PENDIDIKAN AKHLAK “KEWAJIBAN ORANG TUA MENDIDIK AKLAK KEPADA ANAKNYA”

Hasil gambar untuk kewajiban mendidik anakBAB I

PENDAHULUAN

Anak adalah amanah Allah SWT kepada ayah dan ibunya, oleh karena itu harus senantiasa dipelihara, dididik dan dibina dengan sungguh-sungguh agar tetap sesuai dengan koridor yang agama inginkan.

Maka kewajiban orang tua terhadap anaknya tidak hanya sebatas yang berhubungan dengan duniawi, akan tetapi lebih dari itu orang tua wajib mengarahkan anak-anaknya agar mereka mengerti bahwa hidup di dunia harus sesuai dengan kehendak pencipta-Nya, yaitu Allah SWT. dengan cara menjalankan perintah dan menjauhi larangan.

Firman Allah SWT :

يايُّهَا الَّذِيْنَ امَنُوْا قُوْآ اَنْفُسَكُمْ وَ اَهْلِيْكُمْ نَارًا وَّقُوْدُهَا النَّاسُ وَ اْلحِجَارَةُ عَلَيْهَا مَلئِكَةٌ غِلاَظٌ شِدَادٌ لاَّ يَعْصُوْنَ اللهَ مَآ اَمَرَهُمْ وَ يَفْعَلُوْنَ مَا يُؤْمَرُوْنَ. التحريم:6

Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu, penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, keras, tidak mendurhakai (perintah) Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan. (QS. At-Tahrim : 6)

Dengan ayat tersebut menunjukkan bahwa orang tua mempunyai tanggung jawab yang berat terhadap anaknya. Diantara tanggung jawab itu adalah memberikan nama yang baik dan mendidiknya dengan baik pula.

Insyaallah dalam pembahasan makalah ini akan dibahas dua hal tersebut dengan harapan kita dapat mengambil manfaat darinya untuk kebaikan di dunia dan di akhirat. Amin.

BAB II

PEMBAHASAN 

  1. Hadits Tentang Kewajiban Orang Tua Mendidik Akhlak Kepada Anaknya (3)

(ج) عن ابن عباس أنهم قالوا يا رسول الله قد علمنا حق الوالد على الولد فما حق الولد على الوالد قال   أن يحسن  اسمه ويحسن أدبه (أخرجه البيهقى فى شعب الإيمان : الستون من شعب الإيمان وهو الباب فى حقوق الأولاد والأهلين, حديث رقم 8658)

Dari Ibnu Abbas r.a, bahwa mereka (para sahabat) bertanya: Sungguh‎‏ ‏kami telah ‎mengetahui hak orang tua atas anak, lalu apa hak anak atas orang tua ? ‎Rasulullah SAW bersabda memberi nama baik dan mendidiknya dengan baik (HR. Baihaqiy)‎

 

  1. Penjelasan Hadits

Hadits di atas memberikan penjelasan bahwa anak adalah karunia sekaligus amanat Allah kepada setiap orang tua. Anak dilahirkan dalam keadaan sangat lemah dan belum mengetahui apa-apa.  Oleh karena itu agar anak dapat tumbuh dan berkembang dengan baik, maka orang tua harus merawat, menjaga, dan mendidik mereka dengan sebaik-baiknya.[1]

Diantara kewajiban orang tua yang disebutkan hadits ini ialah memberikan nama yang baik dan mendidik dengan baik. M. Quraish Shihab dalam buku 1001 Soal Keislaman Yang Patut Anda Ketahui menjelaskan bahwa nama diberikan kepada anak agar nama tersebut menjadi doa untuknya, atau mengingatkan sang anak pada sesuatu yang berkaitan dengan namanya, dan atau agar dia meneladani tokoh yang bernama seperti itu.[2]

Sementara kewajiban yang kedua, Rasulullah memerintahkan orang tua untuk mendidik semua anaknya dengan cara yang sebaik-baiknya. Hal ini sangat diperlukan agar anak dapat tumbuh dan berkembang dengan baik dalam seluruh aspeknya. Pendidikan ini diperlukan agar anak sukses dalam kehidupan di dunia dan menjadi anak sholeh yang senantiasa mendoakan kedua orang tuanya.[3]

 

  1. Tuntunan Pemberian Nama Dalam Islam
  2. Urgensi Pemberian Nama Terbaik

Nama dalam bahasa Arab adalah أسم (isim). Arti dari bias bermakna ‘alamat (tanda), assamuu (sesuatu yang tinggi). Sehingga isim (nama) adalah tanda yang tertinggi (mencolok) pada seseorang.

Allah SWT. berfirman:

يَا زَكَرِيَّا إِنَّا نُبَشِّرُكَ بِغُلامٍ اسْمُهُ يَحْيَى لَمْ نَجْعَلْ لَهُ مِنْ قَبْلُ سَمِيًّا

Hai Zakaria, sesungguhnya Kami memberi kabar gembira kepadamu akan (beroleh) seorang anak yang namanya Yahya, yang sebelumnya Kami belum pernah menciptakan orang yang serupa dengan dia. (Q.S Maryam: 7)

Dan hakikat pemberian nama kepada anak adalah agar  ia dikenal serta memuliakannya. Oleh sebab  itu  para  ulama  bersepakat  akan  wajibnya  memberi  nama  kapada  anak  laki-laki  dan perempuan. Oleh  sebab  itu  apabila  seseorang  tidak  diberi  nama,  maka  ia  akan  menjadi seorang yang majhul (tidak dikenal) oleh masyarakat.[4]

 

  1. Waktu Pemberian Nama
  2. Memberikan nama kepada anak pada saat ia lahir

       Dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu ia berkata, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

وُلِدَ لِيَ اللَّيلَةَ غُلَامٌ فَسَمَّيْتُهُ بِاسْم أبِي إِبْرَاهِيمَ

Pada suatu malam, aku dianugrahi seorang bayi dan aku namai ia dengan nama ayahku, yakni Ibrahim.” (HR. Muslim)

  1. Memberikan nama kepada anak pada hari ketujuh

Samurah bin Jundub radhiallahu ‘anhu bahwasannya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

كلُّ غُلَامٍ رَهِينَةٌ بِعَقِيقَتِهِ تُذبَحُ عَنهُ يَومَ سَابِعِهِ وَ يُحلَقُ رَأْسُهُ وَ يُسَمَّى

 

“Setiap bayi tergadai dengan aqiqahnya yang disembelih pada hari ketujuh, dicukur rambutnya dan diberi nama pada hari itu juga.”

(HR. Abu Daud, An Nasai, Ibnu Majah, Ahmad. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih)[5]

 

  1. Pemberian Nama Kepada Anak Adalah Kewajiban Bapak.

Tidak  ada  perbedaan  pendapat  bahwasannya  seorang  bapak  lebih  berhak  dalam memberikan nama kepada anaknya dan bukan kepada ibunya. Hal ini sebagaimana telah tsabit (ketetapan) dari para sahabat radhiallahu ‘anhum bahwa apabila mereka mendapatkan anak maka mereka pergi kepada Rasulullah  shalallahu  ‘alaihi wa  sallam  agar Rasulullah  shalallahu  ‘alaihi wa  sallam memberikan nama kepada anak-anak mereka. Hal  ini menunjukkan bahwa kedudukan bapak lebih tinggi daripada ibu.

 

  1. Nasab Anak Kepada Bapak Bukan Kepada Ibu

Allah Ta’ala berfirman:

…….. ادْعُوهُمْ لآبَائِهِمْ هُوَ أَقْسَطُ عِنْدَ اللَّهِ

Panggillah mereka (anak-anak angkat itu) dengan (memakai) nama bapak-bapak mereka; itulah yang lebih adil pada sisi Allah”.…..(Q.S Al-Ahzab: 5)

Oleh karena  itu manusia pada hari kiamat akan  dipanggil dengan nama bapak-bapak mereka: “Fulan bin fulan”. Hal ini sebagaimana diterangkan dalam hadits dari Ibnu ‘Umar r.a dari Nabi SAW.[6]

 

  1. Memilih Nama Terbaik Untuk Anak
  2. Disukai Memberikan Nama  Dengan  Dua  Suku  Kata

Misalnya Abdullah,  Abdurrahman. Kedua  nama  ini  sangat  disukai  oleh  Allah  Subhanahu Wa  Ta’ala sebagaimana diterangkan oleh Nabi Shalallahu ‘alaihi wa sallam yang diriwayatkan oleh Imam Muslim, Abu Dawud dll. Kedua nama ini menunjukkan penghambaan kepada Allah Azza wa Jalla.

  1. Disukai Memberikan Nama Dengan Nama-nama Penghambaan Kepada Allah Dengan Nama-nama-Nya Yang Indah (Asma’ul Husna)
  2. Disukai Memberikan Nama Kepada Seorang Anak Dengan Nama-nama Para Nabi.

Diriwayatkan dari Yusuf bin Abdis Salam, ia berkata: ”Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa sallam memberikan  nama  kepadaku Yusuf”  (HR.  Bukhori, dalam Adabul Mufrod; At-Tirmidzi, dalam Asy-Syama’il). Berkata Ibnu Hajjar Al-Asqolaniy: Sanadnya Shohih.

  1. Memberikan Nama Kepada Seorang Anak Dengan Nama-nama Orang  Sholih Dari Kalangan Kaum Muslimin.

Telah  tsabit dari hadits Mughiroh bin Syu’bah  radhiallahu ‘anhu dari Nabi Shalallahu ‘alaihi wa sallam, ia bersabda yang artinya:

“Sesungguhnya mereka memberikan nama (pada anak-anak mereka) dengan nama-nama para nabi dan orang-orang sholih” (HR. Muslim).[7]

 

 

  1. Kewajiban Mendidik Anak

     Para ahli pendidikan berpendapat bahwa mendidik itu tidak sama dengan mengajar. Seorang pendidik harus bisa menciptakan tiga aspek dalam suasana pendidikan, yaitu aspek kognitif (pen-transfer ilmu), aspek afektif (motivator) dan aspek psikomotorik (guru membuat suasana).[8]

Oleh karena itu, orang tua yang ingin  menjadi pendidik (murabby) yang baik bagi anaknya, hendaknya memiliki sifat-sifat sebagai berikut.

  1. Menjadi Contoh dan Teladan

Dalam proses pendidikan, tidak dapat dilupakan bahwa keteladanan adalah hal yang paling berat namun juga merupakan komponen yang mengantarkan pada keberhasilan. Oleh sebab itu, sudah selayaknya bagi orang tua untuk senantiasa memberikan contoh dan keteladanan yang baik kepada anaknya..[9]

Allah SWT. Berfirman :

رَبِّ هَبْ لِي حُكْمًا وَأَلْحِقْنِي بِالصَّالِحِينَ (83) وَاجْعَلْ لِي لِسَانَ صِدْقٍ فِي الْآخِرِينَ (84)

(Ibrahim berdoa), “Ya Tuhanku, berikanlah kepadaku hikmah dan masukkanlah aku ke dalam golongan orang-orang yang saleh, dan jadikanlah aku buah tutur yang baik bagi orang-orang (yang datang) kemudian. (Q.S Asy-Syu’ara: 83-84)

Dalam tafsir Ibnu Katsir dijelaskan bahwa ayat ini mengisahkan tentang permohonan Ibrahim a.s. agar diberi hikmah oleh Tuhannya. Menurut Ibnu Abbas, yang dimaksud dengan hikmah ialah ilmu. Menurut Ikrimah adalah akal. Menurut Mujahid yaitu Al-Qur’an, dan menurut As-Saddi kenabian.

Sementara ayat وَاجْعَلْ لِي لِسَانَ صِدْقٍ فِي الآخِرِينَ menjelaskan mengenai permohonan Ibrahim a.s agar dijadikanlah sebagai tauladan atau buah tutur yang baik sesudahku (generasi selanjutnya) yang selalu diingat dan dianuti dalam kebaikan.

Tujuan dari keteladanan sebagaimana telah dicontohkan oleh Ibrahim a.s ialah agar di dalam diri anak tertanam sifat dan karakter baik bukan malahan terselip citra negatif. Oleh karenanya, disadari atau tidak perkataan dan perbuatan orang tua akan menghipnotis diri anak.[10]

 

  1. Memiliki Keimanan Kokoh dan Teguh

Orang tua yang memiliki keimanan yang kokoh, akan memiliki kesadaran tinggi, bahwa putera-puteri yang dikaruniakan kepadanya adalah amanat Allah SWT. yang akan dipertanyakan di akhirat. Sehingga ia akan memiliki tanggung jawab yang besar dan perhatian yang serius terhadap amanat tersebut.

Allah SWT. berfirman:

لَتُبْلَوُنَّ فِي أَمْوَالِكُمْ وَأَنْفُسِكُمْ وَلَتَسْمَعُنَّ مِنَ الَّذِينَ أُوتُوا الْكِتَابَ مِنْ قَبْلِكُمْ وَمِنَ الَّذِينَ أَشْرَكُوا أَذًى كَثِيرًا وَإِنْ تَصْبِرُوا وَتَتَّقُوا فَإِنَّ ذَلِكَ مِنْ عَزْمِ الْأُمُورِ

 

Kamu sungguh-sungguh akan diuji terhadap hartamu dan dirimu. Dan (juga) kamu benar-benar akan mendengar dari orang-orang yang diberi al-Kitab sebelum kamu dan dari orang-orang yang mempersekutukan Allah, gangguan yang banyak yang menyakitkan hati. Jika kamu bersabar dan bertakwa, maka sesungguhnya yang demikian itu termasuk urusan yang patut diutamakan. (Âli ‘Imrân/3 : 186)

 

  1. Memiliki Ilmu yang Cukup

Orang tua yang ingin keturunannya menjadi dzurriyyatan thoyyibah, akan selalu memberikan ilmu yang banyak, khususnya yang berkaitan dengan anak. Prof. Dr. Zakiyah Darajat berkata: “Anak-anak bukanlah orang dewasa yang kecil, oleh karena itu, agamq yang coock untuk orang dewasa belum tentu cocok bagi anak-anak. Kalau kita ingin supaya agama mempunyai arti bagi anak-anak, hendaklah dsajikan dengan cara yang lebih kongkrit, dengan bahasa yang dipahaminya…..Anak ingin supaya kebutuhannya untuk tahu dapat terpenuhi.

Allah SWT.berfirman:

قُلْ هَلْ يَسْتَوِي الَّذِينَ  يَعْلَمُونَ  وَالَّذِينَ لا يَعْلَمُونَ  إِنَّمَا يَتَذَكَّرُ أُولُو الْأَلْبَاب.

Katakanlah (wahai Muhammad) apakah sama orang-orang yang mengetahui dan orang-orang yang tidak mengetahui. Sesungguhnya orang yang berakallah yang dapat menerima pelajaran. (QS Az Zumar: 9)

 

  1. Berakhlak Mulia

       Akhlak adalah cermin dari kualitas iman seseorang. Rasulullah SAW bersabda:

…أَكْمَلُ الْمُؤْمِنِينَ إِيمَانًا أَحْسَنُهُمْ خُلُقًا….

Orang mukmin yang paling sempurna imannya adalah orang yang paling baik budi pekertinya”………..(H.R Tirmidzi II/315 no. 1172)

اُدْعُ اِلىَ سَبِيْلِ رَبـِّكَ بِاْلحِكْمَةِ وَ اْلمَوْعِظَةِ اْلحَسَنَةِ وَ جَادِلْهُمْ بِالَّتِيْ هِيَ اَحْسَنُ، اِنَّ رَبـَّكَ هُوَ اَعْلَمُ بِمَنْ ضَلَّ عَنْ سَبِيْلــِه وَهُوَ اَعْلَمُ بِاْلمُهْتَدِيـْنَ.

Serulah (manusia) kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik. Sesungguhnya Tuhan-mu Dia-lah yang lebih mengetahui tentang siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan Dia-lah yang lebih mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk. (Q.S An-Nahl : 125)

Seorang yang akan “membidani” lahirnya anak sholeh sudah selayaknya ia harus berakhlak mulia dan terpuji. Ketika para orang tua Yahudi menyuruh anak-anaknya mengikuti dakwah Rasulullah sedangkan mereka sendiri tidak mengikutinya, Allah mencela mereka dengan firmannya:

{أَتَأْمُرُونَ النَّاسَ بِالْبِرِّ وَتَنْسَوْنَ أَنْفُسَكُمْ وَأَنْتُمْ تَتْلُونَ الْكِتَابَ أَفَلا تَعْقِلُونَ (44

 

Mengapa kalian suruh orang lain (mengerjakan) kebajikan, sedangkan kalian melupakan diri kalian sendiri, padahal kalian membaca Al-Kitab (Taurat)? Maka tidakkah kalian berpikir? (Q.S Al-Baqarah: 44)

 

  1. Memanfaatkan Lingkungan

Seorang pendidik yang arif dan bijaksana akan senantaisa memanfaatkan dan memadukan lingkungan dalam proses pendidikan. Sebab lingkungan memuat pesan-pesan pendidikan.[11]

Allah SWT. berfirman:

يُقَلِّبُ اللَّهُ اللَّيْلَ وَالنَّهَارَ إِنَّ فِي ذَلِكَ لَعِبْرَةً لأولِي الأبْصَارِ (44(

“Allah mempergantikan malam dan siang. Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat pelajaran yang besar bagi orang-orang yang mempunyai penglihatan.” (Q.S An-Nur; 44)

  1. Aplikasi dalam Kehidupan
  2. Pemberian sebuah nama yang baik dari orang tua dapat memumbuhkan rasa cinta dan menghormati diri sendiri.
  3. Mengetahui dan memahami arti nama dapat menimbulkan perasaan memiliki, perasaan nyaman, bangga dan perasaan bahwa dirinya berharga.
  4. Senantiasa saling menjaga agar nama anak-anak mereka disebut dan diucapkan baik pula. Sebab tidak jarang, sebuah nama menjadi plesetan atau bahan candaan.[12]
  5. Pendidikan keluarga hendaknya berorientasi kepada akhirat, dengan tidak melupakaan dunia.
  6. Komunikasi yang baik antara orang tua dengan anak secara intensif dapat menanamkan nilai-nilai keimanan dan ketakwaan dalam jiwa anak dengan pendekatan maw’izhah.[13]
  7. Aspek Tarbawi

Dari uraian hadis di atas ada beberapa aspek tarbawi yang dapat kita ambil, diantaranya sebagi berikut:

  1. Nama adalah anugerah dari Tuhan yang harus disyukuri oleh setiap manusia.
  2. Allah telah melarang kepada hambanya untuk tidak memanggil seseorang dengan sebutan yang tidak baik.
  3. Metode pendidikan dalam Islam hendaknya tidak keluar dari jalur Islam itu sendiri, yakni tetap merujuk kepada dua sumber utama Al-Qur’an dan As-Sunnah.
  4. Seorang pendidik harus mempunyai akhlak mulia, dimana setiap tutut kata dan perbuatannya pasti akan diperhatikan dan dicontoh oleh peserta didik.
  5. Anjuran bagi setiap pendidik agar memperhatian kondisi lingkungan tempat ia tinggal, sebab lingkungan merupakan salah satu faktor pendukung sukses atau tidaknya suatu sistem pendidikan.

 

BAB III

SIMPULAN

Kewajiban orang tua menurut hadits di atas terbagi menjadi dua:

  1. Memberikan nama yang baik kepada anak

Islam telah memberikan tuntunan bagi setiap keluarga mengenai pemberian nama kepada anaknya melalui Al-Qur’an dan As-Sunnah. Diantaranya sebagi berikut:

  1. Ulama telah bersepakat mengenai wajibnya pemberian mana bagi setiap laki-laki dan perempuan dengan tujuan agar dia mudah dikenali.
  2. Waktu-waktu yang dicontohkan para salafus shalih ialah ketika bayi itu lahir dan 7 hari setelah kelahirannya.
  3. Memberikan nama kepada anak, hendaknya memakai nama-nama yang baik, tidak bertentangan dengan syari’at.
  4. Mendidik dengan baik.

Terdapat lima sifat yang haus dimiliki oleh orang tua dalam mendidik anak-anak mereka agar dapat menjadi generasi yang sholeh dan sholehah, yaitu:

  1. Dapat menjadi contoh atau tauladan bagi anggota keluarga.
  2. Memiliki keimanan kokoh dan teguh dalam mengarungi kehidupan.
  3. Memiliki ilmu yang cukup, sebagai bekal dalam mengasuh anak-anaknya.
  4. Memiliki akhlak yang mulia, yang dapat dijadikan inspirasi bagi anak-anaknya.
  5. Mampu memanfaatkan lingkungan, dimana ia akan senantiasa berfikir maju searah perkembangn zaman.

DAFTAR PUSTAKA

Al-Qur’an, Al-Qur’an dan Terjemahan, Yayasan Penyelenggara Penterjemah/Penafsiran Al-Qur’an, Departemen Agama RI., Jakarta,1993.

Arfa, Suryani. 2015. Meneladani Keluarga Pilihan. Taujih, Edisi XXXIV, Januari 2015

Mudhofir, Ahmad. 1419 H. Orang Tua Sebagai Murabby Dalam Pendidikan Anak. Risalah Al-Jama’ah, Edisi 107

Muhammad Abdurrahman, Abu. 1428 H. Etika memberi Nama Anak Dalam Islam. Al-Jahra: Maktabah Salafiyah.

Muhammad, Najmuddin. 2011. Tips Membuat Anak Rajin Ibadah Sejak Dini. Yogyakarta: Sabil.

Nasir, Bachtiar. 2016. Masuk Surga Sekeluarga. Jakarta: AQL Pustaka.

Shihab, Quraish. 2008. 1001 Soal Keislaman Yang Patut Anda Ketahui. Jakarta: Lentera Hati.

Suraji, Imam. 2015. Hak dan Kewajiban Dalam Perspektif Etika Islam. Pekalongan: STAIN Press.

Mariani Kartasasmita, Anna. “Pengaruh Nama Pada Anak” http:/www.dakwatuna.com/2008/04/09/494/pengaruh-nama-pada-anak/ diakses pada 25 Pebruari 2017.

[1] Imam Suraji, Hak dan Kewajiban Dalam Perspektif Etika Islam (Pekalongan: STAIN Press, 2015) hlm. 126

[2] Quraish Shihab, 1001 Soal Keislaman Yang Patut Anda Ketahui (Jakarta: Lentera Hati, 2008) hlm. 522

[3] Imam Suraji, Op.Cit, hlm. 127

[4] Abu Muhammad Abdurrahman, Etika memberi Nama Anak Dalam Islam (Al-Jahra: Maktabah Salafiyah, 1428 H) hlm. 2

[5] Abu Muhammad Abdurrahman, Ibid, hlm. 2

[6] Lihat Shahih Bukhori, Bab: Maa Yad’u An-Naas Bi abaihim.

[7] Abu Muhammad Abdurrahman, Op.Cit hlm. 3-4

[8] Ahmad Mudhofir, “Orang Tua Sebagai Murabby Dalam Pendidikan Anak” Risalah Al-Jama’ah, Edisi 107, Muharram 1419 H, hlm. 29

[9] Suryani Arfa, “Meneladani Keluarga Pilihan” Taujih, Edisi XXXIV, Januari 2015, hlm. 15.

[10] Najmuddin Muhammad, Tips Membuat Anak Rajin Ibadah Sejak Dini (Yogyakarta: Sabil, 2011) hlm. 18

[11] Ahmad Mudhofir, Op.Cit hlm. 30-32

[12]Anna Mariani Kartasasmita, Pengaruh Nama Pada Anak http://www.dakwatuna.com/2008/04/09/494/pengaruh-nama-pada-anak/ diakses pada 25 Pebruari 2017

[13] Bachtiar Nasir, Masuk Surga Sekeluarga (Jakarta: AQL Pustaka, 2016) hlm. 59


Sumber: Muhammad Arroyan, Makalah Hadis Tarbawi II, IAIN Pekalongan 2017

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s