Jama’ah Muslimin (Hizbullah) Wujud Khilafah ‘Alaa Minhajin Nubuwwah

Hasil gambar untuk al jama'ah(Wali Al-Fattah)

Saudara-saudara !

Sesungguhnya perhimpunan kaum Muslimin menurut Islam adalah mempunyai cara dan sifat khas, sebagaimana yang telah pernah dilaksanakan oleh para Nabi dan para Rasul atas Petunjuk ALLAH, yaitu dengan cara “JAMA’AH.”

Hidupnya para Nabi, para Rasul, termasuk Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa Sallam dengan para shahabatnya itu adalah hidup ber-”JAMA’AH”, bermasyarakat JAMA’AH, JAMA’AH MUSLIMIN.”

“JAMA’AH MUSLIMIN” tidaklah besifat individual, perseorangan; “JAMA’AH MUSLIMIN” tidaklah bersifat Nasionalis, kebangsaan, melainkan JAMA’AH MUSLIMIN itu adalah bersifat Kolektif, bersama-sama, bersifat Universil, menyeluruh, menyeluruh bagi Muslimin di mana saja berada, tegasnya JAMA’AH MUSLIMIN Lil ‘Alamiin.

Alhamdulillah, akhirnya kami dapat mewujudkan JAMA’AH MUSLIMIN. Ini adalah termasuk satu kurnia ALLAH setelah kita mendapat kebebasan dan setelah adanya titik-titik terang yang dimulai dengan pemeliharaan Hadits Shahih oleh Imam

Bukhori, Imam Muslim dan lain-lain yang kami sebutkan di atas. Di samping ini mulai banyak orang-orang yang mencintai Agamanya, sekalipun perbuatannya masih menyimpang jauh dari ajaran ISLAM, namun masih tetap mengaku Muslim, dan apabila dikatakan kafir atau musyrik, mereka pun marah. Kesemuanya ini adalah pertanda baik dan pertanda ingin baik. Insya ALLAH, nanti pada satu saat akan kembali sebagaimana masa lampau, sebagaimana zaman Rasul, zaman Shahabat atau zaman 4 (empat) Khulafaur-Rasidin Al Mahdiyyin.

Tetapi di sana sini masih juga terdapat keanehan, setelah kesemuanya itu terbuka, yaitu mereka mengaku Muslim, tetapi gerakannya melewati gerakan secara Atheis, suatu gerakan yang sama sekali tidak mengenal Tuhan, atau kalau belum dapat kita katakan anti Tuhan. Hal ini menunjukkan bahwa ilmu juangnya itu adalah ilmu atau cara atheis, sedang nuraninya tidak mau dusta. Ini dapat kita buktikan dimana mereka terpepet, nuraninya bilang: “Kami adalah Muslimin.”

Orang-orang yang berpendidikan semodel itu atau semodel Barat sekalipun, biasanya ada sebagian yang mengatakan “Barang usang itu akan berulang kembali.”

Dalam pada itu dalam hadits Nu’man bin Basyir disebutkan:

عَنِ النُّعْمَانِ بْنِ بَشِيْرٍ عَنْ حُذَيْفَةَ قَالَ: قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: تَكُوْنُ الـنُّـبُوَّةُ فِيْكُمْ مَا شَاءَ الله ُاَنْ تَكُونَ ثُمَّ يَرْفَعُهَا إِذَا شَاءَ أَنْيَرْفَعَهَا، ثُمَّ تَكُوْنُ خِلاَفَةً عَلىَ مِنْهَاجِ الـنُّـبُوَّةِ مَا شَاءَ الله ُ أَنْ تَكُونَ ثُمَّ يَرْفَعُهَا إِذَا شَاءَ أَنْ يَرْفَعَهَا، ثُمَّ تَكُوْنُ مُلْكًاعَاضًّا فَتَكُوْنَ مَاَشَاءَ الله ُ اَنْيَكُوَنَ، ثُمَّ يَرْفَعَهَا إِذَا شَاءَ أَنْ يَرْفَعَهَا، ثُمَّ تَكُوْنُ مُلْكًا جَبَرِيَّةً فَـتَكُوْنُ مَاشَاءَ الله ُ اَنْ تَكُوْنَ ثُمَّ يَرْفَعَهَا إِذَا شَاءَ أَنْ يَرْفَعَهَا، ثُمَّ تَكُونُ خِلاَ فَةً عَلَىمِنْهَاجِ الـنُّـبُوَّةِ ، ثُمَّ سَكَتَ. ( الحد يث رواه أحمد بن حنبل : مسند أحمد بن حنبل: 4 : 273)

Dari Nu’man bin Basyir, dari Hudzaifah, ia berkata: “Telah bersabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam:

“Adalah masa Kenabian itu ada di tengah-tengah kamu sekalian, adanya atas kehendak ALLAH; kemudian ALLAH mengangkatnya apabila Ia telah menghendaki untuk mengangkat-nya.

Kemudian ada masa Khilafah yang mengikuti jejak kenabian, adanya atas kehendak ALLAH; kemudian ALLAH mengangkatnya apabila Ia meng-hendaki untuk mengangkatnya.

Kemudian ada masa kerajaan yang menggigit, adanya atas kehendak ALLAH; kemudian ALLAH meng-angkatnya apabila Ia menghendaki untuk mengangkatnya.

Kemudian ada masa kerajaan yang menyombong, adanya atas kehendak ALLAH; kemudian ALLAH meng-angkatnya apabila Ia menghendaki untuk mengangkatnya.

Kemudian ada masa Khilafah yang mengikuti jejak Kenabian.”

Kemudian beliau (Nabi) diam.

(Hadits Riwayat Ahmad dan Baihaqi. Musnad Ahmad: 4: 273); Ahmad: 37/351/17680. Al Baihaqi: 7/413/ 2843; At-Thoyalisi: I/449/433).

Di sini terdapat suatu keadaan yang timbal balik, yaitu satu keadaan yang paling bahagia dan keadaan yang paling buruk, kemudian kembali dalam keadaan yang baik. Dari keadaan yang buruk untuk kembali dalam keadaan yang baik itu memerlukan adanya perubahan, yaitu suatu perubahan yang bersifat mental, bersifat moril dan bersifat ilmu. Kemudian naiklah setingkat. Apabila zaman Kerajaan yang menyombong, zaman yang paling buruk itu telah hapus, lalu Muslimin itu ada tingkatan, maka menurut Hadits, datanglah satu keadaan atau zaman yang disebutnya, “Khilafatan ‘alaa Minhaajin Nubuwwah”, Khalifah-Khalifah yang mengikti jejak para Nabi-Nabi.

Dalam situasi peningkatan dari keadaan yang buruk sampai kepada wujudnya kembali “Zaman Khalifah” tersebut, lebih jauh salah seorang shahabat bernama Hudzaifah bin Yaman telah bertanya kepada Rasulullah Shallalahu ‘alaihi wa Sallam dan mendapat jawaban sebagai berikut:

حَدِيْثُ عَنْ حُذَ يْفَةَ بْنِ اْليَمَانِ يَقُوْلُ : كَانَ النَّاسُ يَسْأَلُونَ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَنِ الْخَيْرِ وَكُنْتُ أَسْأَلُهُ عَنِ الشَّرِّ مَخَافَةَ أَنْ يُدْرِكَنِيفَقُلْتُ : يَا رَسُولَ اللَّهِ إِنَّا كُنَّا فِي جَاهِلِيَّةٍ وَشَرٍّ فَجَاءَنَا اللَّهُ بِهَذَا الْخَيْرِ فَهَلْ بَعْدَ هَذَا الْخَيْرِ شَرٌّ؟ قَالَ : نَعَمْ . فَقُلْتُ : هَلْ بَعْدَ ذَلِكَ الشَّرِّ مِنْ خَيْرٍ؟قَالَ : نَعَمْ وَفِيهِ دَخَنٌ. قُلْتُ : وَمَا دَخَنُهُ ؟ قَالَ : قَوْمٌ يَسْتَنُّونَ بِغَيْرِ سُنَّتِي وَيَهْدُونَ بِغَيْرِ هَدْيِي . وَفِى رِوَايَةٍ لِلْمُسْلِمٍ : قَوْمٌ يَسْتَنُّوْنَ بِغَيْرِ سُنَّتِىوَيَهْدُوْنَ بِغَيْرِ هَدْيِيِ. تَعْرِفُ مِنْهُمْ وَتُنْكِرُ . فَقُلْتُ : هَلْ بَعْدَ ذَلِكَ الْخَيْرِ مِنْ شَرٍّ ؟ قَالَ : نَعَمْ ، دُعَاةٌ عَلَى أَبْوَابِ جَهَنَّمَ مَنْ أَجَابَهُمْ إِلَيْهَا قَذَفُوهُ فِيهَا. فَقُلْتُ : يَا رَسُولَ اللَّهِ صِفْهُمْ لَنَا . قَالَ : نَعَمْ هُمْ مِنْ جِلْدَتِنَا وَيَتَكَلَّمُونَ بِأَلْسِنَتِنَا . قُلْتُ : يَا رَسُولَ اللَّهِ فَمَا تَأْمُرُنِى إِنْ أَدْرَكَنِي ذَلِكَ ؟ قَالَ : تَلْزَمُجَمَاعَةَ الْمُسْلِمِينَ وَإِمَامَهُمْ. (وَفِى رِوَايَةٍ لِإِبْنُ مَاجَة: فَلْزَمْ جَمَاعَةَ الْمُسْلِمِيْنَ وَإِمَامَهُمْ!). فَقُلْتُ : فَإِنْ لَمْ تَكُنْ لَهُمْ جَمَاعَةٌ وَلَا إِمَامٌ ؟ قَالَ :فَاعْتَزِلْ تِلْكَ الْفِرَقَ كُلَّهَا وَلَوْ أَنْ تَعَضَّ عَلَى أَصْلِ شَجَرَةٍ حَتَّى يُدْرِكَكَ الْمَوْتُ وَأَنْتَ عَلَى ذَلِكَ .* ( الحد يث رواه البخارى فى صخيحه:كتاب الفـتن باب كيف الأمر إذا لم تكن جماعة: جز4 صفحه 225 ، ورواه مسلم فى صخيحه: كتاب الإمرة باب أمر بالـزوم الجماعة عندظهرالفتن وتحذير الدعاة إلى الكفر: جز 2 صفحه 134-135، ورواه إبن ماجه فى سننه: كتاب الفـتن: جز 2 صفحه :1317 3979: )

“Hadits dari Hudzaifah bin Yaman, ia berkata: “Adalah orang-orang (para shahabat) bertanya kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam tentang kebaikan, dan adalah saya bertanya kepada beliau tentang kejahatan, (karena aku) khawatir kejahatan itu menimpa diriku, maka bertanyalah saya:

“Ya Rasulullah, sesungguhnya kami telah berada dalam Ke-Jahiliyahan dan keburukan, lalu ALLAH mendatangkan kebaikan ini (ISLAM) kepada kami; apakah setelah kebaikan ini akan ada lagi keburukan?”

Beliau menjawab: “Ya.”

Aku bertanya: “Apakah sesudah keburukan itu nanti ada lagi kebaikan?”

Beliau menjawab: “Ya, tetapi di dalamnya ada dakhon.”

Aku bertanya : “Dan perihal apakah dakhon itu?”

Beliau menjawab: “Yaitu qaum yang menempuh sunnah tetapi bukan berdasarkan sunnahku, dan mengambil petunjuk bukan berdasar petunjukku. Dan di lain riwayat: bagi Imam Muslim: “Yaitu orang-orang yang menjalani cara-cara yang lain dari Sunnahku, dan mengikut petunjuk yang lain dari petunjukku”). Engkau ketahui dari mereka itu dan engkaumengenalinya tetapi engkau mengingkarinya.”

Aku bertanya: “Apakah sesudah kebaikan itu ada lagi keburukan?”

Beliau menjawab: “Ya, yaitu penyeru-penyeru ke arah pintu-pintu Jahannam. Barangsiapa yang mengikuti seruan mereka, maka mereka melemparkan ke dalam Jahannam itu.”

Aku bertanya: “Jelaskanlah tanda-tanda mereka itu kepada kami.”

Beliau menjawab: “Mereka itu berkulit seperti kulit-kulit kita dan berbicara menurut lidah-lidah (bahasa) kita.”

Aku bertanya: “Apakah yang tuan perintahkan kepada kami, bila kami menemui keadaan sedemikian itu?”

Beliau menjawab: “Tetaplah kamu pada “JAMA’AH MUSLIMIN” dan Imaam mereka!” (dalam hadits riwayat Ibnu Majah: jawaban Nabi itu dalam bentuk fi’il amr (kata kerja perintah/red).

Aku bertanya: “Kalau tidak ada JAMA’AH dan IMAAM lagi bagi mereka?”

Beliau menjawab: “Hindarkan semua firqah-firqah itu, walaupun sampai kamu menggigit akar kayu hingga kau menemui ajal, kamu tetap demikian.”(Hadits Riwayat Bukhori, Muslim, Ibnu Majah dan Ahmad).

Telah nampak, lebih jelas lagi kiranya bagi kita, bahwa satu-satunya jalan, artinya tidak ada lagi selain itu, untuk mewujudkan “Khilafatun ‘alaa Minhaajin Nubuwaah” adalah JAMA’AH MUSLIMIN dan IMAAM-NYA. Kecuali peningkatan maksimal itu sudah tidak memungkinkan lagi, disebabkan karena arus kejabariyahan itu masih menderas, baik yang langsung melanda fisik, maupun yang tidak langsung, yaitu yang melanda mental, yang meliputi bidang ilmu dan cara berpikir. Meskipun demikian, toh masih ada perintah, yaitu:

“Fa’tazil tilkal firaaqa kullaha….”, hindarkan semua cara-cara itu yang akan mencerai-beraikan Ummat.

Saudara-saudara!

Berdasarkan akhir dari dua Hadits yang berbunyi: “Tsumma sakata” dan “Fa’tazil”, sudah tidak ada masalah lain lagi dan sudah tidak ada ciri-ciri Muslimin di dalam masyarakat, ini artinya akan menghadapi kerusakan total, atau tegasnya, mungkin Qiyamat. Ini adalah fase terakhir, yaitu fase kelima kepemimpinan Muslimin setelah Khilafah dan fase Jama’ah.

Di mana kita berada sekarang?

Sekarang timbul pertanyaan, dalam fase manakah sebenarnya kita dewasa ini? Jawabnya: secara historis, dewasa ini kita dalam fase “Khilafah dan fase Jama’ah”. Karenanya janganlah kita lewatkan begitu saja fase yang sedang kita injak dewasa ini. Kita, Insya ALLAH, belum sampai kepada fase yang terakhir, fase “Sakata” dan fase “Fa’tazil”. Namun soalnya sekarang ini, sudah sampai di mana kita meningkat menuju ke arah itu, ke arah Khilafah dan Jama’ah.

Memang hal ini sangat sulit dan susah untuk kita sadari jika kita tidak memiliki secara historis, atau sekalipun memiliki. Ya, hanya memiliki begitu saja, hingga seakan-akan tidak ada sesuatu yang memerlukan perubahan atau peningkatan. Maka justru untuk inilah perlunya ada perubahan sebagaimana yang kami sebutkan di atas, yaitu perubahan yang bersifat mental, moril dan ilmu.

Kalau kita lihat begitu saja, memang Muslimin dewasa ini telah bergerak maju dan meningkat tinggi, yang seakan-akan telah dapat menaikkan derajat mereka sendiri. Tetapi apa sebab orang-orang di luar ISLAM dengan tandas berani mengadakan reaksi yang sifatnya tantangan secara langsung, seperti kita dengar dari astronaut Rusia yang mengatakan “Di angkasa saya cari Tuhan, tapi Tuhan tidak ada”. Kata-kata itu adalah persis sebagaimana kata-kata Fir’aun pada zamannya dahulu. Dia berani mengatakan demikian itu, reaksi yang menantang itu, bukanlah karena keunggulannya di bidang teknologi, atau cukupnya alat-alat perang serta lengkapnya perbekalan, tetapi karena dia telah dapat melihat dengan suatu penglihatan secara fakta dan histories, bahwa gerakan dan peningkatan kaum Muslimin tadi sebenarnya hanya merupakan suatu gerakan dan peningkatan yang berkisar di dalam lingkaran atau sircle yang kecil yang hanya dapat berputar-putar di situ dan dalam keadaan yang begitu-begitu saja, serta tidak ada tanda-tanda untuk mendapatkan jalan keluar. Malah dapat dimisalkan sebagai tupai di dalam sangkar kawat, dia bergerak, dia meloncat, meloncat yang dapat mengeluarkan keringat, dan disertai napas yang terengah-engah, namun dia masih tetap di dalam sangkar kawat itu-itu juga.

Ini artinya, kaum Muslimin masih dapat dipermainkan oleh cukup seorang saja dari pada anak-cucu kaum kafirin-musyrikin “meskipun kaum Muslimin itu sudah meliputi ratusan juta jumlahnya.” Hal ini hendaknya janganlah kita terima begitu saja, melainkan harus kita jadikan bahan kesadaran dan ke-insafan bahwa kemuliyaan kaum Muslimin pada zaman Rasul dan para Shahabat dahulu itu bukan berdasarkan atas jumlah banyaknya, melainkan berdasarkan atas Taqwa-nya yang di antaranya dapat mewujudkan satu keutuhan atau kekompakan bagi kaum Muslimin itu keseluruhannya.

Kalau kejadian itu tidak juga kita sadari, maka ketahuilah bahwa dia atau mereka akan tetap merencanakan sampai tingkat pelaksanaannya, lambat atau cepat, terhadap kaum Muslimin, sebagaimana apa yang telah direncanakan oleh nenek moyangnya

kafirin-musyrikin sejak dahulu itu.

Apabila kami teliti lebih dalam lagi, maka reaksi-reaksi seperti “Di angkasa saya cari Tuhan, tapi Tuhan tidak ada” dan lain-lain sebagai rentetannya yang telah terjadi selama ini, sebenarnya itu hanyalah sebagai pendahuluan saja atau sebagai proef (percobaan) saja, artinya hanya untuk melihat jebol tidaknya ranjau atau kurungan yang telah lama dijebakkan kepada kaum Muslimin itu. Kalau dengan reaksi itu ternyata dapat jebol dan berantakan hingga kaum Muslimin dapat wujud menjadi satu tubuh, mereka pun akan mundur untuk selanjutnya. Hal ini menunjukkan bahwa perwujudan Muslimin menjadi satu tubuh itu adalah merupakan senjata yang ampuh dan yang sangat ditakuti oleh kaum kafirin musyrikin sejak dahulu kala.

Saudara-saudara !

Biarlah musuh-musuh ALLAH itu mengatur rencana dengan berbagai cara yang berdasarkan ratio dan otak mereka, karena di samping itu ALLAH juga berencana. Malahan rencana ALLAH ini lebih hebat, lebih ampuh lebih kekal dan lebih sempurna. Hebat, tidak berarti hebat untuk menakuti manusia, melainkan siapa yang mau mengikuti rencana ALLAH ini adalah berarti diikuti atau diiringi oleh Rahmat-Nya, dicurahi Kurnia-Nya dan dijamin tidak akan sesat selama- lamanya, baik di dunia maupun di Akhirat kelak. Berkenaan dengan semua rencana ALLAH Subhanahu wa Ta’ala itu telah termaktub di dalam Kitab-Nya Al Qur’an, sedang pelaksanaan itu pun telah dicontohkan oleh Rasul-Nya yang disebut Sunnah, maka dengan sendirinya seseorang Muslim yang telah mengikut Qur’an dan Sunnah itu adalah berarti mendapat jaminan sebagaimana yang disabdakan oleh Rasul sebagai berikut:

أَنَّ رَسُوْلَ اللهِ صَلَّى الله ُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ : تَرَكْتُ فِيْكُمْ أَمْرَيْنِ لَنْ تَضِلُّوْا مَاتَمَسَّكْتُمْ بِهِِمَا كِتَابَ اللهِ وَسُنَّةَ نَبِيِّهِ . (الحديث رواه إمام مالك)

Sesungguhnya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam telah bersabda: “Kami tinggalkan dua perkara untuk kamu, kamu tidak akan sesat selama-lamanya, selama kamu berpegang pada keduanya, yaitu Kitabullah dan Sunnah Nabi-Nya.” (Hadits Riwayat Imam Malik di dalam Muwaththa’: juz 2 halaman 208; : 5/371/1395).

Kaum Muslimin wajib percaya bahwa Wahyu ALLAH dan Sunnah Rasul itu adalah masih cukup, masih berguna dan pasti dapat manfa’at untuk menghadapi segala tantangan zaman, tantangan teori dari orang-orang di luar Islam dan tantangan ratio dari pada manusia, termasuk tantangan politis-idiologis, baik dalam cara hidup maupun dalam cara berhimpun.

Kalau demikian, mengapa kita kaum Muslimin ini masih meminjam atau menjiplak cara-cara mereka itu, sedang cara kita sendiri sudah ada, dan sudah pula pernah dilaksanakan oleh para Rasul dan para Anbiya’, khususnya Rasulullah Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa Sallam dan para Sahabatnya.

Jadi cara berhimpun kaum Muslimin yang berbentuk “JAMA’AH” itu bukanlah kehendak seseorang, milik pribadi, bikinan si-Pulan atau akal-akalan dari pada manusia, melainkan itu adalah Wahyu ALLAH, milik ALLAH. Karena itu, marilah kita menfa’atkan bersama-sama, kita bina bersama-sama, yang sudah pandai tidak usah menyombongkan diri, yang belum pandai tidak usah merasa rendah diri. Sebagaimana ALLAH mengatur terbitnya matahari, sinarnya kita

rasakan bersama-sama, tidak usah mengatakan “kami yang lebih dulu mendapat sinar matahari”.

Kami ulangi sekali lagi, marilah kita nikmati bersama, tidak usah ada yang menyombongkan diri dan tidak usah ada yang merasa rendah diri, sebab itu bukanlah menjadi tanggungan dari pada pribadi, bukan tanggungan dari pada kami dan bukan tanggungan dari pada saudara-saudara, tetapi adalah tanggungan dari pada ALLAH Subhanahu wa Ta’ala dan Rasul-Nya.

Saudara-saudara !

Apa yang kami kemukakan itu adalah satu Ni’mat. Kita tinggal melaksanakan kembali. Kita tidak usah malu-malu, tidak usah pikir-pikir dulu dan tidak usah tunda-tunda lagi, sebagaimana pada waktu pertama kali kami ma’lumkan di Adhuctstaat, Jalan Taman Suropati No. 1, Menteng Jakarta tahun 1372 H. (1953 M.). Waktu itu kami ma’lumkan, bahwa satu-satunya tempat berhimpun bagi kaum Muslimin yang harus dilaksana-kan dengan cepat adalah bentuk “JAMA’AH”.

Setelah hal itu disiarkan melalui Koran-koran, pada waktu itu kami mendapat reaksi, yang pertama-tama disebutkan: “Wah, ini apa-apa-an ! Kita mau dibawa ke zaman onta kembali”. Jadi kembali kepada “JAMA’AH” menurut faham ikhwan kita (kaum Muslimin/red.), bukan orang lain, katanya mau dibawa ke zaman onta kembali. Hal ini tentu saja kami ma’afkan, karena ikhwan tadi mungkin belum menyelidiki pada waktu itu. Tetapi setelah kami dapat menyampaikan dalil-dalil, dengan kehendak ALLAH, yang makin hari makin tambah terang itu, maka Alhamdulillah, mereka-mereka itu masing-masing mengaku “Kami juga Jama’ah, saya juga Jama’ah. Kami Jama’ah ini, saya Jama’ah itu”. Sekalipun cara-caranya itu masih seperti yang tadi-tadi juga, namun dengan pengakuan itu menunjukkan adanya tingkatan, yaitu dari mencela, meningkat mengaku, setelah mendapatkan dalil-dalilnya.

Saudara-saudara !

Apa yang kami kemukakan itu adalah satu Ni’mat. Kita tinggal melaksanakan kembali. Kita tidak usah malu-malu, tidak usah pikir-pikir dulu dan tidak usah tunda-tunda lagi, sebagaimana pada waktu pertama kali kami ma’lumkan di Adhuctstaat, Jalan Taman Suropati No. 1, Menteng Jakarta tahun 1372 H. (1953 M.). Waktu itu kami ma’lumkan, bahwa satu-satunya tempat berhimpun bagi kaum Muslimin yang harus dilaksana-kan dengan cepat adalah bentuk “JAMA’AH”.

Setelah hal itu disiarkan melalui Koran-koran, pada waktu itu kami mendapat reaksi, yang pertama-tama disebutkan: “Wah, ini apa-apa-an ! Kita mau dibawa ke zaman onta kembali”.

Jadi, kembali kepada “JAMA’AH” menurut faham ikhwan kita (kaum Muslimin/red.), bukan orang lain, katanya mau dibawa ke zaman onta kembali. Hal ini tentu saja kami ma’afkan, karena ikhwan tadi mungkin belum menyelidiki pada waktu itu.

Tetapi setelah kami dapat menyampaikan dalil-dalil, dengan kehendak ALLAH, yang makin hari makin tambah terang itu, maka Alhamdulillah, mereka-mereka itu masing-masing mengaku “Kami juga Jama’ah, saya juga Jama’ah. Kami Jama’ah ini, saya Jama’ah itu”. Sekalipun cara-caranya itu masih seperti yang tadi-tadi juga, namun dengan pengakuan itu menunjukkan adanya tingkatan, yaitu dari mencela, meningkat mengaku, setelah men-dapatkan dalil-dalilnya.

Memang di antara dalil-dalil ada yang memburu, seperti Sabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam dalam Hadits:

عَنُِ ابْنِ عَبَّاسٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ : مَنْ فَارَقَ الْجَمَاعَةَ شِبْرًا فَمَاتَ فَمِيتَةٌ جَاهِلِيَّةٌ . ( الحديث رواهالبخارى، كتاب الفتن جزء 4 صفحة 156 (222 ) ، ومسلم ، كتاب الإماره جزء 2 صفحة 136 ، و الترمذى جزء 9 صفحة 10 )

Dari Ibnu Abbas rodiallahu ‘anhuma, dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda: “Barangsiapa yang keluar dari Jama’ah sekedar sejengkal, kemudian menemui ajalnya, maka matinya itu laksana mati Jahiliyah.” (Hadits Riwayat Bukhori, Kitabul Fitan, juz 4, halaman 156 (222); Muslim, Kitabul Imarah, Juz 2, halaman 136; dan At-Turmudzi, juz 9, halaman 10).

Nah, siapa yang mau. Sudah mengaku Muslim di waktu hidup, dikatakan Jahiliyah di waktu mati. Makanya buru-buru masing-masing mengaku Jama’ah. Mestinya bukanlah buru-buru dalam pengakuannya, melainkan buru-buru dalam pelaksanaannya.

Ini adalah sudah baik karena ingin baik. Ini adalah merupakan satu tingkatan, karena pada waktu mencela Jama’ah, yang disebutnya kembali ke zaman onta itu, pikiran mereka masih terikat erat dengan kelembagaan atau kepartaian, sekarang sudah mulai mencoba melonggarkan tali pengikat, meskipun belum sampai ke arah terlepas sama sekali, yaitu dengan jalan tingkat mengaku Jama’ah.

Baiklah, tinggal kami menambah syukur kepada ALLAH, Alhamdulillah ! Tetapi harus meningkat terus, hingga dari pengakuan itu sampai kepada tingkat pelaksanaan.

Untuk itu tentu harus memawas dirinya masing-masing dan mencocok-kan atas Jama’ah yang telah diakui itu dengan Jama’ah yang telah dipraktekkan oleh Rasulullah Shallal-lahu ‘alaihi wa Sallam dan para Shahabatnya. Sesuai dengan jiwa peningkatan itu, maka sambil mohon ampun kepada ALLAH Subhanahu wa Ta’ala sedikit demi sedikit apa yang masih menyalahi Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam itu mulai kita buangi jauh-jauh.

Sekarang telah kita yakinkan, bahwa “JAMA’AH” itu adalah prinsip dari pada ALLAH dan Rasul-Nya, sedang tehnisnya adalah telah dilaksanakan dan dicontohkan oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam yang kemudian dilanjutkan oleh para Shahabat-shahabat beliau. Jadi kalau sudah jelas demikian, apalagi yang kita ragukan?

Andaikata pola dan tehnik itu

berlainan dengan pola dan tehnik dari pada ALLAH dan Rasul-Nya, maka itu sudah terang bukan “JAMA’AH” menurut ALLAH dan Rasul-Nya. Oleh karena itu tidak bisa dan tidak boleh mengaku sembarangan saja. Dan juga suatu pengakuan yang tidak cocok dengan kehendak ALLAH itu, sebenarnya adalah merupakan tingkah laku yang tidak tawadlu’ dari sesorang hamba terhadap Tuhan-nya.

Jenis masyarakat

Untuk menghindarkan tingkah laku yang tidak tawadlu’ itu, kiranya perlulah kami menyampaikan penjelasan tentang “JAMA’AH” dan tentang lembaga-lembaga atau kelompok-kelompok manusia, menurut ilmu kemasyarakatan atau sosiologis. Selain itu penjelasan ini juga bermaksud untuk menghilangkan kesalah-fahaman dalam menanggapi persoalan “JAMA’AH”, yang sampai pada sa’at sekarang ini umumnya masih menganggap sama saja antara “JAMA’AH” dengan lembaga-lembaga atau persyerikatan-persyeritakan yang dijelmakan dari karya otak manusia.

Adapun jenis masyarakat itu menurut sosiologis atau ilmu kemasyarakatan, dikelompokkan men-jadi dua kelompok, yaitu jenis Gemeenschap dan jenis Gezelschap.

Yang masuk jenis Gemeenschap ini misalnya: desa-desa, kampung-kampung, kota-kota, sedang yang masuk Gezelschap itu seperti: perhimpunan-perhimpunan, koperasi-koperasi, rukun-kampung-rukun kampung, rukun kematian-rukun kematian, lembaga atau persyerikatan-persyerikatan, baik yang bersifat sosial, ekonomi maupun yang bersifat politik.

Kalau demikian, lalu “JAMA’AH” itu masuk dimana, masuk jenis Gemeenschap atau masuk Gezelschap?

Masuk semacam perdesaan dan sebagainya atau masuk semacam persyerikatan dan sebagainya?

Apabila kita tidak tinjau dari segi sosiologis secara ilmiyah umumnya, maka “JAMA’AH” itu masuk jenis Gemeenschap, walaupun secara khusu-siyah itu terdapat perbedaan, namun perbedaan itu hanyalah persoalan motifnya saja. Karena Gemeenschap tadi bukanlah Gezelschap, nyatalah “JAMA’AH” itu bukan persyerikatan dan lain sebagainya.

Sekarang ini kami terangkan perbedaan khusus, perbedaan motif antara “JAMA’AH” dan Gemeenschap.

Motif Gemeenschap pada aumum-nya adalah ekonomi dan keamanan, sedang motif “JAMA’AH” adalah Rahmat dan Ridha ALLAH.

Gemeenschap yang motifnya ekonomi dan keamanan itu misalnya, transmigrasi, pemindahan orang dari daerah minus ke daerah surplus, atau dari daerah tandus ke daerah subur, seperti di Indonesia ini pemindahan orang-orang dari daerah Pulau Jawa ke daerah Lampung di Pulau Sumatera.

Dalam satu daerah yang baru ini orang-orang tersebut dapat hidup bersama-sama, memperkembangkan ekonomi dan keamanan yang sampai kepada keperluannya, hingga akhirnya jadilah desa, kampung atau kota, qobilah-qobilah atau banu-banu. Lama kelamaan nanti biasanya dari situ akan timbul juga Gemeenschap yang motifnya itu keturunan, misalnya: qobilah A akan menjadi banu ini atau banu itu, ini motifnya adalah keturunan kemudian ekonomi dan keamanan. Di situ qobilah tersebut dapat hidup bersama-sama dengan banu. Inilah motif-motif Gemeenschap yang sangat berbeda dengan motif “JAMA’AH.”

Motif Jama’ah

Adapun motif “JAMA’AH” itu dapat kami ambilkan dari salah satu Hadits yang diterangkan oleh ‘Umar bin Al Khottob, ia berkata bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam telah bersabda:

إِنَّ مِنْ عِبَادِ اللهِ لَأُنَاسًا مَاهُمْ بِأَنْبِيَاءَ وَلاَ شُهَدَاءَ يَغْبِطُهُمُ اْلأَنْبِيَاءُ وَالشُّهَدَاءُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ بِمَكَانِهِمْ مِنَ اللهِ تَعَالَى. قَالُوْا يَارَسُوْلَ اللهِ تُخْبِرُنَا مَنْ هُم؟قَالَ هُمْ قَوْمٌ تَحَابُوْا بَرُوْحِ اللهِ عَلَى غَيْرِ أَرْحَامٍ بَيْنَهُمْ وَلاَ أَمْوِالٍ يَتَعَاطَوْنَهَا، فَوَ اللهِ إِنَّ وُجُوْهَهُمْ لَنُوْرٌ وَإِنَّهُمْ عَلَى نُوْرٍ لاَيَخَافُوْنَ إِذَا حَزِنَ النَّاسُوَقَرَأَ هَذِهِ الْأَيَةَ: أَلاَ إِنَّ أَوْلِيَاءَ اللهِ لاَخَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلاَهُمْ يَحْزَتُوْنَ. (حديث رواه أبو دَود عَنْ عُمَرَ)

“Bahwasanya dari hamba-hamba ALLAH ada orang-orang yang mereka itu bukan Nabi-Nabi dan bukan pula syuhada, tetapi mereka itu menyerupai Nabi-Nabi dan Syuhada tentang kedudukan mereka di sisi ALLAH.”

Berkata mereka (para shahabat): “Ya Rasululah, mohon kami diberitahu siapa gerangan mereka itu?” Rasulullah bersabda: “Mereka itu suatu kaum yang berkasih-kasihan karena rahmat ALLAH (Al Qur’an), bukan karena pertalian kekeluargaan di antara mereka, dan bukan pula karena harta benda yang mereka saling memberikan.

Maka demi ALLAH, sesungguhnya wajah-wajah mereka itu Nur, dan bahwa mereka di atas Nur, serta tidaklah mereka gentar (khawatir) di kala orang-orang merasa takut.”

Lalu beliau membaca ayat ini: “Bukankah! (ingatlah) bahwa penolong-penolong ALLAH itu tidak merasa gentar (takut) dan tidak pula mereka itu bersedih.” (Hadits Riwayat Abu Dawud: 3063 dari ‘Umar rodliallahu ‘anhu).

Sungguh nyata di dalam Hadits itu diterangkan, bahwa orang-orang yang dapat hidup bersama-sama dan disertai rasa kasih sayang sesamanya, sebagai realisasi dari motif penghargaan terhadap Rahmat ALLAH itu, kedudukannya akan disamakan dengan kedudukan para Rasul dan para Syuhada di sisi ALLAH nanti, padahal mereka-mereka itu bukan Rasul dan bukan pula Syuhada.

Jadi, orang-orang itu berhimpun motifnya adalah Rahmat ALLAH, Ridha ALLAH, panggilan ALLAH, pelaksanaan Kitab-Nya Al-Qur’an. Mereka itu terlepas dari motif ekonomi, motif keamanan, motif keturunan, sebagaimana adanya desa, adanya kemasyarakatan, adanya qabilah dan sebagainya yang telah kami terangkan di atas.

Selain kami bersyukur kepada ALLAH, kami menyeru kepada segenap kaum Muslimin untuk mengoreksi atau meneliti kembali terhadap wadah-wadah yang ada sekarang yang diakukan sebagai Jama’ah itu, telah sesuaikah dengan pelaksanaan Rasul dan para Shahabatnya atau belum. Kalau belum, dimana letak kesalahannya. Kita harus ikhlas meninggalkan kesalahan-kesalahan. Kita harus ikhlas membuang kelemahan-kelemahan. Kita harus ikhlas meninggalkan kritikan-kritikan terhadap keadaan yang ada dan berlaku, kita harus ikhlas meninggalkan cemo’ohan-cemo’ohan. Kita harus ikhlas membuang rasa rendah diri, sombong dan iri-hati. Akhirnya kita harus ikhlas memenuhi panggilan ALLAH dan Rasul-Nya untuk mewujudkan “JAMA’AH” itu sekarang juga.!!!

Sumber : http://aljamaah-khilafah.blogspot.co.id

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s