Ragam Tradisi Syawalan bagi Masyarakat Jawa

Hasil gambar untuk syawalanMasyarakat Jawa gemar mengungkapkan gambaran keyakinan dan kepercayaan melalui simbol-simbol dan upacara-upacara dalam pelaksanaannya. Itu artinya apa yang dapat ditangkap dan diamati oleh indera manusia tidak cukup sekedar yang tersurat dapat dicerna melalui pikiran spontanitas. Butuh pemahaman dan perenungan lebih lanjut dengan menelusuri kedalaman makna sebenarnya yang juga tersirat, atau bahkan tersembunyi atau sengaja disembunyikan.

Entah karena memang orang Jawa malu berterus terang mengatakan apa adanya atau memang dengan simbol-simbol tersebut orang Jawa merasa nyaman dalam mengungkapkan keinginan dan perasaannya entah itu rasa senang, tenteram, bangga, gembira, sedih, dan menderita. Kondisi ini nampak nyata sekali dalam proses kehidupan sosial kemasyarakatan yang dianggap penting, seperti tradisi selamatan saat anak dikhitan, pernikahan, kehamilan 7 bulan, kelahiran, kematian, peringatan hari lahir, peringatan hari kematian, musim panen, ruwatan, larung sesaji, buang sial, padusan, kirab, dan sebagainya. Semuanya sarat dengan makna-makna simbolis yang muaranya berharap agar selalu diberi keselamatan dan perlindungan dalam kehidupannya.

Syawalan sebagai tradisi
Tradisi syawalan dikenali oleh masyarakat Jawa sebagai rangkaian dari tradisi keagamaan karena dilekatkan pelaksanaannya seminggu setelah Hari Raya Idul Fitri dilaksanakan. Bahkan dibeberapa tempat dinamakan sebagai Bakda Ketupat (Lebaran Ketupat) atau lebaran kedua setelah lebaran utama pada perayaan Idul Fitri 1 Syawal. Berbagai kelompok masyarakat di berbagai daerah mempunyai ciri dan caranya masing-masing dalam memaknai Lebaran Ketupat.

Ketupat dalam bahasa Jawa diterjemahkan dengan “Laku Lepat” yang di dalamnya mengandung empat makna yakni: lebar, lebur, luber dan labur. Lebar artinya luas, lebur artinya dosa/kesalahan yang sudah diampuni, luber maknanya pemberian pahala yang berlebih, dan labur artinya wajah yang ceria. Secara keseluruhan bisa dimaknai sebagai suatu keadaan yang paling bahagia setelah segala dosa yang demikian besar diampuni untuk kembali menjadi orang yang suci dan bersih.

Syawalan di Pekalongan
Hasil penelitian Bagus Ariyanto tentang tradisi syawalan di Krapyak Pekalongan (2010) menyebutkan bahwa tradisi syawalan merupakan tradisi keagamaan yang dilakukan masyarakat Krapyak Kidul, Pekalongan dengan menggunakan simbol-simbol yang diwujudkan dalam perlengkapan tradisi syawalan, yaitu lopis, daun pisang, tali, bambu, dan lotisan. Resepsi masyarakat terhadap makna simbolik tradisi syawalan termasuk dalam kategori tahu dan percaya. Hal ini dibuktikan dari hasil wawancara tak berstruktur terhadap 30 orang narasumber, sebanyak 73,33 % masyarakat menyatakan tahu dan percaya terhadap makna simbolik tradisi syawalan. Mereka tahu dan percaya bahwa lopis merupakan simbol persatuan dan kesatuan masyarakat Krapyak Kidul, daun pisang merupakan simbol perjuangan yang tidak pernah berhenti, tali merupakan simbol hubungan manusia dengan sesamanya, bambu merupakan simbol hubungan manusia dengan Allah SWT, dan lotisan merupakan simbol keberagaman masyarakat Krapyak Kidul.

Tidak jauh beda dengan Krapyak Kidul, warga masyarakatnya menggelar syawalan dengan menyajikan kepada para pengunjung lopis gratis. Warga bisa menikmati makanan yang terbuat dari beras ketan dan kelapa ini secara gratis selama acara syawalan berlangsung. Bahkan lopis raksasa yang diperebutkan menghabiskan bahan baku beras ketan sebanyak lima kuintal dan ratusan daun pisang untuk membungkus makanan.  Sumber dana pembuatan lopis berasal dari warga setempat yang ingin melestarikan tradisi syawalan.

Kabupaten Pekalongan secara historis tidak mempunyai tradisi ritual dan prosesi syawalan yang secara unik dan khusus dijalani masyarakatnya. Orang Pekalongan lebih mengenal tradisi syawalan Lopis Raksasa di Krapyak Pekalongan. Namun dalam masa kepimimpinan Bupati Pekalongan Drs. A.Antono (Tahun 2001-2006) setelah prosesi kepindahan Ibukota Kabupaten Pekalongan yang semula di Jl. Nusantara 1 Kota Pekalongan ke Jl. Alun-alun Utara No. 1 Kajen, untuk nguri-uri budaya Jawa dan tardisi keagamaan (syiar agama) maka sekaligus untuk memeriahkan Kajen dan sekitarnya sebagai Ibukota Kabupaten yang baru, dikreasikan suatu acara mengikuti tradisi syawalan, yang dilakukan dengan bentuk kirab Gunungan Sego Megono, yang digelar di Obyek Wisata Alam Linggo Asri. Kegiatan ini sekaligus dalam rangka meramaikan wisata di Linggoasri yang memang rutin sejak tahun-tahun sebelumnya selalu menggelar pertunjukan rakyat dan hiburan.

Megono gunungan raksasa dan nasi pincuk megono terbanyak yang dibagikan/diperebutkan kepada masyarakat dalam tradisi syawalan ini bahkan pernah mendapatkan penghargaan di rekor MURI yang secara resmi diwakili oleh Ibu Wida dengan menyerahkan piagam penghargaan bernomor : 2187/R.MURI/X/2006 kepada Pemerintah Kabupaten Pekalongan atas prestasi penyajian nasi megono khas pekalongan dengan jumlah terbanyak.Sebagaimana diketahui bahwa “nasi bumbu megono” merupakan ciri khas makanan tradisional masyarakat Pekalongan yang telah turun temurun dan tidak akan ditemui ditempat lain di Indonesia.

Syawalan di Kaliwungu Kendal
Masyarakat Kaliwungu mengawali prosesi Lebaran Kopat atau Syawalan dengan mengunjungi atau menziarahi para makam ulama setempat atau tokoh agama yang sangat disegani dan dihormati, salah-satunya Kyai Asy’ari (Kyai Guru). Setibanya di makam tersebut mereka melakukan ritual keagamaan dengan cara melakukan doa bersama dan sekaligus memperingati wafatnya sang tokoh atau populer disebut dengan khoul. Koentjaraningrat dalam Kebudayaan Jawa (1984: 328) menerangkan bahwa salah satu tradisi dan budaya Islam Jawa yang masih hidup adalah adanya penghormatan kepada makam-makam orang suci, baik ulama atau kyai. Setelah doa selesai digelar, mereka bersama-sama menikmati hidangan yang telah tersedia dengan menu utama berupa hidangan ketupat yang dicampur dengan sayur dan lauk-pauknya.

Syawalan di Demak, Rembang & Jepara
Syawalan atau sedekah laut merupakan tradisi yang selalu dilakukan masyarakat pesisir setiap bulan Syawal atau tepatnya 7 hari setelah Idul Fitri. Kegiatan ini merupakan bentuk ungkapan rasa syukur kepada Allah SWT atas berkah keselamatan dan hasil laut yang telah dilimpahkan. Melalui kegiatan ini, masyarakat pesisir berharap tangkapan pada tahun-tahun mendatang terus membaik dan selalu diberkati keselamatan.

Dikabupaten Demak, pelaksanaan tradisi syawalan dipusatkan di Pantai Morodemak, Kecamatan Bonang. Puncak kegiatan ini adalah larung sesaji oleh bupati yang didampingi muspida dan pemuka masyarakat setempat. Bupati melepas dan melarung sesaji berupa pucuk tumpeng yang telah dipotong. Pemotongan tumpeng dilakukan di atas perahu. Tradisi larung sesaji ini juga menjadi bagian tardisi masyarakat Rembang. Syawalan di Jepara dilakukan juga dengan melarungkan sesaji ke tengah laut. Hampir setiap perahu nelayan dipenuhi warga. Bahkan ada yang duduk hingga atap perahu. Sesaji berupa nasi, sayur, buah, dan kepala kerbau, oleh nelayan ditempatkan dalam replika perahu. Tradisi syawalan tersebut selalu dimeriahkan dengan pesta rakyat dan berbagai kegiatan hiburan, sebelum atau sesudah acara puncak.

Syawalan di Boyolali
Syawalan di Boyolali dilakukan dengan menyelenggarakan kenduri di masjid-masjid terdekat dengan membawa ketupat. Ketupat-ketupat itu kemudian dibawa kembali ke rumah. Mereka kemudian bersilahturahim ke rumah-rumah tetangga. Warga mengeluarkan sapi atau kambing milik mereka ke jalan.Beberapa di antaranya dikalungi ketupat dan diberi makan ketupat. Menurut warga setempat hal tersebut dilakukan karena sapi di Boyolali sudah berjasa banyak dalam kehidupan.  Di sentra-sentra sapi di Kabupaten Boyolali, pada hari ketujuh setelah Lebaran warga mengadakan syawalan dan mengarak sapi-sapi mereka ke luar rumah.

Syawalan di Klaten
Masyarakat Klaten khususnya yang bermukim di dua desa dan dua kecamatan (Desa Krakitan, Kecamatan Bayat dan Desa Jimbung, Kecamatan Kalikotes) masih memegang teguh tradisi sebar ketupat yang konon diyakini ngalap berkah dari para leluhurnya atau para pendahulunya di lokasi sendang. Dalam pelaksanaan tahun-tahun berikutnya di dipindahkan ke Bukit Sidhoguro, tak jauh dari Rowo Jombor, Jimbung yang oleh masyarakat Klaten juga dikenal sebagai obyek wisata alam sendang Bulus Jimbung. Konon menurut cerita penduduk sejak dahulu kala ( tidak di sebut tanggal dan tahunnya) ada upacara getekan di Rowo Jombor tersebut yang bertepatan dengan upacara Syawalan di Sendang Bulus Jimbung.

Acara dilaksanakan dengan melaksanakan kirab ketupat menuju jombor yang terletak di Bukit Sidhoguro. Prosesi kirab melibatkan puluhan orang termasuk perangkat desa dari dua desa tersebut. Ketupat tersebut setalah didoakan kemudian disebar kepada warga masyarakat yang berebut mendapatkannya. Syawalan diramaikan pula  berbagai pagelaran pertunjukan kesenian seperti tari-tarian tradisional dan hiburan lainnya.

Syawalan di Kawasan Jatim
Tujuh hari setelah Idulfitri, masyarakat di wilayah Jawa Timur merayakan Hari Raya Ketupat. Perayaan Hari Raya Ketupat ditandai tradisi “ather-ather” atau mengantar makanan ke rumah tetangga dan saudara. Setiap makanan yang diantar harus menyertakan satu ketupat. Sementara di Ngawi, Jatim, puluhan warga merayakan syawalan dengan terlibat perang nasi. Tujuannya mensyukuri hasil panen dan bersilaturahmi saat Lebaran. 

Tradisi Syawalan di Luar Jawa
Walau tradisi Syawalan identik dengan masyarakat Jawa, tapi di daerah lain di Indonesia ternyata terdapat juga budaya Syawalan ini. Warga Desa Mamala dan Desa Morela, Kecamatan Laihitu, Kabupaten Maluku Tengah, Maluku misalnya. Mereka memiliki tradisi unik berupa ritual Pukul Sapu yang berlangsung sejak ratusan tahun silam dan dilaksanakan secara turun-temurun. Budaya ini digelar sebagai simbol kemenangan setelah melaksanakan ibadah puasa selama sebulan dan puasa 7 Syawal. Tradisi ini juga dimaknai sebagai peringatan untuk mengenang perang Kapahaha yang dipimpin Kapitan Achmad Leakawa alias Telukabessy pada zaman penjajahan dulu.

Tradisi Syawalan yang cukup unik justru terjadi di Palembang, Sumatera Selatan. Ratusan pengantin remaja asal Kayuagung ibukota Kabupaten Ogan Komering Ilir (OKI) dengan iringan musik tanjidor melakukan kirab dengan berjalan kaki sejauh 5 km. Tradisi yang disebut dengan midang morge siwe ini konon telah digelar secara turun temurun oleh sembilan marga masyarakat Kayuagung. Tradisi ini memberikan pertanda telah berakhirnya status mereka sebagai seorang bujang dan gadis untuk diketahui secara luas oleh masyarakat setempat. Dengan status mereka yang baru tersebut sebagai pasangan suami istri, diharapkan tingkah laku mereka harus terjaga.

Di Kampar tradisi Syawalan dilaksanakan melalui pelestarian tradisi, seperti di Kamparkiri, Kabupaten Kampar, Riau, warganya memeriahkan Idul Fitri dengan menghelat acara pacu sampan antarsuku. Kegiatan semacam ini pun rutin digelar setiap tahun. Dalam pelaksanaan lomba, setiap sampan maksimal diisi enam pendayung dan wajib berasal dari satu suku. Kegiatan pacu sampan ini diikuti oleh tujuh suku. Yakni Suku Melayu Daek, Suku Piliang, Suku Mandailing, Suku Caniago, Suku Patopang, Suku Domo, dan Suku Melayu Palokoto.


Sumber: http://www.pekalongankab.go.id

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s