PERADABAN ISLAM PADA MASA DINASTI BUWAIHIYAH DAN DINASTI SALJUKIYAH

 

  1. Hasil gambar untuk peradaban islamPENDAHULUAN

Pada masa kekuasaan Dinasti Abbasiyah, umat Islam mencapai puncak kebudayaan dan peradaban. Dimana dalam catatan sejarah Dinasti Abbasiyah juga muncul dinasti-dinasti kecil, diantaranya ialah Dinasti Buwaihiyah dan Dinasti Saljukiyah. Munculnya kedua dinasti tersebut tidak lepas dari melemahnya kepemerintahan Abbasiyah.

Antara Dinasti Buwaihiyah dan Saljukiyyah  masing-masing mempunyai peran andil selama kekuasaan Dinasti Abbasiyah, yaitu dinasti Buwaihiyah berperan dalam melemahkan dan mempersempit ruang kekuasaan dinasti Abbasiyyah, serta dinasti Saljukiyyah mampu memperkuat serta mempertahankan kelangsungan dinasti Abbasiyyah, disebabkan perbedaan paham dalam keagamaan, dinasti Buwaihiyah menganut paham Syiah sedangkan dinasti Saljukiyah menganut paham Sunni, sementara Abbasiyah sendiri menganut paham Sunni.

Terlepas dari adanya perbedaan pemahaman serta aspek-aspek lainnya, dari kedua dinasti tersebut banyak kemajuan-kemajuan yang dicapai pada masa kekuasaanya.

  1. PEMBAHASAN
  • Dinasti Buwaihi (333 H/945 M-447 H/1055 M)
  1. Sejarah Berdiri Dinasti Buwaihi

Dinasti Buwaihi didirikan oleh tiga bersaudara, yaitu Ali bin Buwaihi, Hasan bin Buwaihi, dan Ahmad bin Buwaihi, yang mendapat gelar dari Khalifah Al-Mustakil sebagi: Imad al-Daulah (Fondasi Negara), Rukh al-Daulah (Penyangga Negara), dan Muizz al-Daulah (Penegak Negara).[1]

Perjalanan dinasti ini dapat dibagi dalam dua periode. Pertama, merupakan periode pertumbuhan dan konsolidasi, sedangkan perode kedua adalah periode defensif, khususnya di wilayah Irak dan Iran Tengah. Dinasti ini mengalami perkembangan pesat ketika Dinasti Abbasiyah di Baghdad milai melemah dan mengalamai kemunduran ketika pengaruh Tugrul Beg dari Dinasti Saljuk mulai meningkat. Peninggalan diansti ini antara lain berupa observatorium di Baghdad dan sejumlah perpustakaan di Syiraz dan Isfahan.[2]

Dari awal dinasti ini yang berlangsung hingga satu seperempat abad memerintah, daulah ini telah diperintah oleh 11 orang penguasa. Para penguasa tersebut adalah sebagai berikut:

  1. Ibnu Ahmad Buwaihi (Mu’iz al-Daulah) tahun 334-356 H
  2. Bakhtiar (Izz al-Daulah) tahun 356-367 H
  3. Abu Syuja’ Khusru (Adhdu al-Daulah) tahun 367-372 H
  4. Abu Kalyajar (Shamsham al-Daulah) tahun 372-376 H
  5. Abu Fawarits (Syiraf al-Daulah) tahun 376-379 H
  6. Abu Nashr Fairus (Baha’ al-Daulah) tahun 379-403 H
  7. Abu Syuja’ (Sulthon al-Daulah) tahun 403-411 H
  8. Musyrif al-Daulah tahun 411-416 H
  9. Abu Thahir (Jalal al-Daulah) tahun 416-435 H
  10. Abu Kalyajar al-Marzuban (Imad ad-Daulah) tahun 435-440 H
  11. Abu Nashr Kushr (al-Malik al-Rahim) tahun 440-447 H[3]

 

  1. Masa Kehancuran Dinasti Buwaihi

Ada dua faktor yang menyebabkan hancurnya Dinasti Buwaihiyah yaitu faktor internal dan eksternal. Faktor internal antara lain:

  • Perebutan kekuasaan di kalangan keturunan bani Buwaihiyah
  • Pertentangan dalam tubuh militer antara golongan Dailam dan keturunan Turki.
  • Perpecahan antara kalangan anak cucu penguasa, yang berdampak kepada peperangan di antara mereka.
  • Munculnya kekuatan lain yang ingin memisahkan diri dari kekuasaan Dinasti Buwaihiyah.

Adapun faktor eksternal antara lain:

  • Semakin gencarnya serangan Byzantium ke dunia Islam.
  • Banyak dinasti-dinasti kecil yang membebaskan diri dari kekuasaan pusat di Baghdad.
  • Mulai adanya serangan dari Dinasti Saljuk.[4]

 

  1. Momentum-Momentum Penting Selama Dinasti Buwaihiyah
  • Bidang Ilmu Pengetahuan. Khalifah al-‘Adhud mendukung terhadap perkembangan ilmu pengetahuan dan sastra, yang itu diikuti oleh putranya, Syaraf al-Daulah. Ilmuwan yang muncul antara lain Ibnu Maskawih, Abu al-A’la al-Ma’ari, Abd al- Rahman al-Shufi dan kelompok Ikhwan al-Shafa.
  • Bidang Pembangunan: kanal-kanal, masjid, sekolah, rumah sakit, lembaga penyantun dan observatorium. Baha’ al-Daulah bersama wazirnya, Sabur ibn Ardasyir membangun di Baghdad akademi lengkap dengan perpustakaan yang menyimpan 10.000 buku yang berada di Bain al-Surain, yang bernama Dar al-Ilm.
  • Pembangunan rumah sakit Bimaristan al-‘Adhudi ( Academic of Learning) tahun 978 M yang memiliki 24 tenaga medis dan dijadikan sebagai pusat studi kedokteran.
  • ‘Adhud al-Daulah berhasil mempersatukan beberapa wilayah kerajaan kecil di Persia dan Irak.[5]
  • Banyak diskusi-diskusi ilmiah yang dilakukan tidak hanya di masjid-masjid atau rumah-rumah pribadi, melainkan di kedai-kedai, alun-alaun, dan taman-taman kota serta banyaknya toko buku yang menjamur di Baghdad selama masa Abbasiyah.[6]
  • Pada zaman pemerintahan adhdu al-Daulah hubungan dengan khalifah al-tha’i waktu itu dinilai harmonis. Pada masa ini pula penguasa buwaihi mulai memakai gelar al-malik. Kota lain yang maju pada zaman bani Buwaihi ini selain kota Baghdad adalah kota Syiraz dan Ray.
  • Kemajuan-kemajuan di atas, juga diikuti oleh kemajuan perdagangan, bidanng ekonomi, pertanian, dan industry. Khusus kaitanya dengan industry ini pada saat itu industri permadani kembali terwujud. Kemajuan-kemajuan yang dicapai tersebut tentu ditopang oleh stabilitas politik dan keamanan yang mantap. Sehingga dengan situasi kondusif itu menjadikan kuat danhidupnya banyak sector perekkonommian yang menopang ekonomi dan ketahanan negara.[7]
  • Dinasti Saljuk (469 H/1077 M-706 H/1307 M)
  1. Sejarah Berdiri Dinasti Saljuk

Dinasti Saljuk merupakan salah satu dinasti yang utama dari bangsa Turki dan banyak perkembangan yang signifikan yang terjadi pada masa pemerintahan dinasti ini.[8]

Dinasti Saljuk didirikan oleh Seljuk bin Duqaq dari suku Guzz di Turkestan, yang menguasai Asia Barat daya pada abad ke ke-11 yang akhirnya mendirikan sebuah kekaisaran yang meliputi kawasan Mesopotamia, Suriah, Palestina, dan sebagian besar Iran. Akan tetapi, tokoh yang dipandang sebagi pendiri Dinasti Saljuk yang sebenarnya adalah Tugril Beg, karena ia berhasil memperluas wilayah kekuasaan Dinasti Saljuk dan mendapat pengakuan dari Dinasti Abbasiyah.

Dinasti ini dibagi menjadi lima cabang, yaitu Saljuk Iran, Saljuk Turki, Saljuk Kirman, Saljuk Asia Kecil dan Saljuk Suriah.[9]

Peninggalan dinasti ini adalah Kizil Kule (Menara Merah) di Alanya, Turki Selatan, yang merupakan pangkalan pertahanan Bani Saljuk dan Masjid Jumar di Isfahan, Iran.[10]

  1. Raja-raja yang Berkuasa
  • Thugril Bek Rahimahullah (455 H/1063 M)
  • Alp Arselan Rahimahullah (455-465 H/1063-1072 M)
  • Maliksyah (465-485 H/1072-1092 M)
  • Mahmud Al-Ghazi (485-487 H/1092-1094 M)
  • Barkiyaruq (487-498 H/1094-1103 M)
  • Maliksyah II (498 H/1103 M)
  • Abu Syuja’ Muhammad (498-511 H/1103-1117 M)
  • Abu Harits Sanjar (511-522 H/1117-1128 M)[11]

 

  1. Masa Kehancuran Dinasti Saljuk

Dinasti Saljuk mengalami masa kehancuran tatkala meninggalnya Sultan Maliksyah disusul oleh perdana menterinya Nizam al-Mulk pada tahun 1092 M.[12]

Setelah kematian Sultan Maliksyah maka kepemimpinan dilanjutkan oleh Burqiyaraq, kemudian silih berganti kepemimpinan hingga pada masa Muhammad Abu Syuja’ (1117-1128 M) inilah Dinasti Saljuk mengalami kehancuran, ditandai dengan jatuhnya kekuasaan Saljuk di Turkistan oleh Khawarizm. Dari sinilah maka kesultanan Saljuk yang dahulu besar kini menjadi kesultanan-kesultanan kecil, yang mereka tidak menyatakan tunduk di bawah satu kesultanan besar, sebagaimana yang terjadi pada masa pemerintahan Thugrul Baek I, Aib Arselan dan Sultan Maliksyah.[13]

Adapun faktor-faktor kehancuran Dinasti Saljuk antara lain:

  • Perselisihan yang terjadi di dalam keluarga Saljuk.
  • Masuknya pengaruh kaum wanita dalam pemerintahan.
  • Munculnya api fitnah oleh para pejabat negara.
  • Ketidakmampuan pemerintahan Saljuk dalam menyatukan wilayah Syam, Mesir dan Irak di bawah panji kekuasaan Bani Abbas.
  • Terjadinya friksi di dalam kekuasaan Saljuk hingga menimbulkan bentrok militer yang terus menerus.
  • Konspirasi orang-orang aliran Bathiniyah terhadap Dinasti Saljuk.
  • Terjadinya perang Salib.[14]

 

 

  1. Momentum-Momentum Penting Selama Dinasti Saljuk
  • Dalam bidang keagamaan, Nidham al-Muluk mendirikan sekolah-sekolah yang disebut dengan, Madaris Nidhamiyyah. Al-Ghazali merupakan salah satu pengajar di sekolah-sekolah ini dan berjasa dalam memformulasikan paham Sunni.[15]
  • Terdapat dua aliran besar yang memandang dunia dengan cara berbeda, yang oleh Watt disebut dengan mentalitas Arab dan mentalitas Persia.
  • Perkawinan antara kalangan kaum Saljuk dengan kalangan bani Abbasiyah terjadi ketika Khalifah Al-Qa’im menikah dengan anak saudara Tughrul Bey, Al-Asfahani mengatakan bahwa pada bulan Muharram tahun 448 H, Khalifah telah berakad untuk menikah dengan saudara Tughrul Bey, Khadijah binti Daud bin Mika’il, dengan tujuan untuk memuliakan serta menyanjung Tughrul Bey, serta Khalifah al-Muqtadi juga telah mengawini putri Sultan Maliksyah tahun 475 H.
  • Penaklukkan Asia Kecil di antara pertempuran-pertempuran bersejarah ialah pertempuran Malazkurd, antara Saljuq melawan Romawi. Dimana sebelumnya Maharaja Romanus Diogeses menolak untuk berdamai dan menentang Alb Areslan.

Sikap Maharaja tersebut telah mendorong kaum Saljuk untuk mati-matian bertempur, hingga akhirnya kemenangan berada di tangan kaum Saljuk, dan Romanus bersedia untuk mengikat perdamaian.[16]

  • Dinasti Saljuk mampu mencegah rencana penyatuan wilayah Timur Arab oleh pemerintahan Fathimiyah/Ubaidiyah di Mesir untuk berada di bawah satu payung pemerintahan mereka yang Syiah.
  • Mampu menghadang gerakan Salibisme yang dipimpin imperium Byzantium, sebagaimana mereka juga telah berusaha untuk menghadang gelombang serbuan Mongolia.
  • Mampu mengangkat tingi-tinggi panji-panji madzhab Sunni di wilayah-wilayah kekuasaannya.[17]
  • Terdapat kelompok-kelompok yang menimbulkan ketakutan di negeri-negeri wilayah Saljuk, diantaranya ialah kelompok Hasysyasyin yang terkenal dengan perbuatan kejam, menipu dan membunuh yang di ketuai oleh Hasan bin Sabah, yang dalam bahasa Inggris disebut dengan Assasins yang berarti pembunuh atau penumpah darah.
  • Pembangunan gedung-gedung besar yang dihiasi oleh ukiran-ukiran cantik dan gambar-gambar yang warna-warni, juga pembangunan kota Bukhara dan Tembok Madinah, serta membangun sebuah masjid di Samarkand yang indah dan dua buah mahligai yang besaar. [18]

 

 

  1. PENUTUP

Berdasarkan uraian dan paparan di atas, dapat dikemukakan analisis dan catatan penutup sebabagi berikut.

Pertama, Dinasti Buwaihi merupakan bani perpaham Syi’ah yang telah berkuasa secara defacto atas dinasti Abbasiyah selama satu seperempat Abad. Namun dalam kekuasaannya pada masa khalifah-khalifah Abbasiyah tertentu melebihi khalifah Abbasiyah, hal ini disebabkan karena lemahnya figur kepemimpinan khalifah-khalifah Abbasiyah. Bahkan khalifah bagi mereka hanyalah seperti boneka. Dinasti ini hanya mengalami kejayaan pada 3 anak Buwaihi dan Adhdu al-Daulah. Namun mengalami kehancuran karena banyaknya pertikaian dan saling menggulingkan antara sesama amîr.

Kedua, Dinasti Saljuk dirintis oleh Saljuk ibn Tuqaq, yang kemudian dideklarasikan pada masa Thugrul Bek yang mendapat pengakuan dari khalifah al-Qaim. Dinasti ini telah memberikan sumbangan yang besar terhadap peradaban Islam, yang telah menjadikan dunia Islam sebagai pusat ilmu pengetahuan dan peradaban. Dinasti Saljuk mengalami masa kemunduran yang disebabkan oleh faktor internal, terjadi perebutan kekuasaan antara anggota keluarga. Disamping itu faktor ekstemal juga yaitu terjadinya penyerangan oleh tentara Romawi.

Kehancuran Dinasti Saljuk merupakan tonggak kehancuran Daulah Abbasiyah secara nyata, walaupun dalam 400 tahun sebelum itu benih-benih kemundurannya ini sudah terlihat.

 

 

DAFTAR PUSTAKA

 

Abdurrahman, Dudung (et.al). 2003. Sejarah Peradaban Islam: Dari Masa Klasik Hingga Modern. Yogyakarta: Fakultas Adab IAIN Sunan Kalijaga

Fu’adi, Imam. 2011. Sejarah Peradaban Islam. Yogyakarta: Teras

Khoiriyah. 2012. Reorientasi Wawasan Sejarah Islam. Yogyakarta: Teras

Muhammad Ash-Shalabi, Ali. 2004. Bangkit dan Runtuhnya Khilafah Utsmaniyah Terj. Samson Rahman. Jakarta: Pustaka Kautsar, cet. II

Munir Amin, Samsul. 2010. Sejarah Peradaban Islam. Jakarta: Amzah

Nata, Abuddin. 2012. Sejarah Sosial Intelektual Islam dan Institusi Penddikannya. Jakarta: PT. RajaGrafindo Persada

Syalabi, A. 2003. Sejarah dan Kebudayaan Islam 3 Terj. Muhammad Labib Ahmad. Jakarta: PT. Pustaka Al Husna

Syukur al-Azizi, Abdul. 2014. Kitab Peradaban Islam Terlengkap. Jogjakarta: Saufa.

[1] Abuddin Nata, Sejarah Sosial Intelektual Islam dan Institusi Penddikannya (Jakarta: PT. RajaGrafindo Persada, 2012) hlm.  224

[2] Samsul Munir Amin, Sejarah Peradaban Islam (Jakarta: Amzah, 2010) hlm. 277-278

[3] Imam Fu’adi, Sejarah Peradaban Islam (Yogyakarta: Teras, 2011) hlm. 189-190

[4] Khoiriyah, Reorientasi Wawasan Sejarah Islam ( Yogyakarta: Teras, 2012) hlm. 147-148

[5] Khoiriyah, Ibid hlm. 146-147

[6] Abuddin Nata, Op.Cit hlm. 228-229

[7] Imam Fu’adi, Op.Cit hlm. 191-193

[8] Abdul Syukur al-Azizi, Kitab Peradaban Islam Terlengkap (Jogjakarta: Saufa, 2014) hlm. 394

[9] Samsul Munir Amin, Sejarah Peradaban Islam (Jakarta: Amzah, 2010) hlm. 278

[10] Ibid, hlm. 278

[11] Khoiriyah, Op.Cit hlm. 160-161

[12] Khoiriyah, Ibid, hlm. 163

[13] Ali Muhammad Ash-Shalabi, Bangkit dan Runtuhnya Khilafah Utsmaniyah Terj. Samson Rahman (Jakarta: Pustaka Kautsar, 2004 cet. II) hlm. 35-36

[14] Ali Muhammad Ash-Shalabi, Ibid. hlm. 36-37

[15] Dudung Abdurrahman, dkk., Sejarah Peradaban Islam: Dari Masa Klasik Hingga Modern (Yogyakarta: Fakultas Adab IAIN Sunan Kalijaga, 2003), hlm. 136-137

[16] Ahmad Shalabi, Sejarah dan Kebudayaan Islam 3 Terj. Muhammad Labib Ahmad (Jakarta: PT. Pustaka Al Husna, 2003) hlm. 285-286

[17] Ali Muhammad Ash-Shalabi, Loc. Cit hlm. 37

[18] Ali Muhammad Ash-Shalabi, Op.Cit hlm. 287-289


Sumber : Makalah Sejarah Peradaban Islam (SPI) IAIN Pekalongan, dipresentasikan pada 26 Oktober 2016

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s