak di hari kiamat, maka Allah akan mempermudah baginya untuk menuju kepada jalan-jalan kejelekan.” (Tafsir Ibnu Katsir, karya Imam Ibnu Katsir, cetakan Jum’iyyah Ihya At-Turats Al-Islamiy, jilid ke-4, halaman 3048)

Definisi Orang yang Bakhil dan Orang yang Kikir

Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin rahimahullah menjelaskan bahwa yang dimaksud dengan orang bakhil adalah orang yang menahan (hartanya) dengan tidak menunaikan (hak dan kewajiban) yang berkaitan dengan harta yang dimilikinya tersebut. Sedangkan orang kikir adalah orang yang tamak/rakus terhadap apa-apa yang sebenarnya bukan miliknya, dan tentu saja ini lebih parah dari bakhil, karena orang yang kikir itu selalu berambisi terhadap apa-apa yang dimiliki oleh orang lain, dan dirinya tidak menjalankan apa-apa yang Allah wajibkan kepadanya, seperti zakat, berinfak, dan hal-hal lain yang sudah selayaknya dia lakukan (dengan harta yang dimilikinya). (Syarh Riyadhus Shalihin, Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin, penerbit Alfa, Juz ke-2, halaman 234)

Orang yang Kikir termasuk Golongan Orang yang Merugi

Orang yang bakhil dan kikir akan Allah masukkan ke dalam golongan orang-orang yang merugi di akhirat kelak. Adapun bagi mereka yang dermawan dan mau menginfakkan hartanya di jalan Allah, maka mereka akan tergolong orang-orang yang beruntung. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

وَمَن يُوقَ شُحَّ نَفْسِهِ فَأُوْلَئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ

Dan barangsiapa yang dipelihara dari kekikiran dirinya, maka mereka itulah orang-orang yang beruntung.” (QS At-Taghabun [64]: 16) atau (QS Al-Hasyr [59]: 9)

Di dalam tafsirnya, Imam Ibnu Katsir menjelaskan, bahwa makna dari ayat ini adalah barangsiapa yang selamat dari sifat kikir, maka sungguh ia tergolong ke dalam orang-orang yang beruntung dan sukses. Kemudian beliau membawakan sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Jabir bin ‘Abdillah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

إِيَّاكُمْ وَالظُّلْمَ، فَإِنَّ الظُّلْمَ ظُلُمَاتٌ يَوْمَ الْقِيَامَةِ، وَاتَّقُوا الشُّحَّ، فَإِنَّ الشُّحَّ أَهْلَكَ مَنْ كَانَ قَبْلَكُمْ، حَمَلَهُمْ عَلَى أَنْ سَفَكُوا دِمَاءَهُمْ، وَاسْتَحَلُّوا مَحَارِمَهُمْ

“Berhati-hatilah kalian terhadap perbuatan dzalim, karena sesungguhnya dzalim itu merupakan kegelapan yang paling gulita kelak di hari kiamat. Dan berhati-hatilah kalian dari sifat kikir, karena sifat kikir telah membinasakan orang-orang sebelum kalian. Sifat kikir pulalah yang telah membuat mereka tega menumpahkan darah dan menghalalkan kehormatan sesama mereka.” (HR Muslim)
(Lihat Tafsir Ibnu Katsir, karya Imam Ibnu Katsir, cetakan Jum’iyyah Ihya At-Turats Al-Islamiy, jilid ke-4, halaman 2812)

Doa agar Terhindar dari Sifat Bakhil dan Kikir

Beberapa doa yang bisa kita baca dan amalkan agar bisa terhindar dari sifat bakhil dan kikir, di antaranya adalah:

اللَّهُمَّ قِنِي شُحَّ نَفْسِي وَاجْعَلْنِي مِنَ الْمُفْلِحِينَ

“Ya Allah, jauhkanlah jiwaku dari sifat kikir, dan jadikanlah aku termasuk orang-orang yang beruntung.” (Doa ini disarikan dari Surat At-Taghabun, ayat ke-16)

اللَّهُمَّ إنِّي أَعوذُ بِكَ مِنَ الجُبْنِ، وَأعُوذُ بِكَ مِنَ البُخْلِ، وَأعُوذُ بِكَ مِنْ أنْ أُرَدَّ إِلَى أَرْذَلِ العُمُرِ، وَأعُوذُ بِكَ مِنْ فِتْنَةِ الدُّنْيَا وَعَذَابِ القَبْرِ

“Ya Allah, sesungguhnya aku berlindung kepadaMu dari sifat pengecut, aku berlindung kepadaMu dari sifat bakhil, aku berlindung kepadaMu dari dikembalikan kepada umur yang paling hina (masa pikun), dan aku berlindung kepadaMu dari fitnah dunia dan dari adzab kubur.” (HR Al-Bukhari)

Referensi:
Tafsir Ibnu Katsir, karya Imam Ibnu Katsir, cetakan Jum’iyyah Ihya At-Turats Al-Islamiy
Kitab Ad-Du’a min Al-Kitab wa As-Sunnah, karya Syaikh Sa’id bin ‘Ali bin Wahf Al-Qahthani
Syarh Riyadhush Shalihin, karya Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin, penerbit Alfa
Setiap harta-benda yang Allah anugerahkan kepada kita sudah seharusnya kita syukuri, karena sesungguhnya semua itu merupakan titipan Allah yang kelak akan dimintai pertanggungjawabannya. Salah satu bentuk rasa syukur kita terhadap rezeki yang Allah titipkan kepada kita adalah dengan berbagi kepada orang lain. Namun, sangat disayangkan masih begitu banyak orang yang merasa berat untuk menyisihkan sedikit rezeki yang Allah titipkan kepadanya untuk berbagi dengan orang lain yang kurang beruntung. Padahal harta-benda yang kita keluarkan dalam rangka kebaikan di jalan Allah, sejatinya tidak akan berkurang. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

مَا نَقَصَ مَالُ عَبْدٍ مِنْ صَدَقَةٍ

“Harta seorang hamba tidaklah akan berkurang karena shadaqah.” (HR At-Tirmidzi)

Tercelanya Sifat Bakhil dan Kikir

Sifat bakhil dan kikir merupakan sifat yang sangat tercela, dan tidaklah hal ini muncul di diri seseorang kecuali disebabkan oleh sifat cinta yang berlebihan terhadap dunia. Allah Subhanahu wa Ta’ala mencela orang-orang yang bakhil lagi kikir di dalam firmanNya yang berbunyi:

وَأَمَّا مَن بَخِلَ وَاسْتَغْنَى (٨) وَكَذَّبَ بِالْحُسْنَى (٩) فَسَنُيَسِّرُهُ لِلْعُسْرَى (١٠) وَمَا يُغْنِي عَنْهُ مَالُهُ إِذَا تَرَدَّى (١١)

Dan adapun orang-orang yang bakhil dan merasa dirinya cukup, serta mendustakan pahala terbaik, maka kelak Kami akan menyiapkan baginya (jalan) yang sukar. Dan hartanya tidak bermanfaat baginya apabila ia telah binasa.” (QS Al-Lail [92]: 8-11)

Ketika menjelaskan ayat ini, Imam Ibnu Katsir rahimahullah mengatakan, “Orang-orang yang bakhil dengan harta-benda yang dimilikinya, dan dia tidak merasa butuh dengan (pahala) Allah, serta mendustakan balasan (dari Allah) kelak di hari kiamat, maka Allah akan mempermudah baginya untuk menuju kepada jalan-jalan kejelekan.” (Tafsir Ibnu Katsir, karya Imam Ibnu Katsir, cetakan Jum’iyyah Ihya At-Turats Al-Islamiy, jilid ke-4, halaman 3048)

Definisi Orang yang Bakhil dan Orang yang Kikir

Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin rahimahullah menjelaskan bahwa yang dimaksud dengan orang bakhil adalah orang yang menahan (hartanya) dengan tidak menunaikan (hak dan kewajiban) yang berkaitan dengan harta yang dimilikinya tersebut. Sedangkan orang kikir adalah orang yang tamak/rakus terhadap apa-apa yang sebenarnya bukan miliknya, dan tentu saja ini lebih parah dari bakhil, karena orang yang kikir itu selalu berambisi terhadap apa-apa yang dimiliki oleh orang lain, dan dirinya tidak menjalankan apa-apa yang Allah wajibkan kepadanya, seperti zakat, berinfak, dan hal-hal lain yang sudah selayaknya dia lakukan (dengan harta yang dimilikinya). (Syarh Riyadhus Shalihin, Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin, penerbit Alfa, Juz ke-2, halaman 234)

Orang yang Kikir termasuk Golongan Orang yang Merugi

Orang yang bakhil dan kikir akan Allah masukkan ke dalam golongan orang-orang yang merugi di akhirat kelak. Adapun bagi mereka yang dermawan dan mau menginfakkan hartanya di jalan Allah, maka mereka akan tergolong orang-orang yang beruntung. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

وَمَن يُوقَ شُحَّ نَفْسِهِ فَأُوْلَئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ

Dan barangsiapa yang dipelihara dari kekikiran dirinya, maka mereka itulah orang-orang yang beruntung.” (QS At-Taghabun [64]: 16) atau (QS Al-Hasyr [59]: 9)

Di dalam tafsirnya, Imam Ibnu Katsir menjelaskan, bahwa makna dari ayat ini adalah barangsiapa yang selamat dari sifat kikir, maka sungguh ia tergolong ke dalam orang-orang yang beruntung dan sukses. Kemudian beliau membawakan sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Jabir bin ‘Abdillah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

إِيَّاكُمْ وَالظُّلْمَ، فَإِنَّ الظُّلْمَ ظُلُمَاتٌ يَوْمَ الْقِيَامَةِ، وَاتَّقُوا الشُّحَّ، فَإِنَّ الشُّحَّ أَهْلَكَ مَنْ كَانَ قَبْلَكُمْ، حَمَلَهُمْ عَلَى أَنْ سَفَكُوا دِمَاءَهُمْ، وَاسْتَحَلُّوا مَحَارِمَهُمْ

“Berhati-hatilah kalian terhadap perbuatan dzalim, karena sesungguhnya dzalim itu merupakan kegelapan yang paling gulita kelak di hari kiamat. Dan berhati-hatilah kalian dari sifat kikir, karena sifat kikir telah membinasakan orang-orang sebelum kalian. Sifat kikir pulalah yang telah membuat mereka tega menumpahkan darah dan menghalalkan kehormatan sesama mereka.” (HR Muslim)
(Lihat Tafsir Ibnu Katsir, karya Imam Ibnu Katsir, cetakan Jum’iyyah Ihya At-Turats Al-Islamiy, jilid ke-4, halaman 2812)

Doa agar Terhindar dari Sifat Bakhil dan Kikir

Beberapa doa yang bisa kita baca dan amalkan agar bisa terhindar dari sifat bakhil dan kikir, di antaranya adalah:

اللَّهُمَّ قِنِي شُحَّ نَفْسِي وَاجْعَلْنِي مِنَ الْمُفْلِحِينَ

“Ya Allah, jauhkanlah jiwaku dari sifat kikir, dan jadikanlah aku termasuk orang-orang yang beruntung.” (Doa ini disarikan dari Surat At-Taghabun, ayat ke-16)

اللَّهُمَّ إنِّي أَعوذُ بِكَ مِنَ الجُبْنِ، وَأعُوذُ بِكَ مِنَ البُخْلِ، وَأعُوذُ بِكَ مِنْ أنْ أُرَدَّ إِلَى أَرْذَلِ العُمُرِ، وَأعُوذُ بِكَ مِنْ فِتْنَةِ الدُّنْيَا وَعَذَابِ القَبْرِ

“Ya Allah, sesungguhnya aku berlindung kepadaMu dari sifat pengecut, aku berlindung kepadaMu dari sifat bakhil, aku berlindung kepadaMu dari dikembalikan kepada umur yang paling hina (masa pikun), dan aku berlindung kepadaMu dari fitnah dunia dan dari adzab kubur.” (HR Al-Bukhari)

Referensi:
Tafsir Ibnu Katsir, karya Imam Ibnu Katsir, cetakan Jum’iyyah Ihya At-Turats Al-Islamiy
Kitab Ad-Du’a min Al-Kitab wa As-Sunnah, karya Syaikh Sa’id bin ‘Ali bin Wahf Al-Qahthani
Syarh Riyadhush Shalihin, karya Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin, penerbit Alfa


Sumber: http://www.ypiis.com/

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s