KONTAK UMAT ISLAM DENGAN FILSAFAT YUNANI

BAB I

PENDAHULUAN

Salah satu dari lima hal yang ingin diwujudkan Islam di pentas kehidupan dunia ini agar terealisasi misi mulianya sebagai “rahmat” bagi alam semesta, adalah terciptanya peradaban dunia yang diridhai Allah SWT, yaitu peradaban yang mengantarkan penduduk dunia ini berorientasi hidup hasanah di dunia hingga ke akhirat kelak.

Dewasa ini idealita Islam tersebut tidak lagi menjadi realita. Sebab peradaban yang bermain dipentas global saat ini adalah peradaban barat, yaitu suatu peradaban yang dengan ciri sekuler, materialis dan liberalisnya, semakin hari semakin dirasakan menginjak-injak martabat manusia walaupun humanisme adalah isu yang selalu diusung peradaban tersebut.

Berbicara masalah peradaban, tidak bisa dilepaskan dengan masalah filsafat. Karena secara historis filsafatlah yang mengantarkan suatu kaum kedepan pintu gerbang peradabannya masing-masing seperti yang pernah dialami peradaban Yunani kuno dan peradaban Islam (dimasa keemasan). Kedua peradaban yang pernah ada tersebut (terutama Islam) mencapai kegemilangannya setelah terlebih dahulu mangalami kegemilangan dalam bidang filsafat dan kegiatan ilmiah.

Secara keseluruan Filsafat Yunani dan filsafat Islam memegang peranan yang besar dalam membentuk peradaban dunia. Sebab filsafat Yunani adalah peletak batu pertama kemunculan usaha intelektualitas dalam memahami fenomena alam baik yang mikro maupun yang makro, dan filsafat Islam mengembangkan, mereformulasi mengarahkan dan mensistemasi serta menurunkannya ketataran praktis hingga melahirkan peradaban cemerlang.

BAB II

PEMBAHASAN

  1. Permulaan Gerakan Penerjemahan Buku-Buku Filsafat Yunani

Dalam rentan sejarah yang panjang, dunia telah melahirkan sebuah kebudayaan yang tumbuh dan berkembang ke seluruh antero dunia, mulai dari bentuk yang paling sederhana (primitif) pada awal keberadaannya hingga kebudayaan besar semisal Mesir kuno, India, Cina, Yunani/Persia, Arab (Islam), dan Eropa modern.[1]

Diantara kebudayaan-kebudayaan tersebut ialah kebudayaan Arab (Islam) dimana perkembangan kebudayaannya lebih cepat dari kebudayaan Yunani maupun Romawi, dengan Baghdad, Cordoba dan Kairo sebagai pusat-pusat kebudayaannya,[2] yang itu tidak bisa dilepaskan dari keberadaan aliran Alexandria yang merupakan benang merah penghubung Timur dan Barat atau Peradaban Timur dengan peradaban Yunani. Hubungan itu semakin kuat tatkala Justanius menutup sekolah Athena tahun 529 M, yang mengakibatkan banayak guru dari Athena yang melarikan diri ke berbagai Madrasah Timur di Ruhha, Nasibin, Hiran dan Jundisrahpur. Oleh karena itu, terjadilah perpaduan antara religius dan filosofis yang itu telah berhasil melestarikan antologi pemikiran Yunani ke dalam dunia Islam.[3]

Dimana hal itu merupakan sebuah proses asimilasi yang berpuncak pada naturalisasi penuh ilmu-ilmu asing di bumi Islam, diantara proses tersebut dapat dilihat dalam tiga tahapan berikut.

Pertama, upaya mendapatkan ilmu dan filsafat Yunani, diperoleh melalui penerjemahan dari vahasa Yunani dan Syria ke dalam bahasa Arab. Kedua, munculnya sejumlah pemikir Muslim yang piawai dan berkomitmen terhadap pandangan hellenistik tentang alam materi dan pikiran. Ketiga, aplikasi filsafat, tipe pemikiran dan wacana (discource) yang terdapat dalam tahap kedua, ke dalam konteks kalam, sehingga muncul berbagai macam ahli diberbagai bidang.[4]

Penerjemahan buku-buku ke dalam bahasa Arab sudah dimulai semenjak zaman permulaan Daulah Umayyah, akan tetapi hanya buku-buku ilmiah yang diterjemahkan pada waktu itu yang berkaitan dengan keperluan hidup praktis, seperti kimia dan kedokteran dan belum mengarah kepada buku-buku Yunani yang ada hubunganya dengan filsafat.[5]

Proses penerjemahan itu sendiri paling awal dimulai pada masa Khalifah Abd al-Malik (685-705 M) yang berkaitan dengan persoalan administrasi, laporan-laporan dan dokumentasi-dokumentasi pemerintahan.

Proses penerjemahan atas pemikiran filsafat Yunani ke dalam bahasa Arab benar-benar serius dilakukan ketika masa Bani Abbasiyyah (750-1258 M).[6]

Ketika Harun ar-Rasyid menjadi khalifah Abbasiyah tahun 786 M, dibawah kepemimpinannya dilakukan penerjemahan buku-buku ilmu pengetahuan dari Yunani ke dalam bahasa Arab, banyak pula yang dikirim ke Kerajaan Romawi untuk membeli manuskrip. Pada awalnya mulanya kegiatan tersebut lebih ditujukan untuk buku-buku kedokteran, tetapi seiring berjalannya waktu buku-buku mengenai ilmu pengetahuan lainnya dan filsafat juga di terjemahkan.[7]

Diantara lembaga-lembaga yang dibangun adalah Bait al-Hikmah yang berada di Baghdad yang dipimpin oleh Yahya Ibnu Masawayh (w. 857 M), menghasilkan banyak terjemahan karya Yunani. Yahya Ibnu Bitriq juga telah menerjemahkan karya Plato Timaeus, karya aristoteles: De Anima, Analytica Priori, dan Secrets (Rahasia Segala Rahasia).[8]

Penerjemah-penerjemah yang terkenal pada zaman itu juga antara lain:

  1. Hunayn Ibnu Ishaq (w. 873 M) seorang Kristen yang pandai berbahasa Arab dan Yunani, menerjemahkan 20 buku Galen ke dalam bahasa Syria dan 14 buku lainnya ke bahasa Arab.
  2. Ishaq Ibnu Hunayn Ibnu Ishaq (w. 910 M).
  3. Sabit Ibnu Qurra (825-901 M) seorang penyembah bintang.
  4. Qusta Ibnu Luqa dan Abu Bisr Matta Ibnu Yunus (w. 939 M) seorang Kristen.
  5. Hubays, keponakan Hunayn.

Tidak berselang lama kemudian muncullah dikalangan umat Islam sendiri filosof-filosof dan ahli ilmu pengetahuan, semisal Abul Abbas al-Sarkasyi (abad ke-9 M), al-Razi (abad ke-10 M), dan lain-lain. Filosof-filosof ini banyak dipengaruhi oleh pemikiran filosof-filosof Yunani.[9]

Disamping kota Baghdad, kota-kota lain yang dijadikan pusat pengembangan sains dan filsafat, yaitu kota Marwa (Persia Timur), Jundisyapur dan Harran. Dimana masing-masing kota mempunyai kecenderungan yang berbeda-beda dalam penerjemahannya.[10]

  1. Kontak Pemikiran Muslim dengan Barat Kontemporer

Sejak abad ke-19 M., pemikiran modern Islam muncul di kalangan para pemikir Islam yang menaruh perhatian pada kebangkitan Islam setelah mengalami masa kemunduran dalam segala bidang sejak jatuhnya kekhilafahan bani Abbasiyah di Baghdad pada 1258 M. akibat serangan Hulagu Khan yang menghancurkan bangunan peradaban Islam di Baghdad.

Hingga pada awal abad ke 20, kesadaran tersebut muncul dan dimulai dari pemikiran-pemikiran Jamaluddin Al-Afgani, Muhammad Abduh, dan Rasyid Ridha. Dengan modal ilmu pengetahuan modern dari Barat, muncullah beberapa pembaharu pemikiran di berbagai negara muslim.[11]

Dari sekian tokoh yang terkenal sebagai awal mula kontak pemikiran Islam dengan Barat kontemporer adalah Naquib al-Attas, beliau merupakan tokoh yang dikenal di dunia Barat karena sering diundang untuk ceramah atau seminar. Antara lain di Temple University, Philadelpia AS pada September 1971, di Institut Vostokovedunia, Moskow pada bulan berikutnya. Beliau merupakan doktor lulusan Universitas London yang merupakan pusat kaum orientalis.[12]

  1. Filosof-filosof Muslim dari Timur, Barat dan Modern
  • Filosof Muslim Di Dunia Islam Belahan Timur
  1. Al-Kindi

Al-Kindi dikenal sebagai filsuf muslim keturunan Arab pertama, yang lahir di Kufah sekitar 185 H (801 M) dari kalangan keluarga kaya dan terhormat. Al-Kindi hidup semasa pemerintahan Daulah Abbasiyah (Al-Amin, 809-813; Al-Makmun, 813-833 M; Al-Mu’tashim, 833-842 M; Al-Watsiq, 842-847 M; dan Al-Mutawakkil, 847-861 M). Ia dikenal dan berjasa dalam gerakan penerjemahan dan pelopor yang memperkenalkan tulisan-tulisan Yunani, Suriah dan India kepada dunia Islam.[13]

Al-Kindi meninggal di Baghdad tahun 873 M, selama hidupnya ia telah melahirkan karya tulis sebanyak 270 buah yang dapat dklasifikasikan dalam 17 kelompok: 1) Filsafat, 2) Logika, 3)  Ilmu hitung, 4) Globulat, 5) Musik, 6) astronomi, 7) geometri, 8) sperikal, 9) medis, 10) astrologi, 11) dialektika, 12) psikologi 13) politik, 14) meteorologi, 15) besaran, 16) ramalan, 17) logam dan kimia.[14]

  1. Al-Razi

Nama lengkapnya adalah Abu Bakar Muhammad Ibn Zakaria Ibn Yahya al-Razi. Di Barat dikenal Rhazes. Ia lahir di Ray dekat Teheran pada 1 Sya’ban 251 H (865 M). Ia hidup pada pemerintahan Dinasti Saman (204-395 H). Pada masa Mansyur Ibn Ishaq sebagai gubernur Ray, Al-Razi diserahi kepercayaan memimpin rumah sakit selama enam tahun (290-296 H/902-908 M). Pada masa ini juga ia menulis buku al-Thibb al-Mansuri yang dipersembahkan kepada Mansur Ibn Ishaq.

Setelah kematian Khalifan al-Muktafi pada tahun 907 Masehi, ar-Razi memutuskan untuk kembali ke kota kelahirannya di Rayy, dimana dia mengumpulkan murid-muridnya. Dalam buku Ibnu Nadim yang berjudul Fihrist, ar-Razi diberikan gelar Syaikh karena dia memiliki banyak murid. Selain itu, ar-Razi dikenal sebagai dokter yang baik dan tidak membebani biaya pada pasiennya saat berobat kepadanya.[15]

  1. Al-Farabi

Abu Nasr Muhammad al-Farabi lahir di Wasij, suatu desa di Farab tahun 870 M yang berasal dari Turki. Pendidikan dasarnya dimulai dengan mempelajari dasar-dasar ilmu agama dan bahasa. Disamping itu juga ia mempelajari matematika dan filsafat serta berkelana ke penjuru negeri untuk mendalami ilmu-ilmu yang lain.

Dalam berfilsafat ia berkeyakinan bahwa filsafat tidak boleh dibocrokan dan sampai ke tangan orang awam, agar keimanan serta keyakinan mereka tidak menjadi kacau. Ia juga berkeyakinan bahwa agama dan filsafat tidak bertentangan, malahan sama-sama membawa kepada kebenaran.

Al-Farabi meninggal di Damaskus, bulan Rajab 339 H/ Desember 950 M pada usia 80 tahun dan dimakamkan di pekuburan yang terletak di luar gerbang kecil (al-bâb al-shaghîr) kota bagian selatan. Saif al-Daulah sendiri yang memimpin upacara pemakaman al-Farabi, seorang sarjana pertama sekaligus paling terkenal dari “lingkaran Saif al-Daulah”.[16]

  1. Ibnu Sina

Abu Ali Husein Ibnu Abdillah lahir di Afsyana, dekat Bukhara tahun 980 M. Sewaktu berumur 17 tahun ia telah dikenal sebagai dokter, dan pernah mengobati Pangeran Nuh Ibnu Mansyur. Setelah ornagtuanya meninggal ia pindah ke Juzjan, disanalah ia muali menulis ensiklopedianya mengenai ilmu kedokteran yang terkenal dengan nama القا نو فى الطب (al-Qanun fi al-Tibb).

Pemikiran terpenting yang dihasilkan oleh Ibnu Sina ialah falsafatnya tentang jiwa. Sebagaimana Aristoteles, Ibnu Sina membagi jiwa ke dalam tiga bagian:

  • Jiwa tumbuh-tumbuhan (النّفس النّبا تيّة)
  • Jiwa binantang (النّفس الحيوانية (
  • Jiwa Manusia (النّفس النّا طقة ([17]

Dalam filsafat kenabian, menurut Ibnu Sina, seorang Nabi sangat identik dengan akal aktif, dan sepanjang identitas ini masih berlaku, akal aktif itu disebut ‘Aql Mustafad (akal yang telah dicapai). Namun, Nabi manusia tidak identik dengan akal aktif. Dengan demikian, pemberi wahyu dalam satu internal dengan Nabi, dalam hal lain, yaitu sepanjang pengertian pemberi wahyu, yaitu manusia yang eksternal dengannya. Oleh sebab itu, Nabi dalam hal sebagai manusia secara “aksidental” bukan secara esensial, adalah akal aktif (untuk pengertian istilah “aksidental”).[18]

  1. Al-Ghazali

Abu Hamid Muhannad ibn Muhammad ibn Muhammad al-Ghazali lahir pada tahun 1059 M di Ghazaleh, suatu kota kecil yang terletak di dekat Tusdi Khurasan. Diantara mata pelajaran yang dipelajari adalah ilmu kalam, hukum islam, filsafat, logika, sufisme dan lain-lain.[19]

Dalam berfilsafat, Al-Ghazali menentang pendapat-pendapat filsafat Yunani Diantaranya yang terpenting adalah :

  • Al-ghazali menyerang dalil-dalil filsafat (Aristoteles) tentang azalinya alam dan dunia.
  • Al-ghazali menyerang kaum filsafat (Aristoteles) tentang pastinya keabadian alam.
  • Al-ghazali menyerang pendapat kaum filsafat bahwa Tuhan hanya mengetahui soal-soal yang besar saja, tetapi tidak mengetahui soal-  soal yang kecil (juz’iyat).
  • Al-Ghazali juga menentang pendapat filsafat bahwa segala sesuatu terjadi dengan kepastian hukum sebab dan akibat semata-mata dan             mustahil ada penyelewengan dari hukum itu.

Sedang dalam tasawuf, ia meragukan indera dan akal, serta berjalan tak menentu dalam keragu-raguannya itu, kemudian mencari obatnya, namun tidak didapatkannya, sebab keragu-raguan bisa hilang dengan adanya suatu dalil.

Corak tasawuf al-Ghazali, yaitu memasukkan tasawuf dalam pengakuan Islam sunni. Ia masuki kehidupan tasawuf, tetapi ia tidak melibatkan aliran tasawuf inkarnasi atau tasawuf pantheisme dan buku-buku yang dikarangnya juga tidak keluar dari jalan (sunnah) Islam yang benar.[20]

  • Filosof Muslim Di Dunia Belahan Barat
  1. Ibnu Rusyd

Nama lengkapnya adalah Abu Al Wahid Muhammad ibn Ahmad ibn Muhammad ibn Rusyd. Ia lahir di kota Cordova pada tahun 1126 M/520 H. Beliau mempelajari Al-Qur’an beserta penafsirannya, hadist Nabi, ilmu fiqh, bahasa dan sastra Arab. Metode belajarnya secara lisan dari seorang ahli (‘alim).[21]

Dalam berfilsafat Ibnu Rusyd berangkat dari asumsi dasar bahwa  kebenaran agama  dan kebenaran filsafat adalah satu, meskipun dinyatakan dalam lambang berbeda-beda. Hal ini dapat ditangkap dari kata-kata Ibn Rusyd, “ Karena syariat ini benar dan ia menyeru untuk mempelajari sesuatu ke arah yang benar, maka kita, kaum Muslimin, dengan pasti mengetahui bahwa pembahasan demonstratif tidak akan membawa pertentangan dengan apa yang diajarkan oleh syara. Sebab kebenaran tidak akan berlawanan dengan kebenaran yang lain, melainkan mencocoki dan menjadi saksi atasnya”.

Demikianlah, Ibn Rusyd menandaskan bahwa pembahasan demonstratif dituntut oleh syara’ dan yang dimaksud dengan pembahasan demonstratif tidak lain dari filsafat. Lebih jelasnya, yang dimaksud adalah filsafat Yunani, khususnya filsafat Aristoteles, tidak berlatar belakang tauhid.[22]

  1. Ibnu Tufail

Nama lengkapnya Abu Bakr Muhammad Ibnu Abd Al-Malik Ibn Muhammad ibn Tufail (Latin Abubacer). Disebut juga Al-Qaisi oleh karena ia berasal dari Qais. Ibn Tufail merupakan ahli pikir kefilsafatan dari dinasti al-Muwahhid di Spanyol. Ibn Tufail dilahirkan pada awal abad ke-12 M. Di Wadi Ash (di Codix atau Qadis, di sebelah timur laut Granada kurang lebih 40 mil (67,6 km).[23]

Pemikiran Filsafat beliau antara lain:

  1. Tentang Tuhan

Setelah berfikir tentang alam semesta dengan seisinya yang beraneka ragam, maka diyakini bahwa alam ini ada penciptanya, yang tiada lain adalah Tuhan. Dia yang mengeluarkan dari “Ketiadaan” ke maujud (Creatio ex nihili) dan tidak mungkin keluar (tercipta) dengan sendirinya. Dari itu pasti ada perilaku penciptaan tersebut. Pelaku ini tidak diketahui dengan indera, sebab bila diketahui dengan indera, berarti ia berupa materi (bendawi). Kalau berupa materi berarti masih merupakan  elemen dari alam dan itu tentunya diciptakan. Dengan demikian memerlukan pencipta.[24]

  1. Tentang akal dan wahyu

Pandangan ibn Tufail mengenai kedudukan akal dan wahyu dalam risalah Hayy Ibn Yaqzan yang hanya menggunakan rasio dalam memahami realitas kehidupannya, mengambil konsep-konsep yang tidak bertentangan, bahkan sejalan dengan informasi wahyu yang dibawa oleh asal sang “Teolog”. Apa yang diperintahkan oleh syariat islam dan apa yang diketahui oleh akal sehat dengan sendirinya berupa kebenaran, kebaikan, dan keindahan dapat bertemu dalam satu titik, tanpa diperselisihkan lagi. Dengan kata lain, hakikat kebenaran yang dilakukan oleh filsafat sejalan dengan apa yang ada di dalam wahyu.[25]

  • Filosof-filosof Muslim Di Dunia Islam Modern
  1. Muhammad Iqbal

Muhammad Iqbal lahir pada tanggal 22 Pebruari 1873 di Sialkot, Punjab dari keluarga yang nenek moyangnya dari Kashmir. Pendidikan yang ia tempuh mendapat binaan dan dukungan dari Maulana Mir Hasan, seorang ulama, teman ayahnya.

Tahun 1905 ia melanjutkan studinya di Fakultas Hukum Universitas Cambridge Inggris hingga memperoleh gelar kesarjanaan. Ketertarikan akan ilmu filsafat dimulai ketika ia mengenyam tingkat doktoral dalam filsafat modern pada Universitas Munich di Jerman.[26]

Diantara pemikiran-pemikiran Iqbal yang menarik adalah tentang pentingnya arti dinamika hidup. Tujuan akhir setiap manusia ialah hidup, keagungan, kekuatan dan kegairahan. Semua kemampuan manusia harus berada dibawah tujuan ini, dan nilai segakanya harus ditentukan sesuai dengan kecakapan hidup yang dihasilkan.[27]

  1. Mulla Sadra

Mulla Sadra mempunyai nama lengkap Shadr Al-Din Syirazi. Lahir pada tahun 1572 M di Syiraz. Dalam studinya ia berguru kepada Mir Damad Mir Abdul Qasim Fendereski (wafat 1640).

Al-Syirazi membagi filsafat kepada dua bagian utama, pertama yang bersifat teoritis mengacu kepada pengetahuan tentang segala sesuatu sebagaimana adanya, kedua yang bersifat praktis mengacu pada pencapaian kesempurnaan-kesempurnaan yang cocok bagi jiwa.

Pemikiran lain yang menarik lainnya adalah tentang sikapnya yang sangat hormat terhadap Ibnu Sina namun ia menolak dua tema utama, yaitu keabadian dunia dan kemustahilan pembangkitan jasmani.[28]

  1. Dampak Negatif dan Positif Persinggungan Filsafat Yunani Dalam Perkembangan Pemikiran Islam

Pemikiran filsafat Yunani benar-benar mulai bertemu dan dikenal dalam pemikiran Arab-Islam setelah masa pemerintahan Bani Abas, khususnya sejak dilakukan program penterjemahan buku-buku filsafat yang gencar dilakukan pada masa kekuasaan al-Makmun (811-833 M); suatu program yang oleh al-Jabiri dianggap sebagai tonggak sejarah pertemuan pemikiran rasional Yunani dengan pemikiran keagamaan Arab-Islam, pertemuan epistemologi burhani Yunani dengan epistemologi bayani Arab.[29]

Falsafat dalam pengertian Al Kindi adalah pembahasan tentang kebenaran, bukan untuk diketahui saja tapi juga untuk diamalkan. Agama juga datang untuk kebenaran. “Falsafat yang termulia dan tertinggi derajatnya adalah falsafat pertama, yaitu ilmu tentang Yang Maha Benar Pertama, yang menjadi sebab bagi tiap kebenaran”, Yang Maha Benar Pertama adalah Tuhan Pencipta alam semesta. Jadi Agama dan Falsafat ada persesuaian.

Meski demikian, perkembangan yang pesat pada ilmu-ilmu Yunani dalam Islam berkat dukungan yang besar dari Khalifah sebagaimana diatas bukan tidak menimbulkan persoalan. Menurut George N. Atiyeh, penentangan kalangan ortodoks tersebut disebabkan, pertama, adanya ketakutan dikalangan ortodoks (fiqh) bahwa ilmu-ilmu Yunani akan menyebabkan berkurangnya rasa hormat umat Islam terhadap Tuhan. Kedua, adanya kenyataan bahwa mayoritas dari mereka yang mempelajari filsafat dan ilmu pengetahuan Yunani adalah orang-orang non-muslim, penganut Machianisme, orang-orang Sabia dan muslim penganut mazhab Batiniyah yang esoteris, yang itu semua mendorong munculnya kecurigaan atas segala kegiatan intelektual dan perenungan yang mereka lakukan. Ketiga, adanya usaha untuk melindungi umat Islam dari pengaruh Machieanisme Persia khususnya maupun faham-faham lain yang dinilai tidak sejalan dengan ajaran Islam yang ditimbulkan dari pikiran-pikiran filsafat Yunani.[30]

Kecurigaan dan penentangan kaum ortodoks terhadap ilmu-ilmu Yunani memang bukan tanpa dasar. Kenyataannya, tidak sedikit tokoh muslim yang belajar filsafat akhirnya justru meragukan dan bahkan menyerang ajaran Islam sendiri. Salah satunya adalah Al-Razi menolak kenabian dengan tiga alasan; (1) bahwa akal telah memadai untuk membedakan baik dan buruk, berguna dan tidak berguna. Dengan rasio manusia telah mampu mengenal Tuhan dan mengatur kehidupannya sendiri dengan baik, sehingga tidak ada gunanya seorang nabi. (2) Tidak ada pembenaran untuk pengistemewaan beberapa orang untuk membimbing yang lain, karena semua orang lahir dengan tingkat kecerdasan yang sama, hanya pengembangan dan pendidikan yang membedakan mereka, (3) bahwa ajaran para nabi ternyata berbeda. Jika benar bahwa mereka berbicara atas nama Tuhan yang sama, mestinya tidak ada perbedaan.

Pada masa khalifah al-Mutawakkil, khususnya di ibu kota Baghdad, filsafat mengalami kemunduran, setidaknya tidak mengalami perkembangan berarti, karena tidak bisa diajarkan secara bebas dan terbuka. Akan tetapi, diluar Baghdad, di kota-kota propinsi otonom, khususnya di Aleppo dan Damaskus, kajian-kajian filsafat tetap giat dilakukan, sehingga melahirkan seorang filosof besar, yakni al-Farabi (870-950). Tokoh yang dikenal sebagai folosof paripatetik ini tidak hanya menggunakan metode burhani dalam filsafatnya tetapi bahkan berhasil meletakkan filsafat Aristoteles sebagai dasar-dasar filsafat Islam sehingga dianggap sebagai guru kedua setelah Aristoteles sebagai guru pertama.[31]

Menurut  Naquib al-Attas, yang terkenal dengan gagasan Islamisasi ilmu mengantakan, banyaknya efek negatif dari ilmu modern (Barat) karena persepsi tentang realitas atau pandangan dunia yang melekat pada setiuap ilmu, yang kemudian merembet pada persoalan lainnya.[32]

Menurutnya, Islam memandang realitas sebagai sesuatu yang “ada” bukan sesuatu yang “menjadi”ebagaimana yang dipahami Barat sebagai objek epistemologinya menjadi tetap, jelas, dan pasti, bukan relatif dan skeptis. Dengan konsep bahwa realitas adalah “menjadi”, pemikiran Barat menjadi tidak mengenal objektivitas melainkan relativitas yang berujung pada skeptisisme sehingga yang mungkin bukan pengetahuan tetapi “pendapat”, “opini”, dan lain-lain yang bersifat subjektif; subjektivisme sendiri merupakan akar dari kesimpulan “apa saja boleh”. Sebaliknya, dengan konsep bahwa realitas merupakan sesuatu yang “ada”, realitas menjadi sesuatu yang satu, tetap dan mutlak, begitu pula dengan kebenaran, kebenaran hanya satu, dan semua nilai-nilai Islam bergantung terhadapnya.[33]

BAB III

PENUTUP

  1. Simpulan

Pemikiran filsafat Yunani mulai berkembang pada abad VI sebelum Masehi. Filsafat Yunani yang berkembang ini bukanlah hasil pemikiran filosof Yunani semata pada waktu itu, akan tetapi lebih tepat dikatakan hasil proses perkembangan berpikir dan kumpulan dari pilihan-pilihan kebudayaan sebelum masa filosof itu, yang mana dari zaman tersebut telah melahirkan berbagai karya besar terutama dalam hal filsafat.

Kemudian, awal mula penerjemahan buku-buku ke dalam bahasa Arab sudah dimulai semenjak zaman permulaan Daulah Umayyah, akan tetapi hanya buku-buku ilmiah yang diterjemahkan pada waktu itu yang berkaitan dengan keperluan hidup praktis, seperti kimia dan kedokteran dan belum mengarah kepada buku-buku Yunani yang ada hubunganya dengan filsafat

Pada zaman dinasti Bani Abbasiyah dengan pusat kerajaannya di Baghdad mulai tertarik pada filsafat Yunani. Memang pemasukan filsafat Yunani kedalam Islam lebih banyak terjadi melalui kota ini, khususnya di Irak pada umumnya. Disinilah timbul gerakan penerjemahan buku-buku Yunani kedalam bahasa Arab atas dorongan khalifah Al-Mansyur dan kemudian khalifah Harun Al-Rasyid. Kegiatan ini meningkat pada masa khalifah Al-Makmun, putra Harun Al-Rasyid yang terkenal dengan zaman penerjemahan.

Adapun para filosof yang terkenal pada zaman itu diantaranya ialah: Al-Kindi, Ibnu Sina, Al-Farabi, Al-Razi, Al-Ghazali, Ibnu Tufail, Ibnu Rusyid dan Ibn Masarah

  1. Saran

Dalam memahami materi Filsafat Islam, kita tidak cukup hanya dengan mempelajari sekilas saja. Karena seluk-beluk filsafat sangatlah rumit dan penuh dengan teka-teki. Maka perlunya pembelajaran yang lain yang berada di luar kelas, untuk menampah khazanah pengetahuan mengenai materi di atas.

DAFTAR PUSTAKA

Maftukhin. 2012. Filsafat Islam. Yogyakarta: Teras.

Mustofa. 1997. Filsafat Islam. Bandung: CV. Pustaka Setia.

Khanafie Al-Jauharie, Imam. 2006. Filsafat Islam. STAIN Press.

Khudori, Sholeh. 2014. Filsafat Islam. Yogyakarta: Ar-Ruzz Media, cet. Ke-2

_____________. 2004. Wacana Filsafat Islam. Yogyakarta: Pustaka Pelajar

Nasution, Hasyimsyah. 1999. Filsafat Islam. Jakarta: Gaya Media Pratama

Nasution, Harun. 1999. Falsafat dan Mistisme dalam Islam. Jakarta: PT. Bulan Bintang

Qadir, C.A. 2002. Philosophy and Science in the Islamic World  terj. Hasan Basri. Jakarta: Yayasan Obor Indonesia, cet. ke-2

[1] Maftukhin, Filsafat Islam (Yogyakarta: Teras, 2012) hlm. 55

[2] Ibid,. hlm. 60

[3] Ibrahim Madkour, Fi al-Falsafah al-Islamiyyah: Manhaj wa Tatbiqub al-Juz’ al-Sani Terj. Yudian Wahyudi Asmin (Jakarta: Bumi Aksara, 2003) cet. Ke-3 hlm. 29

[4] Ibid., hlm. 69

[5] Hasyimsyah Nasution, Filsafat Islam (Jakarta: Gaya Media Pratama, 1999) hlm. 11-12

[6] Khudori Soleh, Filsafat Islam (Yogyakarta: Ar-Ruzz Media,cet. Ke-2 2014) hlm. 35-36

[7] Harun Nasution, Falsafat dan Mistisme dalam Islam (Jakarta: PT. Bulan Bintang, 1999) hlm. 4

[8] C.A Qadir, Philosophy and Science in the Islamic World  cet. Ke-2 terj. Hasan Basri (Jakarta: Yayasan Obor Indonesia, 2002) hlm. 36-39

[9] Op.Cit hlm. 5-6

[10] Hasyimsyah Nasution, Filsafat Islam, hlm. 13.

[11] Imam Khanafie Al-Jauharie, Filsafat Islam (Pekalongan: STAIN Press, 2006) hlm. 34

[12] Khudori Soleh, Wacana Baru Filsafat Islam (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2004) hlm. 251-253

[13] Hasyimsyah Nasution, Filsafat Islam, hlm. 15-16.

[14] Khudori Soleh, Filsafat Islam Op.Cit hlm. 90

[15] Hasyimsyah Nasution, Op.Cit hlm. 24

[16] Maftukhin, Op.Cit hlm. 97

[17] Harun Nasution, Op.Cit hlm. 29-32

[18] Maftukhin, Op.Cit hlm. 113-114

[19] Mustofa, Filsafat Islam, (Bandung: CV. PUSTAKA SETIA, 1997) hlm. 131-132

[20] Mustofa, Op cit, hlm 226-227

[21] Maftukhin, Op cit, hlm 192

[22] Ibid, hlm 193

[23] Ibid, hlm 180

[24] Ibid, hlm 186

[25] Ibid, hlm 189

[26] Mustofa, Op.Cit hlm. 330-331

[27] Ibid, hlm. 332

[28] Ibid, hlm. 336-337

[29] Khudori Soleh, Filsafat Islam, Op.Cit hlm. 43

[30] Khudori Soleh, Filsafat Islam, Ibid, hlm. 44-45

[31]Ibid, hlm. 46-47

[32] Ibid, hlm. 309

[33] Ibid, hlm. 314

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s