‘Abdullah bin Ja’far bin Abi Thalibرضي الله عنهما Putra Mujahid Mu’tah

 

Hasil gambar untuk abdullah bin ja'far bin abi thalibTokoh Islam ini terlahir di bumi Habasyah (Abessina), ketika kaum Muslimin pergi ke wilayah di benua Afrika itu demi menyelamatkan aqidah Islam mereka. Sementara ayahnya adalah Ja’far bin Abi Thalib رضي الله عنه, sepupu Nabi Muhammad صلى الله عليه وسلم, seorang mujahid fi sabilillah yang mendapatkan kemuliaan mati syahid di Perang Mu’tah yang terjadi pada tahun ke-8 H,    ketika kaum Muslimin melawan bangsa Romawi. Sebuah peperangan yang fenomenal yang diakhiri dengan kemenangan gemilang dari Allah عزّوجلّ bagi kaum Muslimin yang waktu itu hanya berjumlah  30 ribu personel melawan 200 ribu pasukan orang kafir.[1]

Sedangkan sang ibu, bernama Asma’ binti ‘Umais al-Khats’amiyyah رضي الله عنها, seorang wanita mulia yang juga termasuk rombongan Muhajirin pertama ke Habasyah.[2]

Dari dua orang tua mulia ini, lahirlah ‘Abdullah bin Ja’far bin Abi Thalib, Abu Ja’far al-Qurasyi al-Hasyimi. la adalah orang yang paling akhir wafatnya dari Bani Hasyim yang pernah melihat Nabi Muhammad صلى الله عليه وسلم. Masuk dalam klasifikasi shigharu ash-Shahabah, Sahabat-sahabat Nabi yang berusia kanak-kanak di masa hidup Rasulullah صلى الله عليه وسلم. Memiliki 13 hadits yang diriwayatkannya dari Nabi صلى الله عليه وسلم.[3]

Imam Ibnu Katsir رحمه الله menyebutkan bahwa ‘Abdullah bin Ja’far رضي الله عنهما ini telah berbaiat kepada Nabi صلى الله عليه وسلم ketika berusia 7 tahun.[4]

 

 

Perhatian Nabi صلى الله عليه وسلم terhadap keluarga Ja’far رضي الله عنه

Allah عزّوجلّ menakdirkan Ja’far bin Abi Thalib رضي الله عنه, ayah ‘Abdullah, sebagai salah satu dari tiga komandan pasukan Muslimin yang syahid di Perang Mu’tah. Setelah sang ayah memperoleh kemuliaan menjadi syahid dalam Perang Mu’tah, ‘Abdullah bin Ja’far رضي الله عنهما hidup di bawah pengasuhan dan tanggungan Nabi صلى الله عليه وسلم.

Rasulullah صلى الله عليه وسلم mendoakan ‘Abdullah bin Ja’far رضي الله عنهما, dengan berkata:

اللَّهُمَّ اخْلُفْ جَعْفَرًا فِي أَهْلِهِ وَبَارِكْ لِعَبْدِ اللَّهِ فِي صَفْقَةِ

“Ya Allah, gantikanlah Ja’far dalam mengurus keluarganya dan berikanlah barakah bagi Allah dalam perniagaannya”.[5]

Sang dermawan, putra si dermawan

Al-jawwad ibnul jawwad, sang dermawan putra si dermawan, demikianlah salah satu pujian dan gelar yang dicatat Imam adz-Dzahabi رحمه الله bagi ‘Abdullah bin Ja’far bin Abi Thalib رضي الله عنهما. Sang ayah, Ja’far bin Abi Thalib رضي الله عنه memang sudah populer dengan kedermawanannya.[6]

Abu Hurairah رضي الله عنه mengatakan, “Orang yang paling baik terhadap kaum miskin adalah Ja’far bin Abi Thalib. la sering mengajak kami ke rumah dan memberi kami makanan yang ada di rumahnya”.[7]

Demikian pula ‘Abdullah bin Ja’far رضي الله عنهما juga mempunyai kisah-kisah yang banyak tentang kedermawanan, sedekah dan kegemarannya membantu sesama. Di antaranya, ia pernah memberi bantuan kepada seseorang sebanyak 4 ribu dinar.

Pujian ‘Abdullah bin Ja’far رضي الله عنهما terhadap Abu Bakar ash-Shiddiq رضي الله عنه.

Dari Ja’far bin Muhammad dari ayahnya dari ‘Abdullah bin Ja’far رضي الله عنهما, ia berkata, “Pemimpin kami, Abu Bakar, adalah sebaik-baik khalifah. la orang yang paling besar kasihnya kepada kami dan paling sayang kepada kami”.[8]

Orang yang disebut Imam adz-Dzahabi رحمه الله sebagai sayyid dan ‘alim serta pantas memegang kendali khilafah ini menegaskan kepada umat bahwa sebaik-baik khalifah adalah Abu  Bakar  ash-Shiddiq رضي الله عنه,  pendamping  setia  Rasulullah صلى الله عليه وسلم. Dengan demikian, umat pun mesti menyadari dan paham bahwa sebaik-baik manusia setelah para nabi dan rasul adalah Abu Bakar ash-Shiddiq رضي الله عنه.

Wafat tahun 80 H

‘Abdullah bin Ja’far رضي الله عنهما wafat pada tahun 80 H. Dan gubernur Madinah waktu itu, Aban bin ‘Utsman رحمه الله memimpin shalat terhadap jenazahnya.

Mari kita kenali para Sahabat Nabi صلى الله عليه وسلم !

 

[1]     Lihat Raudhatul Anwari fi Sirati an-Nabiyyil al-Mukhtar, Shafiyyur Rahman al-Mubarakfuri hlm. 282-284.

[2]     Siyaru A’lamin Nubala II/282-283.

[3]     Al-Biddyah wan Nihdyah 9/29.

[4]     Al-Bidayah wan Nihayah 9/28.

[5]     HR. Ahmad dengan isnad hasan sesuai dengan syarat Muslim.

[6]     Siyaru A’lamin Nubala III/456.

[7]     Riwayat al-Bukhari dalam Shahihnya no.3581.

[8]     Asy-Syar’iah 2/440.


Sumber: http://www.ibnumajjah.com

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s