Nasehat Ibnu Qayyim Al-Jauziyyah tentang pondasi iman

Hasil gambar untuk PONDASI IMANNasehat Ibnu Qayyim Al-Jauziyyah tentang pondasi iman beliau mengatakan dalam karya kitabnya Al Fawaid :

“jika kamu ingin mempunyai bangunan menjulang tinggi nan indah maka rancang dan kuatkanlah pondasinya,jika amalan-amalan itu diibaratkan bangunan nan indah maka keimanan adalah pondasi yang harus pertama kali untuk dikuatkan”

Seperti itulah potongan nasehat atau wasiat Ibnu Qayyim Al-Jauziyyah kepada kita yang tertuang di dalam kitabnya Al Fawaid.   Beliau lahir 691 H. Shafadi muridnya menyebutkan secara rinci tentang hari dan bulan kelahirannya yaitu hal yang sama disampaikan pula oleh Ibnu Taghri Bardi, Dawudi dan Suyuthi. Beliau adalah Abu Adbillah Syamsuddien Muhammad bin Abi Bakr bin Ayub bin Sa`ad bin Huraiz bin Makiy Zainuddien Az-Zar`i Ad-Dimasyqi Al-Hambali, terkenal dengan sebutan Ibnu Qayyim Al-Jauziyah. Beliau adalah seorang Imam besar dan Ulama pembela Sunnah dan pemberantas Bid’ah.

Menjadi “orang tua” merupakan status yang akan tertulis di “kening” seseorang, jikalau sudah menikah dan memiliki keturunan, walaupun ada juga orang yang memiliki anak diluar nikah yang sah (zina), tapi yang menjadi pertanyaan di sini adalah orang tua seperti apa, yang dapat mengalirkan “kebaikan dunia dan Akhirat” bagi keluarganya, seperti anjuran Allah subhanahu wata’ala kepada kita orang beriman untuk meminta kebaikan dunia dan akhirat yang tertuang dalam al-qur’an:

وَمِنْهُمْ مَنْ يَقُولُ رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّار

Artinya:

“Dan diantara mereka ada yang berdo’a “Ya tuhan kami, berilah kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat, dan lindungilah kami dari adzab neraka” (Qs 2;201)

Dahulu Ketika kami masih duduk dangan para pewaris nabi, di sebuah negeri yang diberkati Allah, kala itu selepas sholat dzuhur, kami dibuat termenung dengan “sindiran” oleh salah seorang dosen kami (syekh Muhammad shodiq hafidzuhullah) ketika naik ke atas mimbar dan beliau berkata:

Bagaimana sebuah mahligai rumah tangga akan menjadi sakinah, mawaddah, wa rahmah, jikalau di hari pertama saja dia membangun keluarga tersebut telah dilumuri dengan maksiat dan setan?” kurang lebih seperti kalimat yang kami garis bawahi, itu di hari pertama pernikahan, yang mana baru prosesi akad dan resepsi, lalu bagaimana dengan yang sudah “berkubang” dalam maksiat dan setan selalu bersama mereka jauh-jauh hari sebelumnya ? kemudian ganti episode menjadi “selamat menempuh hidup baru”. Maklum saja sang guru terlihat gusar ketika itu, karena malam sebelumnya ketika beliau sedang menggelar resepsi pernikahan anaknya, beliau mendapati sebuah tradisi (‘urf) masyarakat setempat (dalam merayakan sebuah pernikahan) yang tidak dicontohkan dalam islam.

Kalau kita resapi dari teguran yang syarat akan nasehat di atas, mari kita berhenti sejenak, adakah rumah tangga umat islam saat ini yang “terkotak” oleh teguran di atas? belum lagi belaian lembut dunia yang menjadikan hati ini terbuai olehnya. Siapa sih yang tidak ingin proyeknya sukses, usahanya maju, kebutuhan tercukupi, dapat jodoh idaman, hutang tidak ada, umur panjang dan semua impian dalam benak kita tercapai?? tentu mana ada yang mau? apa iya itu semua jaminan bahagia?

أَيَوَدُّ أَحَدُكُمْ أَنْ تَكُونَ لَهُ جَنَّةٌ مِنْ نَخِيلٍ وَأَعْنَابٍ تَجْرِي مِنْ تَحْتِهَا الْأَنْهَارُ لَهُ فِيهَا مِنْ كُلِّ الثَّمَرَاتِ وَأَصَابَهُ الْكِبَرُ وَلَهُ ذُرِّيَّةٌ ضُعَفَاءُ فَأَصَابَهَا إِعْصَارٌ فِيهِ نَارٌ فَاحْتَرَقَتْ كَذَلِكَ يُبَيِّنُ اللَّهُ لَكُمُ الْآيَاتِ لَعَلَّكُمْ تَتَفَكَّرُونَ

“Adakah salah seorang diantara kamu yang ingin memiliki kebun kurma dan anggur yang mengalir di bawahnya sungai-sungai,di sana dia memiliki segala macam buah-buahan, kemudian datanglah masa tuanya sedang dia memiliki keturunan yang masih kecil-kecil, lalu kebun itu ditiup angin keras yang mengandung api, sehingga terbakar, demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-NYA kepadamu agar kamu memikirkannya” (Qs:2:266)

Jikalau boleh dipermisalkan “kebun kurma dan anggur yang mengalir dibawahnya sungai-sungai” dengan sebutan “surga dunia”, maka disaat mendapatkan kabar gembira akan kehadiran seorang anak dari penantian panjang dalam hidupnya adalah salah satu bentuk surga dunia yang ia dapatkan, usaha yang maju adalah bentuk surga dunia dari orang yang selalu gagal, hutang yang terbayar lunas adalah bentuk surga dunia baginya lalu kemudian Allah datangkan sebuah ujian yang sekejap melahap habis semua pencapaian yang ia bangga-banggakan selama ini, ditambah lagi di belakangnya keturunan yang “lemah” dalam urusan agama.

Bisa jadi ujian “api” yang melahap semua surga dunianya itu disebabkan karena lupa akan hak orang lain dalam hartanya atau adanya unsur kedzoliman dan juga terlenanya orang tersebut dari tanggung jawab sebagai orang tua kepada anaknya dalam pembekalan urusan akhirat, dalam hal ini adalah perkara TAUHID atau keimanan kepada allah subhanahu wata’ala.

وَلْيَخْشَ الَّذِينَ لَوْ تَرَكُوا مِنْ خَلْفِهِمْ ذُرِّيَّةً ضِعَافًا خَافُوا عَلَيْهِمْ فَلْيَتَّقُوا اللَّهَ وَلْيَقُولُوا قَوْلًا سَدِيدًا

“Dan hendaklah takut (kepada Allah) orang-orang yang sekiranya mereka meninggalkan keturunan yang lemah di belakang mereka yang mereka khawatir terhadap (kesehjahteraan) nya, oleh sebab itu, hendaklah mereka bertaqwa kepada Allah, dan hendaklah mereka berbicara dengan tutur kata yang baik”  (Qs:4:9).

Keturunan ”lemah” kalau boleh saya ibaratkan di sini sebagai dzuriyah yang “Apes”, kenapa demikian? Karena tidak semua orangtua mampu meninggalkan dunia bagi anak-anaknya, masih untung jika orang tuanya berada, bagaimana jikalau minus? Bisa apes dunia-akhirat nantinya,. Sudah miskin kufur lagi, Na’udzubillah..

Bukankah kita semua sudah tahu, bahwa memiliki anak yang sholih dan sholihah adalah salah satu dari tiga investasi yang nyata untuk semua orangtua,baik ketika di dunia, alam barzah, maupun akhirat kelak seperti halnya hadist nabi di bawah ini.

قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: “إذا مات الإنسان انقطع عنه عمل إلا من ثلاثة: إلا من صدقة جارية، أو علم ينتفع به، أو ولد صالح يدعو له”. [مسلم: 1613]

Artinya:

Rosulallahu ‘alaihi wasalam bersabda: “ jikalau seseorang diantara kalian meninggal, maka terputuslah semua amalanya kecuali tiga: sedekah jariyah, atau ilmu yang bermanfaat, atau anak sholih yang mendoakan kedua orang tuanya” (HR. Muslim).

Semuanya kembali lagi kepada kita semua, gerbang mana yang akan kita lalui sebagai langkah pertama dalam mengarungi bahtera, menjadikan keluarga sakinah, mawaddah, wa rahmah sesuai tuntunan nabi Muhammad shalallahu ‘alaihi wasalam bukanlah hal yang sepele, atau memilih gerbang syetan, guna mendapat surga dunia yang semu, yang akan Allah uji dengan “badai api” ketika usia sudah senja.


Sumber: www.kuttabharunarrasyid.com

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s