Bahaya Pluralisme di Kampus Islam Indonesia

 Hasil gambar untuk anti pluralisme agama di kampusAgama merupakan hal yang penting bagi kehidupan manusia sebagai makhluk hidup. Agama bukan lagi suatu hal yang mesti dikesampingkan, melainkan harus menjadi prioritas pertama bagi kita selaku manusia. Tanpa agama, manusia tidak bisa menjalankan kehidupan dengan benar. Tanpa aturan yang pasti, manusia akan hidup dalam kebingungan, hidup dengan kebebasan yang tidak jelas ke mana dia akan berlabuh.Tuhan, sebuah nama yang tak asing lagi di telinga kita. Merupakan suatu perwujudan mistis Maha Agung yang menguasai kehidupan apa pun. Setiap detik waktu yang manusia jalani, Ia mengetahuinya sekaligus perasaan tersembunyi yang ada dalam hati manusia. Seiring berkembangnya waktu, Tuhan mulai dilupakan dan entah apa lagi perannya selain menciptakan alam semesta ini. Banyak sekali kalangan pemikir yang terjebak dalam perenungan tentang Tuhan, seperti Friedrich Nietszhe, dia menganggap bahwa Tuhan sudah mati, dan dibunuh oleh kita manusia.

Kaitan antara Tuhan dan agama memang sangat erat. Dalam agama apa pun, Tuhan menjadi rukun iman yang pertama dalam ajarannya. Tuhan menjadi otoritas tertinggi bagi setiap pemeluk agama mana pun. Namun yang menjadi masalahnya di sini adalah, apakah Tuhan yang satu itu harus dituju dengan jalan yang satu pula? Ataukah, banyak jalan menujuNya? Inilah perang pemikiran zaman sekarang, yang bisa kita sebut dengan pluralisme.

Pemikiran pluralisme agama muncul pada masa yang disebut Pencerahan (Enlightenment) Eropa, tepatnya pada abad ke-18 Masehi, masa yang sering disebut sebagai titik permulaan bangkitnya gerakan pemikiran modern. Yaitu masa yang diwarnai dengan wacana-wacana baru pergolakan pemikiran manusia yang berorientasi pada superioritas akal (rasionalisme) dan pembebasan akal dari kungkungan-kungkungan agama. Di tengah hiruk pikuk pergolakan pemikiran di Eropa yang timbul sebagai konsekuensi logis dari konflik-konflik yang terjadi antara gereja dan kehidupan nyata di luar gereja, muncullah suatu paham yang dikenal dengan liberalisme, yang komposisi utamanya adalah kebebasan, toleransi, persamaan dan keragaman atau pluralisme.

Ada satu fakta yang tak dapat diingkari, bahwa terminologi pluralisme atau dalam bahasa Arabnya, al-taaddudiyyah, tidaklah dikenal secara popular dan tidak banyak dipakai di kalangan Islam kecuali sejak kurang lebih dua dekade terakhir abad ke-20 yang lalu. Yaitu ketika terjadi perkembangan penting dalam kebijakan internasional Barat yang baru yang memasuki sebuah fase yang dijuluki Muhammad imarah sebagai marhalat al-ijtiyah (fase pembinasaan). Yakni sebuah perkembangan yang prinsipnya tergurat dan tergambar jelas dalam upaya Barat yang habis-habisan guna menjajakan ideologi modernnya yang dianggap universal, seperti demokrasi, pluralisme, HAM dan pasar bebas, dan mengekspornya untuk konsumsi luar dalam rangka mencapai berbagai kepentingannya yang sangat beragam. Suatu kebijakan yang telah dikemas atas dasar superiotitas ras dan kultur Barat, serta peremehan atau penghinaan terhadap segala sesuatu yang bukan Barat, Islam khususnya, dengan berbagai macam tuduhan yang menyakitkan, seperti intoleran, anti-demokrasi, fundamentalis, sektarian dan sebagainya.

Problem penting dari virus pluralisme ini adalah adanya penyebaran besar-besaran di kalangan umat Islam sendiri. Keimanan mereka mulai terkikis dan dengan bangganya menyebarkan paham tersebut kepada kaum awam bahkan juga pada kaum terpelajar seperti mahasiswa. Paham pluralisme ini juga menjadi ceramah wajib di setiap pertemuan kuliah di kampus-kampus Islam. Para dosen mendoktrin mahasiswa dengan statement dan argumen-argumen meyakinkan lengkap dengan dalil yang mereka selewengkan.

Jika dilihat dari sejarahnya, virus pluralisme ini dibawa oleh tokoh kebanggaan UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, Harun Nasution melalui bukunya IDBA-Islam Ditinjau dari Berbagai Aspeknya. Melalui buku ini, Harun Nasution memulai obsesi dan ambisinya dalam menyebarkan paham baru yang dimilikinya dari Universitas Mc Gill Kanada. Peluncuran buku ini tidak berjalan mulus seperti yang Harun bayangkan, banyak sekali kecaman dan kritik dari berbagai kalangan termasuk H.M Rasjidi. Rasjidi bahkan membuat surat rahasia pada Kemenag untuk menarik kembali buku tersebut dan tidak dijadikan buku pegangan wajib bagi mahasiswa di IAIN atau UIN. Walaupun begitu, Depag tidak memberikan tanggapan apa pun terhadap surat yang Rasjidi kirimkan. Entah karena Depag tidak mengerti, atau karena Depag setuju dengan paham pluralisme yang dilontarkan Harun Nasution dalam bukunya itu.

Buku karya Harun Nasution pun menyebar di kalangan mahasiswa, bukan hanya IDBA, buku lain yang penuh kontropersi juga berada di tangan mahasiswa dan menjadi konsumsi sehari-hari di kelas kuliah. Dosen-dosennya pun tidak mau kalah, mereka termakan doktrin liberal ini dan terperangkap dalam pemikiran yang salah. Sering mereka melontarkan statement pluralisme di kelas-kelas, seperti yang pernah penulis alami sendiri di kampus UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, seorang dosen berkata surga Tuhan itu luas, kita umat Islam jangan bersikap egois ingin memilikinya sendiri, tidak berbagi dengan umat agama lain, atau dosen lain berkata akidah kalian itu adalah akidah warisan dari pesantren-pesantren, akidah tuun temurun dari ulama zaman dahulu, belum tentu akidah yang kalian anut itu adalah akidah yang paling benar, maka bersikaplah toleran dan jangan menyesatkan akidah agama yang dianut umat lain.

Maka ketika kita jumpai mahasiswa tingkat atas yang sudah bertahun-tahun terdoktrin virus ini oleh para dosen liberal juga buku-buku liberal yang mereka baca, akan kita temukan kerancuan sikap dan pemikiran dalam diri mereka. Ketika penulis berdiskusi dengan sekumpulan mahasiswa akhir yang tergabung dalam komunitas filsafat, seorang mahasiswi menjelaskan betapa pentingnya penggunaan tafsir hermeneutika terhadap al-Quran. Dia mengkritik habis-habisan ulama tafsir klasik seperti Ibnu Katsir, Imam al-Ghazali, dan Imam Syafii, namun membanggakan tokoh-tokoh barat seperti Schlaimacher. Maka ketika penulis menantangnya dengan menunjukkan karya tafsir dari para pendukung tafsir hermenetika, ia pun kelabakan dalam menjawabnya.

Ketika acara seminar tentang Yahudi dari perspektif hadits pun, ada seorang dosen yang ahli dalam bidang hadits menyatakan bahwa kita tidak boleh memandang sebelah mata terhadap Yahudi, karena Yahudi yang menindas Palestina hanya sebagian kecil.

Namun yang menjadi hal aneh adalah kenapa para dosen yang terkenal liberal itu sangat disukai oleh mayoritas mahasiswa. Kelasnya selalu penuh. Seminar-seminarnya selalu diikuti. Dan bukunya juga banyak dibeli dan dibaca. Ternyata penulis berkesimpulan bahwa, para dosen liberal tersebut memiliki metode penyampaian kuliah yang sangat bagus dan enak disimak. Berbeda halnya dengan dosen yang mereka sebut fundamentalis, cara penyampaiannya di kelas terkadang membosankan dan tak jarang pula mengundang rasa kantuk yang sulit untuk ditahan mahasiswa.

Para dosen yang menyebarkan doktrin pluralisme ini menggunakan dalil al-Quran yang membuat mahasiswa kebingungan membantahnya dan malah mengikutinya dengan begitu saja. Salah satu dalil al-Quran yang sering mereka gunakan adalah,

“Sesungguhnya orang-orang mukmin, orang-orang Yahudi, orang-orang Nasrani dan orang-orang Shabiin, siapa saja diantara mereka yang benar-benar beriman kepada Allah, hari kemudian dan beramal saleh, mereka akan menerima pahala dari Tuhan mereka, tidak ada kekhawatiran kepada mereka, dan tidak (pula) mereka bersedih hati.” (QS. Al-Baqarah 2: 62)Mereka selalu mempermainkan tafsir dan pemahaman mengenai ayat ini. Mendoktrin mahasiswa untuk percaya bahwa semua agama pun masuk surga. Banyak mahasiswa yang percaya dan setuju dengan dalil ini yang menunjukkan ayat pluralisme, padahal ayat ini justru menjelaskan hanya Islam-lah satu-satunya yang masuk surga.

Mereka menjelaskan bahwa setiap Yahudi dan Nasrani juga orang Shabiin akan masuk surga, padahal ada syarat untuk itu yaitu beriman kepada hari akhir dan beramal shaleh. Ini menunjukkan hanya sebagian saja yang masuk surga, yaitu yang menerima Islam sebagai agama mereka. Kita bisa tunjukkan dalil lain sebagai perumpamaan, yaitu ayat mengenai haji.

Mengerjakan haji adalah kewajiban manusia terhadap Allah, Yaitu (bagi) orang yang sanggup Mengadakan perjalanan ke Baitullah. (QS. Ali Imran 3: 97)

Dalam ayat itu diwajibkan haji bagi seluruh umat Muslim, namun ada kelanjutan ayat yang mesti kita cermati, yaitu siapa saja yang mampu menjalankannya, itu menunjukkan bahwa yang wajib haji itu hanya sebagian kalangan saja yaitu yang mampu. Sama halnya dengan ayat pluralisme di atas, ayat tersebut menunjukkan sebagian, tidak semuanya, dan yang sebagian itu harus menjalani syarat yaitu beriman pada hari akhir dan beramal shaleh yang artinya harus masuk Islam.

Selain ayat dalam surat al-Baqarah, cendikian Muslim Paramadina-Budhy Munawar juga mengeluarkan statement pluralisme dalam wawancaranya bersama Ulil Abshar Abdala. Ulil bertanya, Adakah gambaran lebih konkret agar wawasan pluralistik itu bisa diajarkan kepada murid?
Budhy menjawab, Secara sederhana, wawasan itu dimulai, misalnya, dengan menghormari orang yang berbeda agama dan tidak menghina mereka. Orang yang berbeda agama lantas tidak diklaim kafir. Juga tidak menyebut agama lain itu sesat dan menyesatkan. Dari situlah mulai langkah pertama untuk bisa menerima friendship dan partnership dalam suatu kenyataan bernama sekolah.

Bertebaran ayat-ayat daam al-Quran yang menyebut tentang orang kafir. Al-Quran saja memerintahkan kita memanggil wahai orang-orang kafir! (Qul Yaa ayyuhal kaafiruun.). Kalau al-Quran saja memerintahkan memanggil dengan sebutan kafir, mengapa Paramadina menyatakan haram menggunakan sebutan kafir untuk orang yang berbeda agama? Al-Quran surat al-Bayyinah menyebut, kaum kafir itu ada dua golongan: yaitu golongan musyrik dan Ahl-Kitab.

Inilah doktrin pluralisme yang menjadi salah satu perang pemikiran kontemporer. Kita sebagai generasi Muslim seharusnya bisa membendung arus liberalisme ini, khususnya di Indonesia dan lebih khusus lagi di kalangan terpelajar di kampus-kampus Islam Indonesia dengan terus mencermati apa yang menjadi dalil mereka dan apa sanggahan konkret dari cendikiawan Muslim lain yang menentangnya. Selain kita mempelajari apa yang mereka pelajari, kita juga harus terus mengkaji al-Quran dan as-Sunnah secara mendalam, mempelajari sekularisme, liberalisme dan pluralisme dari lembaga-lembaga terpercaya.


Referensi :

Dr. Anis Malik Thaha. Tren Pluralisme Agama Tinjauan Kritis. Jakarta: Perspektif Gema Insani. 2005.

Dr. Adian Husaini. Membendung Arus Liberalisme di Indonesia. Jakarta: Pustaka Al-Kautsar. 2009.


sumber: https://mustaqiemah.wordpress.com

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s