POTRET SISTEM PENDIDIKAN DI SAUDI ARABIA


Hasil gambar untuk ARAB SAUDI PENDIDIKAN

BAB I

PENDAHULUAN

  1. Latar Belakang Masalah

Kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara di Indonesia mengalami perkembangan dan perubahan terus menerus sebagai akumulasi respon terhadap permasalaha-permasalah yang terjadi selama ini serta pengaruh perubahan global, perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi serta seni dan budaya. Indonesia yang merupakan negara berkembang, masih banyak masalah pendidikan yang melanda Indonesia. Salah satunya adalah pendidikan yang belum mencerdaskan bangsa. Hal ini menuntut perlu adanya perbaikan sistem pendidikan nasional termasuk penyempurnaan kurikulum.

Posisi Timur Tengah sabagai tujuan utama tempat studi Islam masih belum tergantikan di mata kaum Muslimin Indonesia. Meski sebagian mereka mulai melirik Barat sebagai tempat studi Islam, namun beberapa universitas dan pusat-pusat studi Islam di Timur Tengah tetap menjadi alternative utama untuk melanjutkan jenjang studi. Dua daerah Timur Tengah yang paling sering dijadikan tumpuan tempat menimba ilmu keislaman adalah haramain (Makkah dan Madinah) di Saudi Arabia serta Kairo di Mesir.

Lalu bagaimana pendidikan Islam di Arab Saudi? Apakah kelebihan-kelebihan yang dimiliki pendidikan Arab Saudi? Akankah dapat diambil beberapa perbandingan. Pemalakah akan mencoba paparkan tentang pendidikan di Arab Saudi, mudah-mudahan dapat bermanfaat.

  1. Rumusan Masalah
  2. Bagaimana sistem pemerintahan di Saudi Arabia?
  3. Bagaimana kondisi demografi dan potensi income negara?
  4. Bagaimana Filsafat pendidikan dan orientasi pendidikan yang ada disana?
  5. Bagaimana kebijakan di bidang pendidikan agama?
  6. Bagaimana kebijakan di bidang manajemen pendidikan formal?
  7. Bagaimana dinamika dalam pengembangan kurikulum di Saudi Arabia?
  8. Bagaimana pengembangan pendidik dan tenaga kependidikan di Saudi Arabia?
  9. Bagaimana sistem pembiayaan pendidikan di Saudi Arabia?


 

BAB II

PEMBAHASAN

  1. Potret Sistem Pemerintahan

Saudi Arabia merupakan negara yang mencakup sebagian besar Semenanjung Arab. Dari luas Semenanjung Arab yang mencapai kurang lebih 3 juta kilo meter persegi, 2.200.000 km2 merupakan daerah Saudi Arabia. Negara ini berbatasan dengan Teluk Persia, Qatar, dan negera Persatuan Emirat Arab di sebelah timur; dengan negara Oman dan Yaman di selatan; Laut Merah dan Teluk Aqaba di sebelah barat; dan dengan Jordania, Iraq, dan Kuwait di sebelah utara. Pada tahun 2000 tercatat penduduk Saudi Arabia kurang lebih mencapai 21.504.613 jiwa, dengan 43% diantaranya berusia di bawah 15 tahun, dan 2,5% berusia di atas 65 tahun.1

Kerajaan Saudi Arabia berdiri pada tahun 1920-an tetapi proklamasi terhadap negaranya dilakukan pada tahun 1932 oleh Raja Abdul Aziz bin Abdul Rahman al-Saud. Sistem pemerintahan Saudi Arabia adalah monarki atau kerajaan, dengan Al-Qur’an dan As-Sunnah sebagai undang-undangnya. Kekuasaan legislatif dan yudikatif dipegang oleh dewan kabinet dan raja.2

Secara historis, Kerajaan Arab Saudi berdiri atas kerja sama antara Muhammad Ibnu Abdul Wahab (seorang pemikir Islam revolusioner) dengan Ibnu Saud (pemimpin kabilah).3

Sekarang, Saudi Arabia dipimpin oleh raja Salman bin Abdulaziz al-Saud, beliau adalah raja ke-7 Dinasti Al-Saud.

  1. Kondisi Demografi dan Potensi Income Negara

Setelah perang Dunia II, produksi minyak Saudi Arabia menjadi basis pendapatan negara, meskipun itu baru dimulai tahun 1973 ketika terjadi revolusi harga minyak dunia. Anggaran Pendapatan Belanja Negara (APBN) pada tahun 1977 mencapai 40 triliun USS. Tiga tahun kemudian , melonjak hingga mencapai 70 triliun USS.4

Secara umum kondisi demografi dan potensi income negara dapat digambarkan sebagai berikut:

Penduduk  : 25,6 juta jiwa (PBB 2005) termasuk 23% (5,3 juta) adalah                                                        warga asing dan 23% tinggal di pedesaan, angka pertumbuhan penduduk sekitar 3,28%.

Etnis   : Arab 90% dan Afro-Asia 10%.

Agama   : Islam dengan 85% Sunni dan 15% Syiah.

Bahasa   : Arab

Mata Uang  : Saudi Riyal (SR).

Sumber Alam  : Minyak, gas dan mineral (emas, perak, tembaga)

GNP per Kapita : USS 316,4 Miliar/USS 13,955.

Angkatan Kerja : 7.242.077 (2002)

Produksi Utama : Alfafa (makanan ternak), binatang ternak, minyak mentah, gas alam, kurma, anggur, kambing, unggas, sorghum, semangka dan gandum.

Industri  : Semen, penyulingan dan pengolahan minyak mentah dan gas alam, pupuk dan baja.

Ekspor Utama  : Minyak mentah, hasil-hasil penyulingan, dan gas alam.5

  1. Filsafat Pendidikan dan Orientasi Pendidikan

Modernisasi pendidikan Islam di Saudi Arabia telah berlangsung sejak akhir abad XIX, subyek non-religius diajarkan oleh pemerintahan Ottoman di Hijaz melalui kuttab yang awalnya mengkhususkan diri dalam hafalan alQur’an.6

Sejak tahun 1950, Saudi Arabia telah melancarkan usaha pendidikan. Pendidikan dilaksanakan secara Cuma-Cuma bagi semua penduduk, seluruh biaya ditanggung oleh pemerintah7.

Pemikiran tentang pendidikan di Arab Saudi awalnya bercorak kuttab dan sistem pendidikan di Arab Saudi memisahkan laki-laki dan perempuan sesuai dengan syariat Islam. Jadi, jika ditinjau dari ranah pemikiran filsafat, Saudi sangat mengedepankan ideology bangsanya yang merupakan negara Islam.8

Pada tahun 1989 Arab Saudi memiliki sistem pendidikan dengan lebih dari 14.000 lembaga pendidikan, termasuk tujuh universitas dan pelatihan guru, sebelas perguruan tinggi, di sampung sekolah untuk pelatihan kejuruan dan teknis, kebutuhan khusus dan keaksaraan dewasa. Sistem ini berkembang sangat cepat, sehingga di tahun 1988-1989, 950 sekolah baru dibuka untuk menampung 400.000 siswa baru.

Secara administrative, dua organisasi mengawasi lembaga pendidikan yang paling dalam di kerajaan. Departemen pendidikan mengawasi pedidikan anak laki-laki, program pendidikan untuk menyandang cacat, pendidikan orang dewasa dan perguruan tinggi junior untuk laki-laki. Girls’ pendidikan dikelola oleh direktoral jendral Girls’ pendidikan, sebuah organisasi dijalankan oleh ulama, bekerja sama erat dengan Departemen Pendidikan. Derektoral Jendral mengawasi pendidikan umum anak perempuan, TK dan pembibitan untuk kedua anak laki-laki dan perempuan serta program-program melek huruf perempuan, kemudian perguruna tinggi pendidikan dan perguruan tinggi junior untuk anak perempuan. Departemen Pendidikan Tinggi adalah otoritas mengawasi perguruan tinggi kerajaan dan universitas.9

  1. Kebijakan di Bidang Pendidikan Agama

Madrasah modern di Saudi Arabia dulunya merupakan bagian dari pembaharuan pendidikan Islam yang dilakukan oleh Turki Usmani. Akan tetapi, setelah berpisah dari kekuasaan Turki Usmani, tahun 1917 lembaga pendidikan itu di transformasikan menjadi “sekolah Hasyimiyah”. Sekolah ini mengkombinasikan mata pelajaran agama dan umum, terdiri dari tiga jenjang yaitu;

  1. Madrasah Tahdiriyyah, 2 tahun.
  2. Madrasah Ibtida’iyyah Raqiyyah4 tahun.
  3. Madrasah ‘Aliyah.

Pembaharuan pendidikan di Saudi Arabia mulai berkembang seiring kekuasaan Dinasti Sa’ud sekaligus menandai perubahan dari Hijaz menjadi Arab Saudi.10

Selain itu juga Saudi Arabia pada era modern ini memiliki beberapa universitas termasuk universitas khusus bagi wanita. Universitas itu antara lain King Saud University di Riyadh didirikan tahun 1957, Islamic University of Madinah 1961, King Abdul Aziz University di Jeddah 1967, Imam Muhammad bin Saud Islamic Universiry di Riyadh 1974, King Faisal University di Dammam 1975, Ummul Qura University di Makkah 1979, dimana bahasa pengantar yang digunakan di universitas-universitas ini umumnya adalah bahasa Arab.11

Sejak tahun 1920-an, sejumlah lembaga swasta telah menawarkan pendidikan sekuler terbatas untuk anak laki-laki, tetapi tidak sampai tahun 1951 yang program ekstensif sekolah menengah yang didanai publik dimulai. Departemen pendidikan, yang diberikan lembaga pendidikan publik untuk anak laki-laki, didirikan pada 1954. Pendidikan publik didanai untuk anak perempuan dimulai pada tahun 1960 di bawah inspirasi kemudian Crown Prince Faisal dan Iffat istrinya.

Pendidikan Islam tradisional bagi laki-laki difokuskan untuk membentuk calon-calon anggota dewan ulama. Kurikulum untuk sekolah islam tradisional juga sebagian menggunakan kurikulum pendidikan umum, tetapi fokusnya pada studi Islam dan bahasa Arab. Untuk pendidikan agama, dilakukan dibawah supervisi dari Universitas Islam Imam Saud (Riyadh) dan Universitas Islam Madinah (Madinah). Namun demikian, di universitas-universitas umum, pelajaran agama islam merupakan mata kuliah wajib apapun jurusan mahasiswa.12

  1. Kebijakan di Bidang Manajemen Pendidikan Formal

Sistem pendidikan di Saudi Arabia memisahkan antara laki-laki dan perempuan sesuai dengan syariat Islam. Secara umum, sistem pendidikan dibagi menjadi 3 bagian utama:

  1. Pendidikan umum untuk laki-laki
  2. Pendidikan umum untuk perempuan
  3. Pendidikan islam untuk laki-laki

Pendidikan umum dibagi lagi menjadi 4 bagian, yaitu pendidikan dasar 6-12 tahun, pendidikan menengah 12-15 tahun, pendidikan sekunder 15-18 tahun dan pendidikan tinggi berupa universitas atau akademi. Ada juga lembaga swasta khusus laki-laki yang mulai muncul tahun 1920-an.

Sejak tahun 1951, program ekstensif sekolah didanai publik, sedangkan untuk pendidikan khusus perempuan mulai didanai sejak 1961 atas prakarsa Pangeran Faisal dan istrinya, Iffat. Semua buku dan pelayanan kesehatan untuk siswa disediakan secara gratis oleh pemerintah. Pendidikan Islam tradisional bagi laki-laki difokuskan untuk membentuk calon-calon anggota dewan ulama.13

Sebagai bentuk pembinaan pemuda, Saudi Arabia berupaya meningkatkan prestasi mereka dibidang olahraga dan kebudayaan yang ditangani oleh Badan Negara Urusan Kesejahteraan Pemuda (General Presidency of Youth Welfare). Studion Internasional Raja Fadh di Riyadh yang diresmikan pada tahun 1408 H atau 1988 M merupakan salah satu pusat gelanggang oelahraga terbesar di dunia yang dapat menampung 80.000 penonton.

Masalah manajemen pendidikan formal di Saudi Arabi ditangani oleh departemen, yaitu:

  1. Wizarah al-Ma’arif wa al-Tsaqafah (Departemen Ilmu Pengetahuan dan Kebudayaan) yang menangani Pendidikan Dasar dan Menengah, baik umum maupun khusus.
  2. Wizarah al-Ta’lim al-Alay (Departemen Pengajaran Tinggi) yang menangani lembaga pendidikan tinggi, baik di lingkungan Perguruan Tinggi Umum (PTU) maupunPerguruan Tinggi Agama (PTA).14
  1. Dinamika dalam Pengembangan Kurikulum

Dengan sedikit keahlian dalam pendidikan modern, sistem pendidikan di Saudi Arabia pada dasarnya mengambil kurikulum yang ada pada negara-negara Arab lainnya, terutama negara Mesir, dengan lebih menekankan pada mata pelajaran keagamaan. Kurikulum untuk sekolah-sekolah pria dan wanita pada setiap jenjang yang sama pada prakteknya sama kecuali sekolah wanita menambahkan mata pelajaran pendidikan jasmani, yang tidak diajarkan pada sekolah wanita. Sekolah-sekolah swasta diharuskan oleh peraturan mengikuti kurikulum yang sama seperti pada sekolah-sekolah negeri.

Pengimplementasian kurikulum dimonitoring melalui berbagai cara seperti melalui kepala sekolah, kunjungan oleh para inspektur dari kantor-kantor distrik, dan juga melalui sistem ujian akhir yang mencakup seluruh materi yang seharusnya diajarkan pada setiap semester.15

  1. Pengembangan Pendidik dan tenaga Kependidikan

Kecepatan perluasan pendidikan di Saudi Arabia berkaitan berakibat pada kekuaragan baik jumlahnya maupun kualitasnya. Tiga kebijakan utama telah diambil oleh pemerintah untuk menggulangi masalah kekurngan guru ini:

  1. Merekrut personil asing, yang kebanyakan dari negara-negara tetangga.
  2. Mempekerjakan staf pengajar dan staf administrasi Saudi yang latar belakang pendidikan keguruannya tidak memadai.
  3. Membangun fasilitas pelatihan bagi personil Saudi.

Untuk menyediakan guru-guru dalam rangka perluasan sekolah dasar di Saudi, lembaga pendidikan guru didirikan oleh pemerintah. Program pendidikan ini telah mengalami peningkatan yang tadinya berlangsung selama dua tahun dengan calon-calon siswanya dari tamatan sekolah dasar kemudian menjadi tiga tahun sesudah tamatan sekolah menengah pertama, dan sebagian besar saat ini menjadi guru-guru sekolah dasar di Saudi Arabia. Sementara itu, untuk guru-guru menengah pertama dan atas pada umumnya merupakan tamatan perguruan tinggi empat tahun, walaupun ada sebagian guru sekolah menengah pertama yang tamatan program guru dua tahun. Dalam tahun 1989-1990 terdapat 127 lembaga pendidikan guru pada tingkat menengah, lembaga ini menyelenggarakan program tiga tahun di bawah tingkat pendidikan tinggi. Dan dalam terdapat 40 buah lembaga pendidikan guru pada tingkat perguruan tinggi yang kebanyakan menyelenggarakan program dua tahun dan keudian di tingkatkan menjadi fakutas penyelenggara program pendidikan empat tahun yang memiliki otonomi. Fakultas ini tidak hanya mempersiapkan guru-guru, akan tetapi juga sering melayani pendidikan dalam jabatan bagi guru-guru, kepala sekolah, dan supervisor.16

  1. Pembiayaan Pendidikan

Kecuali pada sekolah-sekolah swasta yang tergantung terutama pada pembayaran SPP atau uang sekolah oleh orang tua murid, semua sekolah di Saudi Arabia adalah gratis untuk semua murid dan siswa. Sebagian lembaga pendidikan, seperti fakultas-fakultas, institute keagamaan, dan institusi pendidikan teknik dan pendidikan khusus, bahkan juga memberikan biaya hidup bulanan bagi mahasiswanya.17 Seperti terlihat daftar di bawah ini, pengeluaran pemerintahpada pendidikan meningkat besar sekali sesudah tahun 1960-an yang mencerminkan dua faktor yang saling berkaitan. Pertama, peningkatan pendapatan pemerintah dari hasil minyak, dan kedua, perluasan upaya-upaya kependidikan baik secara horizontal maupun vertikal.

Pengeluaran Pemerintah pada Pedidikan dalam Tahun-tahun Tertentu

Years Expenditure on Education (thousands of riyals) Share of Total Budget (%)
1945

1949-1950

1954-1955

1959-1960

1964-1965

1969-1970

1974-1975

1979-1980

1984-1985

1989-1990

130

9.433

48.000

122.068

408.000

569.000

3.760.000

16.269.082

23.031.700

22.504.900

6.3

7.5

6.3

16.5

13.0

10.0

8.2

10.2

11.5

16.0

Sebuah terbitan pemerintah tahun 1979 menyatakan bahwa “suatu kalkulasi kasar menunjukkan pengeluaran pemerintah lebih dari 500 riyal per kepada penduduk Saudi untuk pendidikan, dan ini berarti 4000 riyal per anak yang terdaftar pada berbagai tingkat dan jenis pendidikan” (Kementerian Pendidikan, data Pusat Statistik 1979, dalam Al-Baadi 1995). Angka ini meningkat hampir dua kali lipat dalam tahun 1989-1990 menjadi 7,451 riyal (kira-kira US $2000) per siswa per tahun.

BAB III

PENUTUP

Sistem pemerintahan Saudi Arabia adalah monarki atau kerajaan, dengan Al-Quran dan Sunnah Nabi Muhammad SAW sebagai undang-undangnya. Kekuasaan legislative dan yudikatif dipegang oleh dewan cabinet dan raja.

Secara georgafis, Saudi Arabia terbagi menjadi tiga lahan tanah yang terbentang jauh dari ujung utara sampai jauh keujung selatan. Tanah bagian timur menjadi Profinsi Timur Saudi, lahan bagian tengah menajadi Profinsi Tengah (atau Najd), lahan bagian barat terbagi dalam dua propinsi: Propinsi Barat (atau Hijaz) dan propinsi Selatan (atau Asseer)

Sistem pendidikan di Saudi Arabia pada dasarnya mengambil kurikulum yang ada pada negara-negara Arab lainnya, terutama negara Mesir, dengan lebih menekankan pada mata pelajaran keagamaan. Untuk pengembangan tenaga kependidikan pemerintah membangun lembaga pendidikan guru.

Sistem pendidikan di Arab Saudi memisahkan antara laki-laki dan perempuan sesuia syari’at Islam. Secara umum, sistem pendidikan dibagi menjadi tiga bagian utama: pendidikan umum untuk laki-laki, pendidikan umum untuk perempuan, dan pendidikan umum Islam untuk laki-laki.

DAFTAR PUSTAKA

Syah Agustiar. 2001. Perbandingan Sistem Pendidikan 15 Negara. Bandung: Lubuk Agung Bandung.

Rachman Abd Assegaf. 2003. Internasionalisasi Pendidikan: Sketsa Perbandingan Pendidikan di Negara-Negara Islam dan Barat. Yogyakarta: Gama Media.

Hayyie Abdul al-Kattani dkk. 2009. Study in Islamic Countries: Panduan Lengkap Kuliah di Negara-negara Islam. Jakarta: Gema Insani.

Mustofa Idam. 2015. “Relasi Islam dan Kekuasaan dalam Konteks Kebijakan Pendidikan Islam di Indonesia” Urwatul Wutsqo, Volume 4, Nomor 2.

Maunag Binti. 20011. Perbandingan Pendidikan Islam, Cet.1. Yogyakarta: Teras, Subhan Arief. 2012. Lembaga Pendidikan Islam Indonesia Abad ke-20; Pergumulan antara Modernisasi dan Identitas. Jakarta: Kencana Prenada Media Group

1 Agustiar Syah, Perbandingan Sistem Pendidikan 15 Negara (Bandung: Lubuk Agung Bandung, 2001) hlm. 39

2 Abd. Rachman Assegaf, Internasionalisasi Pendidikan: Sketsa Perbandingan Pendidikan di Negara-Negara Islam dan Barat (Yogyakarta: Gama Media, 2003) hlm. 68

3 Ibid, hlm. 69

4 Abd. Rachman Assegaf, ibid, hlm. 70

5 Abdul Hayyie al-Kattani dkk, Study in Islamic Countries: Panduan Lengkap Kuliah di Negara-negara Islam (Jakarta: Gema Insani, 2009) hlm. 44-46

6 Idam Mustofa, “Relasi Islam dan Kekuasaan dalam Konteks Kebijakan Pendidikan Islam di Indonesia” Urwatul Wutsqo, Volume 4, Nomor 2, September 2015, hlm. 15

7 Abd. Rachman Assegaf, Op.Cit hlm. 71

8 Binti Maunah, Perbandingan Pendidikan Islam, Cet.1, (Yogyakarta: Teras, 2011), hal.200

9 Ibid., hlm.198

10 Arief Subhan, Lembaga Pendidikan Islam Indonesia Abad ke-20; Pergumulan antara Modernisasi dan Identitas (Jakarta: Kencana Prenada Media Group, 2012) hlm. 70

11 Abdul Hayyie al-Kattani dkk, Loc.Cit hlm. 46

12 Binti Maunah, Perbandingan Pendidikan Islam, Cet.1, Op.Cit., hlm. 198-199

13 Idam Mustofa, Loc.Cit hlm. 15

14 Abd. Rachman Assegaf, Op.Cit., hlm.72

15 Agustiar Syah Nur, Op.Cit., hal.49-50

16 Ibid, hal.49

17 Ibid, hal.48

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s