TATKALA MANUSIA DIPANGGIL BERSAMA IMAMNYA

Hasil gambar untuk MANUSIA DIPANGGIL BERSAMA IMAMAllah subhanahu wata’la berfirman:
ﻳَﻮْﻡَ ﻧَﺪْﻋُﻮ ﻛُﻞَّ ﺃُﻧَﺎﺱٍ ﺑِﺈِﻣَﺎﻣِﻬِﻢْ ۖ ﻓَﻤَﻦْ ﺃُﻭﺗِﻲَ ﻛِﺘَﺎﺑَﻪُ ﺑِﻴَﻤِﻴﻨِﻪِ ﻓَﺄُﻭﻟَٰﺌِﻚَ ﻳَﻘْﺮَﺀُﻭﻥَ ﻛِﺘَﺎﺑَﻬُﻢْ ﻭَﻟَﺎ ﻳُﻈْﻠَﻤُﻮﻥَ ﻓَﺘِﻴﻠًﺎ ﻭَﻣَﻦ ﻛَﺎﻥَ ﻓِﻲ ﻫَٰﺬِﻩِ ﺃَﻋْﻤَﻰٰ ﻓَﻬُﻮَ ﻓِﻲ ﺍﻟْﺂﺧِﺮَﺓِ ﺃَﻋْﻤَﻰٰ ﻭَﺃَﺿَﻞُّ ﺳَﺒِﻴﻠًﺎ
“(Ingatlah) suatu hari (yang pada hari itu) Kami panggil tiap umat dengan Imamnya (pemimpinnya); dan barang siapa yang diberikan kitab amalannya di tangan kanannya, maka mereka ini akan membaca kitabnya itu dan mereka tidak dianiaya sedikit pun. Dan barang siapa yang buta (hatinya) di dunia ini, niscaya di akhirat (nanti) ia akan lebih buta (pula) dan lebih tersesat dari jalan (yang benar).” [QS Al-Isrâ`/17:71-72]

Ayat diatas menerangkan bahwa pada hari kiamat nanti manusia akan dipanggil menghadap Allah bersama Imamnya, yang dimaksud Imaam disini adalah Imaamnya kaum muslimin yang diangkat berdasarkan syari’at bai’at ditiap-tiap zamannya.

Dan begitu juga banyak sekali hadits yang membicarakan masalah kedatangan Imaam Mahdi diakhir zaman ini namun apakah ada dalilnya kita diperintahkan untuk menanti kedatangannya ? Jelas tidak ada sama sekali, jikapun ada tentunya didalam hadits lain Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam sudah mengabarkannya, adapun Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam hanya mengabarkan akan kedatangan seorang Imaam Mahdi yang namanya serupa dengan Rasulullah yang kelak akan memimpin kaum muslimin dengan segala keadilannya.

Dan banyak sekali diantara kaum muslimin yang terbuai dan terlena tentang hadits akan kedatangan seorang Imaam Mahdi sehingga mereka menanti-nanti kehadirannya sehingga melupakan kewajiban untuk mengangkat atau membai’at seorang Imaam atau Khalifah, lalu bagaimana jika yang dinanti-nanti tidak kunjung datang ? Dan bagaimana jika mati belum sempat bertemu dan berbai’at kepada Imaam Mahdi ? Lantas bagaimana jika mati tanpa mempunyai Imaam dan tanpa mempunyai ikatan bai’at pada leher ? Lalu hujjah (alasan) apa yang akan dipersiapkan dihadapan Allah kelak pada hari kiamat ?

Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam bersabda:
ﻣَﻦْ ﻣَﺎﺕَ ﺑِﻐَﻴْﺮِ ﺇِﻣَﺎﻡٍ ﻣَﺎﺕَ ﻣِﻴﺘَﺔً ﺟَﺎﻫِﻠِﻴَّﺔً
“Barang siapa yang mati tidak mempunyai Imaam, maka matinya laksana bangkai jahiliyyah”. (H.R. Ahmad)

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
ﻣَﻦْ ﺧَﻠَﻊَ ﻳَﺪًﺍ ﻣِﻦْ ﻃَﺎﻋَﺔٍ ﻟَﻘِﻲَ ﺍﻟﻠَّﻪَ ﻳَﻮْﻡَ ﺍﻟْﻘِﻴَﺎﻣَﺔِ ﻻَ ﺣُﺠَّﺔَ ﻟَﻪُ ﻭَﻣَﻦْ ﻣَﺎﺕَ ﻭَﻟَﻴْﺲَ ﻓِﻲ ﻋُﻨُﻘِﻪِ ﺑَﻴْﻌَﺔٌ ﻣَﺎﺕَ ﻣِﻴﺘَﺔً ﺟَﺎﻫِﻠِﻴَّﺔً
“Barang siapa melepas tangan dari ta’at akan bertemu dengan Allah pada hari kiamat dengan tidak punya alasan (hujjah). Dan barang siapa mati sedang tidak ada ikatan bai’at pada lehernya maka ia mati seperti matinya orang jahiliyah.” (HR. Muslim dari Abdullah bin Umar, Shahih Muslim dalam Kitabul Imaroh: II/136)

Yang dimaksud “seperti mati Jahiliyah (bodoh)” adalah kematian dalam kesesatan, perpecahan dan tidak mempunyai Imaam yang dita’ati. (Hamisy Shahih Muslim II/136)

Ke Imamahan, Imaam Mahdi tidak berdiri sendiri melainkan Estafet melanjutkan ke Imamahan yang sudah ada, dibai’atnya Imaam Mahdi setelah terdengar wafatnya seorang Imaam atau Khalifah sebagaimana hadits berikut ini.

“Akan terjadi perselisihan setelah wafatnya seorang pemimpin (Imaam,Khalifah) maka keluarlah seorang lelaki dari penduduk Madinah mencari perlindungan ke Mekkah, lalu datanglah kepada lelaki ini beberapa orang dari penduduk Mekkah, lalu mereka membai’at Imaam Mahdi secara paksa, maka ia dibai’at di antara Rukun dengan Maqam Ibrahim (di depan Ka’bah). Kemudian diutuslah sepasukan manusia dari penduduk Syam, maka mereka dibenamkan di sebuah daerah bernama Al-Baida yang berada di antara Mekkah dan Madinah.” (HR Abu Dawud 3737)

Sebagaimana hadits diatas bahwa dibai’atnya Imaam Mahdi setelah terjadi perselisihan diantara kaum muslimin setelah wafatnya seorang pemimpin (Imaam,Khalifah) sebelumnya, itu artinya kepemimpinan Imaam Mahdi memang tidak berdiri sendiri melainkan sebelumnya sudah ada kepemimpinan kaum muslimin, inilah yang disalah fahami oleh umat Islam diakhir zaman ini sehingga mereka mengatakan bahwa berbai’at kepada selain Imaam Mahdi tidak sah, bid’ah dan batal menurut ilmu logika ro’yu bukan dalil.

Ayat QS Al-Isrâ`/17:71-72 di atas mengisyaratkan dua golongan manusia, yang satu golongan yang berjama’ah berimamah, yang ke dua adalah golongan yang tersesat tidak mempunyai Imaam.

Pantas saja Rasulullah men stempel mencap, orang yang mati tanpa berimamah (tanpa mempunyai Imaam) matinya laksana bangkai jahiliyah dalam hal ini Allah menegaskan kembali didalam Al-Qur’an surah Ali-Imran 103 & 105

Allah Subhanahu wa ta’ala berfirman:
ﻭَﺍﻋْﺘَﺼِﻤُﻮْﺍ ﺑِﺤَﺒْﻞِ ﺍﻟﻠﻪِ ﺟَﻤِﻴْﻌًﺎ ﻭَﻻَ ﺗَﻔَﺮَّﻗُﻮْﺍﻭَﺍﺫْﻛُﺮُﻭْﺍ ﻧِﻌْﻤَﺔَ ﺍﻟﻠﻪِ ﻋَﻠَﻴْﻜُﻢْ ﺇِﺫْ ﻛُﻨْﺘُﻢْ ﺃَﻋْﺪَﺍﺀً ﻓَﺄَﻟَّﻒَﺑَﻴْﻦَ ﻗُﻠُﻮْﺑِﻜُﻢْ ﻓَﺄَﺻْﺒَﺤْﺘُﻢْ ﺑِﻨِﻌْﻤَﺘِﻪِ ﺇِﺧْﻮَﺍﻧًﺎ ﻭَﻛُﻨْﺘُﻢْ
ﻋَﻠَﻰ ﺷَﻔَﺎ ﺣُﻔْﺮَﺓٍ ﻣِﻦَ ﺍﻟﻨَّﺎﺭِ ﻓَﺄَﻧْﻘَﺬَﻛُﻢْ ﻣِﻨْﻬَﺎ ﻛَﺬَﻟِﻚَﻳُﺒَﻴِّﻦُ ﺍﻟﻠﻪُ ﻟَﻜُﻢْ ﺁﻳَﺎﺗِﻪِ ﻟَﻌَﻠَّﻜُﻢْ ﺗَﻬْﺘَﺪُﻭْﻥَ } ﺃﻝﻋﻤﺮﺍﻥ 103: }
“Dan berpegang teguhlah kamu sekalian pada tali Allah seraya ber-jama’ah, dan janganlah kamu berfirqah-firqah (bergolong-golongan), dan ingatlah akan ni’mat Allah atas kamu tatkala kamu dahulu bermusuh-musuhan maka Allah jinakkan antara hati-hati kamu, maka dengan ni’mat itu kamu menjadi bersaudara, padahal kamu dahulu nya telah berada di tepi jurang api Neraka, tetapi Dia (Allah) menyelamatkan kamu dari padanya; begitulah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepada kamu, supaya kamu mendapat petunjuk.” (QS.Ali ‘Imran:103

Allah subhanahu wa ta’ala berfirman:

وَلَا تَكُوْنُوْا كَالَّذِيْنَ تَفَرَّقُوْا وَاخْتَلَفُوْا مِنْۢ بَعْدِ مَا جَآءَهُمُ الْبَيِّنٰتُ ؕ وَاُولٰٓئِكَ لَهُمْ عَذَابٌ عَظِيْمٌ
“Dan janganlah kamu menjadi seperti orang-orang yang bercerai-berai dan berselisih setelah sampai kepada mereka keterangan yang jelas. Dan mereka itulah orang-orang yang mendapat azab yang berat,” (QS. Ali ‘Imran: Ayat 105)

Dalam ayat QS Ali Imran 103 ini adalah amar perintah agar umat Islam berpegang teguh kepada tali agama Allah (Islam) seraya ber-jama’ah atau dengan kata lain seraya mempunyai Imaam dan jangan berpecah-belah bercerai-berai bergolong-golongan berkelompok-kelompok, atau hidup sendiri sendiri. Dan dalam QS Ali Imran 105 Allah menegaskan kepada mereka yang bercerai-berai akan mendapat azab yang berat sekalipun mereka muslim.

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
ﺃَﻧَﺎ ﺃّﻣُﺮُﻛْﻢ ﺑِﺨَﻤْﺲٍ ﺃَﻟﻠﻪُ ﺃَﻣَﺮَﻧِﻰ ﺑِﻬِﻦَّ :
ﺑِﺎْﻟﺠَﻤَﺎﻋَﺔِ ﻭَﺍﻟﺴَّﻤْﻊِ ﻭَ ﺍﻟﻄَّﺎﻋَﺔِ ﻭَﺍﻟْﻬِﺠْﺮَﺓِ ﻭَ ﺍْﻟﺠِﻬَﺎﺩِﻓِﻰ ﺳَﺒِﻴْﻞِ ﺍﻟﻠﻪِ ، ﻓَﺈِﻧَّﻪُ ﻣَﻦْ ﺧَﺮَﺝَ ﻣِﻦَ ﺍْﻟﺠَﻤَﺎﻋَﺔِﻗِﻴْﺪَ ﺷِﺒْﺮٍ ﻓَﻘَﺪْ ﺧَﻠَﻊَ ﺭِﺑْﻘَﺔَ ﺍْﻹِﺳْﻼَﻡِ ﻣِﻦْ ﻋُﻨُﻘِﻪِ ﺇِﻟَﻰﺍَﻥْ ﻳَﺮْﺟِﻊَ ﻭَﻣَﻦْ ﺩَﻋَﺎ ﺑِﺪَﻋْﻮَﻯ ﺍْﻟﺠَﺎﻫِﻠِﻴَّﺔِ ﻓَﻬُﻮَ ﻣِﻦْ
ﺟُﺜَﺎﺀِ ﺟَﻬَﻨَّﻢَ، ﻗَﺎﻟُﻮْﺍ ﻳَﺎ ﺭَﺳُﻮْﻝَ ﺍﻟﻠﻪِ ﻭَ ﺍِﻥْ ﺻَﺎﻡَﻭَﺻَﻠَّﻰ ، ﻗَﺎﻝَ ﻭَﺍِﻥْ ﺻَﺎﻡَ ﻭَﺻَﻠَّﻰ ﻭَﺯَﻋَﻢَ ﺃَﻧَّﻪُ ﻣُﺴْﻠِﻢٌﻓَﺎﺩْﻋُﻮﺍ ﺍْﻟﻤُﺴْﻠِﻤِﻴْﻦَ ﺑِﻤَﺎ ﺳَﻤَّﺎﻫُﻢُ ﺍْﻟﻤُﺴْﻠِﻤِﻴْﻦَ ﺍْﻟﻤُﺆْﻣِﻨِﻴْﻦَ ﻋِﺒَﺎﺩَ ﺍﻟﻠﻪِ ﻋَﺰَّ ﻭَ ﺟَﻞَّ
“Aku perintahkan kepada kamu sekalian (muslimin) lima perkara; sebagaimana Allah telah memerintahkanku dengan lima perkara itu; ber-jama’ah, mendengar, thaat, hijrah dan jihad fie sabilillah.
Barangsiapa yang keluar dari Al-Jama’ah sekedar sejengkal, maka sungguh terlepas ikatan Islam dari lehernya sampai ia kembali bertaubat. Dan barang siapa yang menyeru dengan seruan Jahiliyyah, maka ia termasuk golongan orang yang bertekuk lutut dalam Jahannam.” Para sahabat bertanya: “Ya Rasulullah, jika ia shaum dan shalat?” Rasul bersabda: “Sekalipun ia shaum dan shalat dan mengaku dirinya seorang muslim, maka panggillah oleh orang-orang muslim itu dengan nama yang Allah telah berikan kepada mereka; “Al-Muslimin, Al Mukminin, hamba-hamba Allah ‘Azza wa jalla.” (HR.Ahmad bin Hambal dari Haris Al-Asy’ari, Musnad Ahmad:IV/202, At-Tirmidzi Sunan At-Tirmidzi Kitabul Amtsal, bab Maa Jaa’a fi matsalis Shalati wa shiyami wa shodaqoti:V/148-149 No.2263. Lafadz Ahmad)

Allah subhanahu wa ta’ala berfirman:

وَلَوْ شَآءَ رَبُّكَ لَجَـعَلَ النَّاسَ اُمَّةً وَّاحِدَةً وَّلَا يَزَالُوْنَ مُخْتَلِفِيْنَ
“Dan jika Tuhanmu menghendaki, tentu Dia jadikan manusia umat yang satu, tetapi mereka senantiasa berselisih (pendapat),” (QS. Hud: Ayat 118)

Allah subhanahu wa ta’ala berfirman:

اِنَّ الَّذِيْنَ فَرَّقُوْا دِيْنَهُمْ وَكَانُوْا شِيَـعًا لَّسْتَ مِنْهُمْ فِيْ شَيْءٍ ؕ اِنَّمَاۤ اَمْرُهُمْ اِلَى اللّٰهِ ثُمَّ يُنَـبِّـئُـهُمْ بِمَا كَانُوْا يَفْعَلُوْنَ
“Sesungguhnya orang-orang yang memecah-belah agamanya dan mereka menjadi (terpecah) dalam golongan-golongan, sedikit pun bukan tanggung jawabmu (Muhammad) atas mereka. Sesungguhnya urusan mereka (terserah) kepada Allah. Kemudian Dia akan memberitahukan kepada mereka apa yang telah mereka perbuat.” (QS. Al-An’am: Ayat 159)

Sebagaimana ayat diatas bahwa setelah ada keterangan dari Allah namun umat Islam justru berpecah belah dan berselisih pendapat, maka ini bukan tanggung jawab Rasulullah dan urusan ini kembali kepada Allah.

Jadi kewajiban kita adalah mentaati perintah Allah untuk menegakan Imaam untuk hidup ber-jama’ah sehingga muslimin ini laksana satu tubuh,sehingga akan datang masa sebagaimana yang disabdakan oleh Rassulullah, “Pada akhir zaman akan muncul seorang khalifah yang berasal dari umatku, yang akan melimpahkan harta kekayaan selimpah-limpahnya, dan ia sama sekali tidak akan menghitung-hitungnya. (HR. Muslim dan Ahmad)

Di akhir zaman akan datangnya Khalifah yang adil, Imaam pemandu (arab mahdi) Imaam Mahdi,dan bukan suatu kewajiban menunggu Imaam Mahdi ,kewajiban kita adalah mentaati perintah Allah untuk hidup berjama’ah mempunyai Imaam sehingga kelak kita tidak termasuk orang yang buta dan tersesat sebagaimana ayat QS Al-Isrâ`/17:71-72 di atas.

Allah subhanahu wata ‘ala berfirman:

مُنِيْبِيْنَ اِلَيْهِ وَاتَّقُوْهُ وَاَقِيْمُوا الصَّلٰوةَ وَلَا تَكُوْنُوْا مِنَ الْمُشْرِكِيْنَ
مِنَ الَّذِيْنَ فَرَّقُوْا دِيْنَهُمْ وَكَانُوْا شِيَعًا ؕ كُلُّ حِزْبٍۢ بِمَا لَدَيْهِمْ فَرِحُوْنَ
“Dengan kembali bertobat kepada-Nya dan bertakwalah kepada-Nya serta laksanakanlah sholat dan janganlah kamu termasuk orang-orang yang menyekutukan Allah,”
“Yaitu orang-orang yang memecah belah agama mereka dan mereka menjadi beberapa golongan. Setiap golongan merasa bangga dengan apa yang ada pada golongan mereka.” (QS. Ar-Rum: Ayat 31,32)

–Wallahu ‘alam bisshowab–

Sumber : Majelis Dakwah Pusat Jama’ah Muslimin (Hizbullah)

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s