Dinamika Pernikahan dalam Islam

Hasil gambar untuk pernikahanBAB I

PENDAHULUAN

Pada prinsipnya perkawinan adalah suatu akad, untuk menghalalkan hubungan serta membatasi hak dan kewajiban, tolong menolong antara pria dengan wanita yang antara keduanya bukan muhrim.  Apabila di tinjau dari segi hukum, jelas bahwa pernikahan adalah suatu  akad yang suci dan luhur antara pria dengan wanita, yang menjadi sebab  sahnya status sebagai suami isteri dan dihalalkan hubungan seksual dengan  tujuan mencapai keluarga sakinah, mawadah serta saling menyantuni antara  keduanya.

Suatu pernikahan mempunyai tujuan yaitu ingin membangun keluarga yang sakinah mawaddah warohmah serta ingin mendapatkan keturunan yang solihah. Keturunan inilah yang selalu didambakan oleh setiap orang yang sudah menikah karena keturunan merupakan generasi bagi orang tuanya. Namun dalam setiap perkawinan pasti akan terjadi sebuah permasalahan. Perkawinan tidak bisa keluar dari pertentangan-pertentangan yang menyangkut berbagai aspek, baik itu lingkungan sosial, hukum, agama, budaya atau adat istiadat, ataupun dari dalam manusia itu sendiri. Sehingga dengan adanya pertentangan-pertentangan tersebut, maka akan menimbulkan berbagai dinamika dalam perkawinan.

Diantara dinamika-dinamika pernikahan tersebut adalah mengenai masalah iddah, ruju, ihdad, adopsi dan poligami, yang insyaallah  akan dibahas pada pembahasan ini.

BAB II

PEMBAHASAN

  1. Iddah
  2. Pengertian Iddah

Iddah secara bahasa berasal dari kata adad, artinya menghitung. Maksudnya ialah perempuan (istri) menghitung hari-harinya dan masa bersihnya.

Dalam istilah agama iddah berarti lamanya perempuan (istri) menunggu dan tidak boleh menikah setelah kematian suaminya atau setelah bercerai dari suaminya.[1]

Sedangkan secara terminologi, para ulama telah merumuskan pengertian iddah menjadi beberapa pengertian, diantaranya:

  1. Ash Shon’ani, “Iddah ialah suatu nama bagi suatu masa tunggu yang wajib dilakukan oleh wanita untuk tidak melakukan perkawinan setelah kematian suaminya atau perceraian dengan suaminya itu, baik dengan melahirkan anaknya, atau beberapa kali suci/haid, atau beberapa bulan tertentu”
  2. Abu Zahroh, “Iddah ialah suatu masa yang ditetapkan untuk mengakhiri pengaruh pengaruh perkawinan”
  3. Ulama Syafi’iyah, “masa yang harus dilalui oleh istri (yang ditinggal mati atau dicerai oleh suaminya) untuk mengetahui kesucian rahimnya, mengabdi atau berbela sungkawa atas kematian suaminya”.[2]
  4. Dasar Hukum Iddah

Allah SWT. berfirman:

وَالْمُطَلَّقَاتُ يَتَرَبَّصْنَ بِأَنْفُسِهِنَّ ثَلاثَةَ قُرُوءٍ……

“Wanita-wanita yang ditalak hendaklah menahan diri (menunggu) tiga kali quru….” (Q.S Al-Baqarah: 228)

Dalam surat yang sama (Al Baqarah) ayat 234:

وَالَّذِينَ يُتَوَفَّوْنَ مِنْكُمْ وَيَذَرُونَ أَزْوَاجًا يَتَرَبَّصْنَ بِأَنْفُسِهِنَّ أَرْبَعَةَ أَشْهُرٍ وَعَشْرًا

“Orang-orang yang meninggal dunia diantaramu dengan meninggalkan istri-istri (hendaklah para istri itu) menangguhkan (beriddah) empat bulan sepuluh hari. (Q.S. Al Baqarah: 234).

Dalam surat Al-Ahzab (33) ayat 49, yang artinya:“Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu menikahi perempuan-perempuan yang beriman, kemudian kamu ceraikan mereka sebelum kamu mencampurinya maka sekali kali tidak wajib atas mereka iddah bagimu yang kamu minta menyempurnakannya, maka berilah mereka mut’ah dan lepaskanlah mereka itu dengan cara yang sebaik- baiknya. (Q.S. Al-Ahzab: 49)

 

Dalam Sunnah Nabi yang dijadikan sebagai dasar hukum tentang iddah, yaitu, yang artinya: “Diceritakan dari ibn umar sesungguhnya dia menthalak istrinya dalam keadaan haid pada masa Rasulullah SAW, umar bin khattab bertanya kepada Rasulullah SAW mengenai hal itu. Kemudian Rasulullah SAW berkata kepada Umar “Perintahkanlah ia untuk merujuk istrinya, kemudian menahanya sehingga suci, haid dan suci lagi. Maka jika ingin tahanlah dia sesudah itu. Dan jika sudah ceraikanlah sebelum ia menyentuhnya. Demikianlah Iddah yang diperintahkan oleh Allah yaitu perempuan yang harus dicerai pada Iddahnya” (H.R. Muslim).[3]

 

  1. Macam-macam Iddah
  2. Iddah Talak

Iddah talak artinya iddah yang terjadi karena perceraian. Perempuan-perempuan yang berada dalam iddah talak antara lain:

  • Perempuan yang telah dicampuri dan ia belum putus dalam haid.
  • Perempuan-perempuan yang dicampur, dan tidak haid,baik ia perempuan yang belum baligh, dan perempuan tua yang tidak haid.

 

  1. Iddah Hamil

Iddah hamil yaitu iddah yang terjadi apabila perempuan-perempuan yang diceraikan itu sedang hamil. Iddah mereka adalah sampai melahirkan anak.

  1. Iddah Wafat

Iddah wafat yaitu iddah terjadi apabila seorang perempuan ditinggal mati suaminya. Dan iddahnya selama empat bulan sepuluh hari.

  1. Iddah Wanita yang Kehilangan Suami

Bila ada seorang perempuan yang kehilangan suami, dan tidak diketahui dimana suaminya berada, apakah suaminya telah mati atau masih hidup, maka wajiblah ia menunggu empat tahun lamanya. Sesudah itu hendaklah ia beriddah pula empat bulan sepuluh hari.

  1. Iddah Perempuan yang Di-Ila’

Jumhur fuqaha mengatakan bahwa ia harus menjalani iddah. Sebaliknya, Zabir bin Zaid berpendapat bahwa ia tidak wajib iddah, jika telah mengalami haid tiga kali selama masa empat bulan. Jumhur fuqaha beralasan bahwa istri yang di-ila’ adalah istrii yang dicerai juga. Oleh karena itu, ia harus beriddah seperti perempuan-perempuan yang dicerai.[4]

 

  1. Hikmah Iddah
  2. Untuk mengetahui bersihnya rahim seorang perempuan.
  3. Memberi kesempatan kepada suami istri yang berpisah untuk kembali kepada kehidupan semula, jika mereka menganggap hal tersebut baik.
  4. Menjunjung tinggi masalah perkawinan yaitu untuk menghimpunkan orang-orang arif mengkaji masalahnya, dan memberikan tempat berpikir panjang.
  5. Kebaikan perkawinan tidak dapat terwujud sebelum kedua suami istri sama-sama hidup lama dalam ikatan akadnya.

 

  1. Keluar Rumah bagi Perempuan yang Beriddah

Para ahli fiqih berbeda pendapat tentang hukumnya perempuan keluar rumah dalam masa iddah. Golongan Hanafi berpendapat perempuan yang ditalak raj’i maupun ba’in tidak boleh keluar dari rumahnya pada siang ataupun malam. Adapun perempuan yang ditinggal mati suaminya boleh keluar siang hari dann sebagian malam.

Menurut golongan Hambali membolehkan keluar siang hari, baik perempuan itu iddah karena talak atau karena kematian suaminya.[5]

 

  1. Ruju’
  2. Pengertian Ruju’

Menurut bahasa Arab, kata ruju’ berasal dari kata raja’a-yarji’u-ruju’an yang berarti kembali dan mengembalikan. Ulama Hanafiyah mendefinisikan ruju’ sebagaimana dikemukakan oleh Abu Zahrah, “Ruju’ ialah melestarikan perkawinan dalam masa idah talak (raj’i)”. Adapun menurut Al-Syafi’i, “Ruju’ ialah mengembalikan status hukum perkawinan sebagai suami istri di tengah-tengah iddah setelah terjadi talak (raj’i)”.[6]

Sedangkan rujuk menurut para ulama madzhab adalah sebagai berikut :

  1. Hanafiyah, rujuk adalah tetapnya hak milik suami dengan tanpa adanya pengganti dalam masa iddah, akan tetapi tetapnya hak milik tersebut akan hilang bila habis masa iddah.
  2. Malikiyah, rujuk adalah kembalinya istri yang dijatuhi talak, karena takut berbuat dosa tanpa akad yang baru, kecuali bila kembalinya tersebut dari talak ba‟in, maka harus dengan akad baru, akan tetapi hal tersebut tidak bisa dikatakan rujuk.
  3. Syafi‟iyah, rujuk adalah kembalinya istri ke dalam ikatan pernikahan setelah dijatuhi talak satu atau dua dalam masa iddah. Oleh karena itu rujuk menurut golongan Syafi‟iyah adalah mengembalikan hubungan suami istri ke dalam ikatan pernikahan yang sempurna.
  4. Hanabilah, rujuk adalah kembalinya istri yang dijatuhi talak selain talak ba‟in kepada suaminya dengan tanpa akad. Baik dengan perkataan atau perbuatan (bersetubuh) dengan niat ataupun tidak.[7]

Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa ruju’ ialah mengembalikan status hukum perkawinan secara penuh setelah terjadi talak raj’i yang dilakukan oleh bekas suami terhadap bekas istrinya dalam masa iddah dengan ucapan tertentu.[8]

  1. Dasar Hukum Ruju’

Allah SWT. berfirman:

….وَبُعُولَتُهُنَّ أَحَقُّ بِرَدِّهِنَّ فِي ذَلِكَ إِنْ أَرَادُوا إِصْلاحًا…

“Dan suami-suaminya berhak merujukinya dalam masa menanti itu, jika mereka (para suami) itu menghendaki ishlah.” (Q.S Al-Baqarah:228)

Tidak dibenarkan bekas suami mempergunakan hak meruju’ dengan tujuan yang tidak baik, sebab dengan demikian ia telah berbaut zalim. Allah SWT. berfirman:

وَإِذَا طَلَّقْتُمُ النِّسَاءَ فَبَلَغْنَ أَجَلَهُنَّ فَأَمْسِكُوهُنَّ بِمَعْرُوفٍ أَوْ سَرِّحُوهُنَّ بِمَعْرُوفٍ وَلا تُمْسِكُوهُنَّ  ضِرَارًا لِتَعْتَدُوا وَمَنْ يَفْعَلْ ذَلِكَ فَقَدْ ظَلَمَ نَفْسَهُ…

“Apabila kamu menalak istri-istrimu, lalu mereka mendekati akhir idahnya, maka rujukilah mereka dengan cara yang makruf, atau ceraikanlah mereka dengan cara yang makruf (pula). Janganlah kamu rujuki mereka untuk memberi kemudaratan, karena dengan demikian kamu menganiaya mereka. Barang siapa berbuat demikian, maka sungguh ia telah berbuat lalim terhadap dirinya sendiri…..”. (Q.S Al-Baqarah: 231)[9]

 

  1. Hukum Ruju’

Secara umum ruju’ dapat dikatakan sah apabila dipenuhi beberapa syarat sebagai berikut :

  1. Persetujuan kedua belah pihak
  2. Harus dilakukan dalam masa iddah.
  3. Harus disaksikan oleh kedua orang saksi.
  4. Tidak disertai iwadl dari pihak isteri.[10]

Adapun mengenai hukum ruju’ itu sendiri, Ibnu Rusdy membagi kepada dua hal:

  1. Hukum Ruju’ pada Talak Raj’i

Telah bersepakatan muslimin bahwa suami mempunyai hak merujuk istri pada talak raj’i, selama istri masih berada dalam amsa iddah, tanpa mempertimbangkan persetujuan istri. Berdasarkan firman Allah SWT. yang artinya, ”Dan suami-suaminya berhak merujukinya dalam masa menanti itu, jika mereka (para suami) itu menghendaki ishlah”. (Q.S Al-Baqarah: 228)

Adapun syarat talak raj’i menurut kesepakatan fuqaha ialah terjadinya pergaulan (campur) terhadap istri. Sementara mengenai saksi, mereka berbeda pendapat. Imam Malik berpendapat adanya saksi dalam rujuk merupakan sunnah. Sedangkan Imam Syafi’i berpendapat hal itu adalah wajib.[11]

  1. Hukum Ruju’ pada Talak Ba’in

Talak ba’in terjadi kadang-kadang dengan bilangan talak kurang dari tiga. Dan ini terjadi pada istri yang belum digauli dan menerima khulu’. Terdapat perbedaan pendapat mengenai hal ini, ada yang mengatakan bahwa hukum ruju’ setelah talak ba’in sama dengan nikah baru, hanya saja jumhur fuqoha berpendapat bahwa tidak mempertimbangkan berakhirnya masa iddah. Sebagian fuqaha lain berpendapat bahwa istri yang dikhulu’ tidak boleh dikawin oleh suami (yang mengkhulu’nya) atau oleh orang lain pada masa iddah.[12]

  1. Alasan dan Tujuan Dilaksanakannya Rujuk

Salah satu penyebab terjadinya perceraian adalah dengan dijatuhkannya talak oleh pihak suami kepada isterinya. Meskipun demikian bukan berarti dengan adanya talak menutup kemungkinan suami isteri untuk bersatu lagi, karena suami masih diberi hak untuk merujuk bekas isterinya asal dengan syarat talak yang dijatuhkan itu adalah raj’i. Hal tersebut dimungkinkan karena setelah menjalankan masa iddah, tiba-tiba timbul keinginan untuk bersatu lagi karena masih sayang atau cinta. Alasan lain sehingga mereka rujuk lagi yaitu untuk menebus kesalahan mereka yang terpaksa melakukan talak sedang talak adalah perbuatan halal yang paling dibenci Allah. Disamping itu tujuan yang paling pokok adalah untuk membentuk rumah tangga yang bahagia dan kekal seperti tujuan semula waktu melangsungkan perkawinan baik menurut Undang-undang No. 1 Tahun 1974 maupun menurut Hukum Islam.[13]

  1. Hikmah Rujuk
  2. Menghindarkan murka Allah.
  3. Bertaubat dan menyesali kesalahan-kesalahan yang lalu untu bertekat

memperbaikinya.

  1. Untuk menjaga keutuhan keluarga, dan menghindari perpecahan keluarga.
  2. Mewujudkan islah atau perdamaian.[14]

 

 

 

  1. Ihdad
  2. Pengertian Ihdad

Menurut Abu Yahya Zakaria al-Anshary, ihdad berasal dari kata ahada, yang berarti mencegah. Menurut Abdul Mujib dkk, ihdad adalah masa berkabung bagi seorang istri yang ditinggal mati suaminya. Masa tersebut adalah 4 bulan 10 hari.

Sedangkan menurut pengertian syarak, ihdad adalah: meninggalkan pemakaian pakaian yang dicelup warna yang dimaksudkan untuk perhiasan, sekalipun pencelupan itu dilakukan sebelum kain tersebut ditenun, atau kain itu menjadi kasar/kesat.

Sayyid Abu Bakar al-Dimyathi menjelaskan ihdad ialah, menahan diri dari bersolek/berhias pada badan.[15]

  1. Hal-hal yang Dilarang dan yang Dibolehkan bagi Orang yang Berihdad

Para fuqaha berpendapat bahwa wanita yang sedang ihdad dilarang memakai semua perhiasan yang dapat menarik perhatian laki-laki kepadanya. Sementara itu, Imam Malik memakruhkan pakaian berwarna hitam bagi wanita yang sedang ihdad.[16]

Ringaksnya ialah menurut pendapat para fuqaha hal-hal yang harus dijauhi oleh wanita yang berihdad adalah saling berdekatan. Dan secara prinsip adalah semua perkara yang dapat menarik perhatian kaum laki-laki kepadanya.[17]

Terdapat perbedaan pendapat mengenai wajib atau tidaknya ihdad bagi wanita. Mereka mengambil dalil dari hadist Nabi SAW. yang artinya: ”Tidak halal bagi wanita yang beriman kepada Allah dan Hari Kemudian untuk berihdad, kecuali karena kematian suaminya.

Pendapat pertama, mengatakan bahwa syarat ihdad adalah beriman, maka hal ini menunjukkan bahwa ihdad merupakan suatu ibadah. Pendapat kedua, memahami hadist tersebut bahwa bagi wanita yang tidak mempunyai suami tidak ada kewajiban ihdad atasnya, sedangkan bai pendapat pertama tadi yang mewajibkan ialah bukan wanita yang ditalak, karena merek berpegang dengan makna lahiriah hadist itu.[18]

  1. Tujuan Ihdad
  2. Memberi alokasi waktu yang cukup untuk turut berduka cita atau berkabung dan sekaligus menjaga fitnah.
  3. Untuk memelihara keharmonisan hubungan keluarga suami yang meninggal dengan pihak isteri yang ditinggalkan dan keluarga besarnya.
  4. Ihdad untuk menampakan kesedihan dan kedukaan atas kematian suaminya, dan ukuran untuk bersedih karena yang lainnya. Selain cerai mati, maka talak dalam bentuk apapun tidak membutuhkan adanya ihdad.
  5. Bagi seorang wanita yang ditinggal mati oleh suaminya dan dalam keadaan hamil, hikmah ihdad adalah selama empat bulan sepuluh hari sicalon bayi yang tengah berada dalam perut ibu akan sempurna penciptaannya.[19]

Adapun menurut Kompilasi Hukum Islam dalam Bab XIX menjelaskan sebagai berikut:

  • Istri yang ditinggal mati suaminya, wajib melaksanakan masa berkabung selama amsa iddah sebagai tanda turut berduka cita sekaligus menjaga timbulnya fitnah.
  • Suami yang ditinggal mati oleh istrinya, melakukan masa berkabung menurut kepatutan.[20]

Menurut Wahbah Zuhaili bahwa ihdad merupakan hak syar’i dan merupakan ungkapan atau manifestasi rasa duka cita karena hilangnya karunia Allah. Dalam bentuk perkawinan sehingga ia tidak mungkin lagi berkumpul dengan bekas suaminya.[21]

 

  1. Adopsi
  2. Pengertian Adopsi

Secara etimologi, adopsi berasal dari kata “adoptie” bahasa Belanada, atau “adopt” (adoption) berasal dari bahas Inggris. Yang berarti pengangkatan anak, mengangkat anak. Dalam bahasa Arab disebut “tabanni” yang menurut Prof. Mahmud Yunus diartikan dengan “mengambil anak angkat”.[22]

Secara terminologi, pengangkatan anak (adopsi, tabanni), yaitu  suatu pengangkatan anak orang lain sebagai anak sendiri. Anak yang diadopsi disebut “anak angkat”, peristiwa hukumnya disebut “Pengangkatan Anak” dan istilah yang digunakan sekarang adalah adopsi.

Mahmud Syaltut, mengemukakan bahwa setidaknya ada dua pengertian “pengangkatan anak”. Pertama, mengambil anak orang lain untuk diasuh dan dididik dengan penuh perhatian dan kasih sayang, tanpa diberikan ststus “anak kandung” kepadanya. Kedua, mengambil anak orang lain sebagai anak sendiri dan ia diberi status sebagai “anak kandung”, sehingga ia berhak memekai nama keturuna (nasab) orang tua angkatnya dengan saling mewarisi harata peninggalan, serta hak-hak lain sebagai akaibat hukum antara anak angkat dan orang tua angkatnya itu.[23]

  1. Adopsi Dalam Hukum Islam

Allah SWT. berfirman Allah dalam QS. Al-Ahzab ayat 4 dan 5:

…..مَا جَعَلَ اللَّهُ لِرَجُلٍ مِنْ قَلْبَيْنِ فِي جَوْفِهِ ۚ وَمَا جَعَلَ أَزْوَاجَكُمُ اللَّائِي تُظَاهِرُونَ مِنْهُنَّ أُمَّهَاتِكُمْ ۚ وَمَا جَعَلَ أَدْعِيَاءَكُمْ أَبْنَاءَكُمْ ۚ ذَٰلِكُمْ قَوْلُكُمْ بِأَفْوَاهِكُمْ ۖ وَاللَّهُ يَقُولُ الْحَقَّ وَهُوَ يَهْدِي السَّبِيل َ (4) ادْعُوهُمْ لآبَائِهِمْ هُوَ أَقْسَطُ عِنْدَ اللَّهِ فَإِنْ لَمْ تَعْلَمُوا آبَاءَهُمْ فَإِخْوَانُكُمْ فِي الدِّينِ وَمَوَالِيكُمْ وَلَيْسَ عَلَيْكُمْ جُنَاحٌ فِيمَا أَخْطَأْتُمْ بِهِ وَلَكِنْ مَا تَعَمَّدَتْ قُلُوبُكُمْ وَكَانَ اللَّهُ غَفُورًا رَحِيمًا (5)

“dan Dia tidak menjadikan anak-anak angkatmu sebagfai anak kandungmu (sendiri). Yang demikian itu hanyalah perkataanmu di mulut saja, dan Allah mengatakan yang sebenarnya dan Dia menunjukkan jalan yang benar. Panggillah mereka (anak-anak angkat itu) dengan memakai nama bapak-bapak mereka; itulah yang lebih adil pada sisi Allah dan jika kamu tidak mengetahui bapak-bapak mereka, maka (panggil mereka) sebagai saudara-saudaramu seagama dan maula-maulamu, dan tidak ada dosa atasmu terhadap apa yang kamu khilaf padanya, tetapi (yang ada dosanya) apa yang disengaja oleh hatimu. Dan adalah Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.”

Ayat di atas secara garis besar dapat dirumuskan sebagai berikut:

  1. Allah tidak menjadikan dua hati dalam satu dada manusia.
  2. Anak anghkatmu bukan anak kandungmu.
  3. Panggillah anak angkatmu menurut nama bapaknya.[24]

Dengan demikian, yang bertentangan dengan ajaran Islam adalah mengangkat anak  dengan memberikan ststus yang sama dengan anak kandungnya sendiri. Menurut hukum Islam pengangkatan anak hanya dapat dibenarkan apabila memenuhi ketentuan-ketentuan sebagai berikut:

  1. Tidak memutuskan hubungan darah anatara anak yang diangkat dengan orang tua biologis dan keluarga.
  2. Anak angkat tidak berkedudukan sebagai pewaris dari orang tua angkat, melainkan tetap sebagai pewaris dari orang tua kandungnya, demikian pula sebalinya.
  3. Anak angkat tidak boleh mempergunakan nama orangtua angkatnya,secara langsung kecuali sekadar sebagai tanda pengenal ataua alamat.
  4. Orang tua anagkat tidak boleh bertindak sebagai wali dalam peerkawinan terhadap anak angkatnya.[25]
  5. Tinjauan Masyarakat Mengenai Adopsi

Menurut Hukum Adat Masyarakat teerdapat beberapa pertimbangan yang dijadikan sebagai landasan serta motivasi mengenai adposi, antara lain:

  1. Sebagai pemancing bagi yang tidak punya anak untuk bisa mempunyai anak kandung. Ini keterkaitannya dengan adanya kepercayaan masyarakat.
  2. Karena belas kasihan, bila disebabkan anak yang bersangkutan sudah tidak mempunyai orang tua.
  3. Adanya hubungan keluarga, maka diminta oleh orang tua kandung agar si anak dijadikan anaka anagkat oleh keluaraga lain.[26]
  4. Poligami
  5. Pengertian Poligami

Kata “poligami” berasal dari bahasa Yunani, polus yang artinya banyak dan gamein, artinya kawin. Jadi, poligami artinya kawin banyak atau suami beristri banyak. Secara terminologi, poligami terbagi dua, yakni poligami dan poliandri.[27]

Dalam kamus Besar Bahasa Indonesia poligami adalah ikatan perkawinan yang salah satu pihak memiliki atau mengawini beberapa lawan jenisnya dalam waktu yang bersamaan. Singkatnya, poligami adalah ikatan perkawinan yang salah satu pihak (suami) mengawini beberapa (lebih dari satu) isteri dalam waktu yang bersamaan.[28]

  1. Dasar Hukum Poligami

Ayat yang sering menjadi rujukan para ulama dalam hal poligami adalah Q.S an-Nisa ayat: 3, Allah SWT berfirman:

وَإِنْ خِفْتُمْ أَلا تُقْسِطُوا فِي الْيَتَامَى فَانْكِحُوا مَا طَابَ لَكُمْ مِنَ النِّسَاءِ مَثْنَى وَثُلاثَ وَرُبَاعَ فَإِنْ خِفْتُمْ أَلا تَعْدِلُوا فَوَاحِدَةً أَوْ مَا مَلَكَتْ أَيْمَانُكُمْ ذَلِكَ أَدْنَى أَلا تَعُولُوا

“Dan jika kamu takut tidak akan dapat berlaku adil terhadap (hak-hak) perempuan yatim (bilamana kamu mengawininya), maka kawinilah wanita-wanita (lain) yang kamu senangi: dua, tiga atau empat. Kemudian jika kamu takut tidak akan dapat berlaku adil, maka (kawinilah) seorang saja, atau budak-budak yang kamu miliki. Yang demikian itu adalah lebih dekat kepada tidak berbuat aniaya.” (Q.S An-Nisa: 3)

Ayat ini menunjukkan kebolehan dari Allah SWT kepada manusia untuk beristri sampat empat orang, tetapi kebolehan itu dibarengi dengan syarat-syarat yang cukup berat ditunaikan kecuali oleh orang-orang tertentu saja. Allah SWT membarengi kebolehan berpoligami dengan ungkapan, ”Jika kamu takut atau  cemas tidak akan dapat  berlaku adil, maka kawinilah satu perempuan saja”.[29]

Dengan demikian, poligami diperbolehkan dalam Islam dan merupakan perbuatan yang halal hukumnya. Karena merupakan hukum (syari’at) yang ditetapkan Allah SWT. dalam al-Qur’an.[30]

  1. Prosedur Poligami

Dalam Kompilasi Hukum Islam mengatur hal hal itu antara lain:

  1. Suami yang hendak berpoligami harus mendapat izin dari pengadialn agama, yang pengajuannya telah diatur dengan Peraturan Pemerintah.
  2. Perkawinan yang dilakukan dengan istri kedua, ketiga dan keempat tanpa izin dari pengadilan agama tidak mempunyai kekuatan hukum.

Pengadilan hanya memberikan izin kepada seorang suami yang akan berpoligami apabila:

  1. Istri tidak dapat menjalankan kewajiban sebagai istri.
  2. Istri mendapat cacat badan atau penyakit yang tidak dapat disembuhkan.
  3. Istri tidak dapat melahirkan keturunan.[31]
  4. Konsep Adil Dalam Poligami

Menurut Mustafa Diibul Bigha dalam hal pembagian hak terhadap para isteri ia merincikan sebagai berikut:

  1. Jumhur ulama sepakat bahwa membagi giliran menginap antara beberapa isteri adalah wajib, isteri muslimah ataupun kitabiyah kalau merdeka semua bagiannya sama, tapi ketika diantara mereka ada yang budak, maka isteri merdeka mendapatkan dua malam dan isteri budak satu malam.
  2. Bila hendak bepergian maka, harus mengundi di antara mereka dan harus keluar dengan isteri yang mendapatkan undian.
  3. Jumhur ulama sepakat bahwa bila kawin dengan isteri yang baru, maka harus mengkhususkan bermalam padanya tujuh malam kalau isteri tersebut masih perawan dan tiga malam kalau ia janda.
  4. Bila mengkhawatirkan isteri membangkang maka ia harus menasehatinya. Bila masih membangkang maka hendaknya berpisah tempat tidur, dan apabila masih membangkang juga maka diperbolehkan memukul.
  5. Adapun pembagian nafkah seperti makan, minum, pakaian, dan tempat tinggal tidak harus sama, yang penting sesuai dengan keadaan pribadinya (kaya atau miskin).[32]

 

 

BAB III

PENUTUP

 

Berdasarkan uraian di atas dapat diambil sebuah kesimpulan sebagai bagian penutup pembahasan ini, yaitu:

  1. Iddah adalah lamanya perempuan (istri) menunggu dan tidak boleh menikah setelah kematian suaminya atau setelah bercerai dari suaminya.

Menurut, ulama Syafi’iyah, “masa yang harus dilalui oleh istri (yang ditinggal mati atau dicerai oleh suaminya) untuk mengetahui kesucian rahimnya, mengabdi atau berbela sungkawa atas kematian suaminya.

  • Macam-macam Iddah
  1. Iddah Talak
  2. Iddah Hamil
  3. Iddah Wafat
  4. Iddah Wanita yang Kehilangan Suami.
  5. Iddah Perempuan yang Di-Ila’.
  6. Ruju’ adalah mengembalikan status hukum perkawinan secara penuh setelah terjadi talak raj’i yang dilakukan oleh bekas suami terhadap bekas istrinya dalam masa iddah dengan ucapan tertentu.
  7. Ihdad menurut Sayyid Abu Bakar al-Dimyathi ialah, menahan diri dari bersolek/berhias pada badan.
  8. Adopsi (adopsi, tabanni) adalah, yaitu suatu pengangkatan anak orang lain sebagai anak sendiri.

Q.S Al-Ahzab ayat 4 dan 5 secara umu memiliki makna sebagai berikut:

  1. Allah tidak menjadikan dua hati dalam satu dada manusia.
  2. Anak anghkatmu bukan anak kandungmu.
  3. Panggillah anak angkatmu menurut nama bapaknya
  4. Poligami adalah ikatan perkawinan yang salah satu pihak memiliki atau mengawini beberapa lawan jenisnya dalam waktu yang bersamaan.

 


 

Footnote:

[1] Slamet Abidin, Aminuddin, Maman Abd. Djaliel, Fiqih Munakahat (Bandung: CV Pustaka Setia, 1999) hlm. 121

[2]  Ulya Mukhiqqotun Ni’mah, Analisis Pendapat Imam Malik Iddah Bagi Wanita Yang Istihadhah, Skripsi, IAIN Walisongo, 2008, hlm. 14-15

[3] Ibid, hlm. 16-17

[4] Slamet Abidin, Op.Cit hlm. 123-138

[5] Ibid, hlm.139-147

[6] Tihami,Sohari Sahrani Fikih Munakahat: Kajian Fikih Nikah Lengkap (Jakarta: RajaGrafindo Persada, 2014) hlm. 327

[7] Munawwar Khalil, Relevansi Konsep Rujuk Antara Kompilasi Hukum Islam Dan Pandangan Imam Empat Madzhab, Skripsi, UIN Maulana Malik Ibrahim Malang, 2011 hlm. 16-17

[8] Abd. Rahman Ghazaly, Fiqih Munakahat (Jakarta: Kencana Prenada Media Group, 2006) hlm. 286

[9] Ibid, hlm. 287-288

[10] Dhevi Nayasari, ” Pelaksanaan Ruju’ Pada Kantor Urusan Agama Kecamatan Lamongan” Jurnal Independent Vol. 2 No. 1 hlm. 84

[11] Tihami, Sohari Sahrani, Fikih Munakahat: Kajian Fikih Nikah Lengkap, Op.Cit hlm. 330-331

[12] Ibid, hlm, 333-334

[13] Dhevi Nayasari, ” Pelaksanaan Ruju’ Pada Kantor Urusan Agama Kecamatan Lamongan” Op.Cit hlm. 85

[14] Munawwar Khalil, Relevansi Konsep Rujuk Antara Kompilasi Hukum Islam Dan Pandangan Imam Empat Madzhab, Op.Cit hlm. 29-30

[15] Tihami, Sohari Sahrani, Fikih Munakahat: Kajian Fikih Nikah Lengkap, Op.Cit hlm. 342-343

[16] Abd. Rahman Ghazaly, Fiqih Munakahat, Op.Cit hlm. 304

[17] Ibid, hlm. 305

[18] Ibid, hlm. 308-309

[19] Fredy Siswanto, Analisis Hukum Terhadap Ihdad Bagi Perempuan Ditinjau Dari Aspek Hukum Islam Dan Kesetaraan Gender, Skripsi, Universitas Bengkulu Fakultas Hukum, 2014 Hlm. 19-20

[20] Abd. Rahman Ghazaly, Fiqih Munakahat, Op.Cit hlm. 308-309

[21] Fredy Siswanto, Analisis Hukum Terhadap Ihdad Bagi Perempuan Ditinjau Dari Aspek Hukum Islam Dan Kesetaraan Gender, Loc.Cit hlm. 20

[22] Muderis Zaini, Adopsi Suatu Tinjauan Dari Tiga Sistem Hukum (Jakarta: Sinar Grafika, 2006) hlm. 4

[23] Ibid, hlm. 5-6

[24] Ibid, hlm. 51-52

[25] Ibid, hlm. 54

[26] Muderis Zaini, Adopsi Suatu Tinjauan Dari Tiga Sistem Hukum, Op.Cit hlm. 64-65

[27] Beni Ahmad Saebani, Fiqih Munakahat 2 (Bandung: CV Pustaka Setia, 2010) hlm. 151

[28] Haris Hidayatullah, “Adil Dalam Poligami Perspektif Ibnu Hazm” Religi: Jurnal Studi Islam Volume 6, Nomor 2, Oktober 2015 hlm. 212

[29] Abdillah Mustari, Poligami Dalam Reinterpretasi” dalam Sipakalebbi’ | Volume 1 Nomor 2 Desember 2014 hlm. 257

[30] Chandra Sabtia Irawan, Perkawinan Dalam Islam: Monogami Atau Poligami (Yogyakarta: An-Naba’, 2007) hlm. 60

[31] Tihami,Sohari Sahrani Fikih Munakahat: Kajian Fikih Nikah Lengkap, Op.Cit hlm. 369

[32] H Haris Hidayatullah, “Adil Dalam Poligami Perspektif Ibnu Hazm” Op.Cit hlm. 227

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s