KEDUDUKAN ILMU PENGETAHUAN DAN AL-QUR’AN (DALAM SURAT ALI-IMRAN :18 DAN AL-MUJADALAH : 11)

Hasil gambar untuk ilmuPENDAHULUAN

Ilmu merupakan kata yang berasal dari bahasa Arab, masdar dari ‘alima – ya’lamu yang berarti tahu atau mengetahui. Dalam bahasa Inggeris Ilmu biasanya dipadankan dengan kata science, sedang pengetahuan dengan knowledge. Dalam bahasa Indonesia kata science umumnya diartikan Ilmu tapi sering juga diartikan dengan Ilmu Pengetahuan, meskipun secara konseptual mengacu paada makna yang sama. Untuk lebih memahami pengertian Ilmu (science) di bawah ini akan dikemukakan beberapa pengertian :

Ilmu adalah pengetahuan tentang sesuatu bidang yang disusun secara bersistem menurut metode-metode tertentu yang dapat digunakan untuk menerangkan gejala-gejala tertentu dibidang (pengetahuan) itu (Kamus Besar Bahasa Indonesia)

Ilmu menempati kedudukan yang sangat penting dalam ajaran islam , hal ini terlihat dari banyaknya ayat Al qur’an yang memandang orang berilmu dalam posisi yang tinggi dan mulya disamping hadis-hadis nabi yang banyak memberi dorongan bagi umatnya untuk terus menuntut ilmu.

Pada kesempatan kali ini pemakalah diperkenankan untuk mejelaskan tentang kedudukan orang berilmu dan mendiskripsikan nilai orang berilmu yang tercantum dalam QS. Ali Imran : 18 dan QS. Al-Mujadalah : 11.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

  1. S. ALI IMRAN :18

شَهِدَ اللَّهُ أَنَّهُ لَا إِلَٰهَ إِلَّا هُوَ وَالْمَلَائِكَةُ وَأُولُو الْعِلْمِ قَائِمًا بِالْقِسْطِ ۚ

لَا إِلَٰهَ إِلَّا هُوَ الْعَزِيزُ الْحَكِيمُ

Artinya :

“ Allah menyatakan bahwasanya tidak ada Tuhan melainkan Dia, yang menegakkan keadilan. Para malaikat dan orang-orang berilmu (juga menyatakan yang demikian itu). Tak ada Tuhan melainkan Dia, Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.

  1. Penjelasan Ayat
  2. Tafsir Al-Maraghi

شَهِدَ اللَّهُ أَنَّهُ لَا إِلَٰهَ إِلَّا هُوَ وَالْمَلَائِكَةُ وَأُولُو الْعِلْمِ قَائِمًا بِالْقِسْطِ

Allah SWT menjelaskan tentang wahdaniat Allah, dengan menegakkan bukti-bukti kejadian yang berada dicakrawala luas, dalam diri mereka, dan menurunkan ayat-ayat tasyr’i yang mencerminkan hal tersebut. Para malaikat memberikan kepada para Rasul tentang hal ini, kemudian mereka menyaksikan dengan kesaksian yang diperkuat ilmudurariy. Hal ini menurut para Nabi lebih kuat dari semua keyakinan. Orang –orang yang berilmu telah memberitakan tentang kesaksian ini, menjalaskan dan menyaksikannya dengan kesaksian yang disertai dalil dan bukti. Sebab, orang yang mengetahui sesuatu tidak membutuhkan hujjah lagi untuk mengetahuinya.

Makna Al-Qistu artinya dengan keadilan dalam akidah. Ketauhidan adalah pertengahanantara inkar dan syirik terhadap Tuhan. Berlaku adil dalam hal ibadah, dan amal adalah adanya keseimbangan anatara kekuatan rohaniyah dan jasmaniyah. Sebagai perwujudannya adalah berlaku syukur dengan menjalankan salat dan beribadah lainnya guna meningkatkan rohani, membersikan jiwa dan memperolehkan dirinyahal-hal yang banyak  dari kebaikan (rizki), untuk memelihara dan mengurus badan. Ia juga melarang bagi dirinya berlaku berlebih-lebihan dalam mencintai keduniaan.

Kemudian Allah SWT. mengukuhkan diri-Nya yang menyendiri dengan sifatwahdaniyah dan yang menciptakan dengan keadilan melalui firman-Nya (ayat berikutnya) :

لآاِلَهَ اِلاَّهُوَالْعَزِيْزُالْحَكِيْمُ

Sifat perkasa mengisyaratkan pada kesempurnaan kekuasaan dan sifat bijaksana mengisaratkan adanya kesempurnaan pengetahuan. Kekuasaan itu tidaklah sempurna kecuali jika menyendiri dan bebas. Dan keadilan itu tidaklah sempurna jika meliputi kemaslahatan dan kondisi. Maka, yang bersifat seperti itu tidak ada seorang pun yang bisa mengalahkan terhadap apa yang telah ia tegakkan, yakni sunnah keadilan dan tidak ada sesuatu pun dari penciptaan yang bisa keluar dari kebijaksanaan yang sempurna itu

  1. Tafsir Al-Azhar

“Allah telah menjelaskan bahwa tiada Tuhan selain dia” (pangkal ayat 18).syahida” kita artikan menjelaskan. Telah menjelaskan bahwa hanya dia yang tuhan, hanya dia yang mengatur. Maka segala yang ada ini adalah penjelasan atau kesaksian dari Tuhan, menunjukkan bahwa tiada Tuhan melainkan Allah. “Demikianpun malaikat” dalam keadaan yang gaib itu semuanya telah menyaksikan, telah memberikan syahdah bahwa tiada Tuhna selain Allah. “dan oran-orang yng berilmu” pun telah menyampaikan syahadahnya pula, bahwa tiada Tuhan melainkanAllah. Bertabah mendalam ilmu, bertambah menjadi kesaksianlah bahwa alam ini ada ber Tuhan dan Tuhan itu hanya satu, yaitu Allah dan tidak ada Tuhan yang lain, sebab yang lain adalah makhluknya  belaka. “Bahwa Dia berdiri dengan keadilan”, yakni setelah Allah menyasikan dengan qudrat-iradad nya, dan malaikat menyaksikan dengan ketaatnnya, dan manusia yang berilmu menyaksikan dengan penyelidikan akalnya bahwa tiada Tuhan melainkan Allah, maka timbul pulalah kesaksian bahwa Tuhan Allah itu berdiri dengan keadilan. Bahwa Tuhan mencipta alam dengan perseimbangan dan Tuhan menurunkan perintahnya dengan adil, serta seimbang.

Adil ciptaannya atas seluruh alam, sehingga manusia berjalan dengan teratur, tidak lain adalah karena adil pertimbngnnya. Adil pula perintah dan syari’at yang diturunkannya, sehingga seimbang dunia dengan akhirat, rohani dengan jasmani.“Tidaklah ada Tuhan selain Dia. Maha gagah lagi bijaksana.” (ujung ayat 18).

Hendaklah menarik perhatian kita tentang kedudukan mulia yang diberikan Tuhan kepada Ulil-Ilmi, yaitu orang-orang yang mempunyai ilmu didalam ayat ini. Setelah Tuhan menyatakan kesaksiannya yang tertinggi sekali, maka Tuhanpun menyatakan pula bahwa kesaksian tertinggi itupun diberikan kepada malaikat. Setelah itu kesaksian itupun diberikan kepada orang-orang yang berilmu. Artinya, tiap-tiap orang yang berilmu, yaitu orang-orang yang menyediakan akal dan fikirannya buat menyelidiki keadaan alam ini, baik di bumi ataupun di langit, di laut dan di darat, di binatang dan di tumbuh-tumbuhan, niscaya manusia itu akhirnya akan sampai juga, tidak dapat tidak, kepada kesaksian yang murni, bahwa memang tidak ada Tuhan melainkan Allah.[1]

Pada ayat 18 Allah menyatakan kesaksian dirinya tentang ke-esaannya, demikian juga kesaksian malaikat dan para cendekia. Semua menyaksikan keesaan dan peranannya dalam memenuhi kebutuhan-kebutuhan semua makhluk.[2]

 

  1. Tafsir Al-Mishbah

Kata ( شَهِدَ) syahida yang diatas diterjemahkan dengan menyaksikan, mengandung banyak arti, antara melihat, megetahui, menghadiri, dan menyaksikan, baik dengan mata kepala maupun dengan mata hati. Seorang saksi adalah yang menyampaikan kesaksian di pengadilan atas dasar pengetahuan yang diperolehnya, kesaksian mata atau hati. Dari sini kata menyaksikan di atas dipahami dalam arti menjelaskan dan menerangkan kepada seluruh makhluk.

Allah menyaksikan bahwa tiada Tuhan melainkan Dia.Kesaksian itu merupakan kesaksian diri-Nya terhadap diri-Nya. Kesaksian yang sangat kukuh untuk meyakinkan semua pihak tentang kewajaran-Nya untuk disembah dan diandalkan.

Allah menyaksikan diri-Nya Maha Esa, Tiada Tuhan selain Dia. Keesaan itu pun disaksikan oleh para malaikat dan orang-orang yang berilmu, dan masing-masing; yakni Allah, malaikat, dan orang-orang yang berpengetahuan, secara berdiri sendiri menegaskan bahwa kesaksian yang mereka lakukan itu adalahberdasarkan keadilan. Makna ini yang dipahami oleh sementara ulama sebagai arti (قَائِمًا بِالْقِسْطِ) qa’iman bi al-qisth, yang redaksinya berbentuk tunggal. Tentu saja tidak menunjuk kepada Allah, malaikat, dan orang-orang yang berilmu; ketiganya sekaligus. Ada juga yang menjadikan kata qa’im bi al-qisthitu sebagai penjelasan tentang keadaan Allah SWT, dalam arti tidak ada yang dapat menyaksikan Allah dengan penyaksian yang adil, yang sesuai dengan keagungan dan keesaan-Nya kecuali Allah sendiri, karena hanya Allah yang mengetahui secara sempurna siapa Allah. “Ketuhanan adalah sesuatu yang hanya dimiliki oleh Allah, maka tidak akan ada satupun yang mengenal-Nya kecuali diri-Nya sendiri.

Allah Qa’iman bi al-qisth, menegakkan keadilan yang memuaskan semua pihak. Dia yang menciptakan mereka dan menganugerahkan aneka anugerah. Jika ini diberi kelebihan rezeki materi, maka ada rezeki yang lain yang tidak diberikannya.

Setelah menegaskan bahwa Dia melaksanakan segala sesuatu dialam raya ini berdasar keadilan yang menyenangkan semua pihak, maka kesaksian terdahulu diulangi sekali lagi,Tiada Tuhan melainkan Dia. Hanya saja kalau kesaksian pertama bersifat kesaksian ilmiah yang berdasarkan dalil-dalil yang tak terbantah, maka kali kedua ini adalah kesaksian faktual yang dilihat dalam kenyataan oleh Allah, para malaikat dan orang-orang yang berpengetahuan. Itu terlaksana secara faktual, karenaDia Yang Maha Perkasa, sehingga tidak satupun yang dapat menghalangi atau membatalkan kehendak-Nya; lagi Maha Bijaksana, sehingga segala sesuatu ditempatkan pada tempat yang wajar.[3]

  1. Analisa

Surah Al-Imran ayat 18 membahas tentang ke esaan Allah SWT dan keadilan serta kedudukan orang yang ber ilmu.

Dalam tafsir Al-Maraghi Allah SWT menjelaskan tentang wahdaniat Allah (esa atau satu dalam arti lain tidak ada tuhan selain Allah ), dengan menegakkan bukti-bukti kejadian yang berada dicakrawala luas, dalam diri mereka, dan menurunkan ayat-ayat tasyr’i yang mencerminkan hal tersebut. Para malaikat memberikan kepada para Rasul tentang hal ini, kemudian mereka menyaksikan dengan kesaksian yang diperkuat ilmu durariy. Hal ini menurut para Nabi lebih kuat dari semua keyakinan. Orang –orang yang berilmu telah memberitakan tentang kesaksian ini, menjalaskan dan menyaksikannya dengan kesaksian yang disertai dalil dan bukti. Sebab, orang yang mengetahui sesuatu tidak membutuhkan hujjah lagi untuk mengetahuinya. Ketauhidan adalah pertengahanantara inkar dan syirik terhadap Tuhan. Berlaku adil dalam hal ibadah, dan amal adalah adanya keseimbangan anatara kekuatan rohaniyah dan jasmaniyah. Sebagai perwujudannya adalah berlaku syukur dengan menjalankan salat dan beribadah lainnya guna meningkatkan rohani, membersikan jiwa dan memperolehkan dirinyahal-hal yang banyak  dari kebaikan (rizki), untuk memelihara dan mengurus badan. Ia juga melarang bagi dirinya berlaku berlebih-lebihan dalam mencintai keduniaan.

Kemudian dalam tafsir Al- Azhar Telah menjelaskan bahwa hanya dia yang tuhan, hanya dia yang mengatur. Maka segala yang ada ini adalah penjelasan atau kesaksian dari Tuhan, menunjukkan bahwa tiada Tuhan melainkan Allah. “Demikianpun malaikat” dalam keadaan yang gaib itu semuanya telah menyaksikan, telah memberikan syahdah bahwa tiada Tuhna selain Allah. “dan oran-orang yang berilmu” pun telah menyampaikan syahadahnya pula, bahwa tiada Tuhan melainkan Allah. Tuhan mencipta alam dengan perseimbangan dan Tuhan menurunkan perintahnya dengan adil, serta seimbang.Adil ciptaannya atas seluruh alam, sehingga manusia berjalan dengan teratur, tidak lain adalah karena adil pertimbngnnya. Adil pula perintah dan syari’at yang diturunkannya, sehingga seimbang dunia dengan akhirat, rohani dengan jasmani.“Tidaklah ada Tuhan selain Dia. Maha gagah lagi bijaksana.” (ujung ayat 18).

Hendaklah menarik perhatian kita tentang kedudukan mulia yang diberikan Tuhan kepada Ulil-Ilmi, yaitu orang-orang yang mempunyai ilmu didalam ayat ini. Setelah Tuhan menyatakan kesaksiannya yang tertinggi sekali, maka Tuhanpun menyatakan pula bahwa kesaksian tertinggi itupun diberikan kepada malaikat. Setelah itu kesaksian itupun diberikan kepada orang-orang yang berilmu. Artinya, tiap-tiap orang yang berilmu, yaitu orang-orang yang menyediakan akal dan fikirannya buat menyelidiki keadaan alam ini, baik di bumi ataupun di langit, di laut dan di darat, di binatang dan di tumbuh-tumbuhan, niscaya manusia itu akhirnya akan sampai juga, tidak dapat tidak, kepada kesaksian yang murni, bahwa memang tidak ada Tuhan melainkan Allah.

Dari tafsir Al-Mishbah Kata ( شَهِدَ)syahida yang diatas diterjemahkan dengan menyaksikan, mengandung banyak arti, antara melihat, megetahui, menghadiri, dan menyaksikan, baik dengan mata kepala maupun dengan mata hati. Kata menyaksikan di atas dipahami dalam arti menjelaskan dan menerangkan kepada seluruh makhluk.

Allah menyaksikan diri-Nya Maha Esa, Tiada Tuhan selain Dia. Keesaan itu pun disaksikan oleh para malaikat dan orang-orang yang berilmu, dan masing-masing; yakni Allah, malaikat, dan orang-orang yang berpengetahuan, secara berdiri sendiri menegaskan bahwa kesaksian yang mereka lakukan itu adalahberdasarkan keadilan.

Menegakkan keadilan yang memuaskan semua pihak. Dia yang menciptakan mereka dan menganugerahkan aneka anugerah. Jika ini diberi kelebihan rezeki materi, maka ada rezeki yang lain yang tidak diberikannya.

Dengan demikian dapat dianalisis bahwa Ini adalah persaksian paling mulia yang bersumber dari Raja Yang Maha Agung, dan dari para malaikat serta orang-orang yang berilmu, atas suatu perkara yang paling mulia yang disaksikan yaitu pengesaan Allah dan penegakanNya akan keadilan. Itu semua mengandung persaksian atas seluruh syariat dan seluruh hukum-hukum pembalasan, karena syariat dan ajaran itu dasar dan pondasinya adalah tauhidullah dan pengesaanNya dengan ibadah dan pengakuan akan keesaanNya dalam sifat-sifat keagungan, kesombongan, kebesaran, keperkasaan, kuasa dan kemuliaan, juga dengan sifat kedermawanan, kebajikan, kasih sayang, perbuatan baik, keindahan, dan dengan kesempurnaanNya yang mutlak yang tidak dapat dihitung oleh seorang pun dari makhluk untuk meliputi sedikit pun darinya atau mereka mencapainya atau mereka sampai kepada sanjungan atasNya. Dan ibadah-ibadah yang syar’i dan muamalah serta hal-hal yang mengikutinya, perintah maupun larangan, semua itu adalah keadilan yang tidak ada kezhaliman padanya, kesewenang-wenangan dalam keadaan apapun, bahkan semua itu berada pada puncak dari hikmah dan kepastian, serta balasan terhadap amalan-amalan shalih maupun buruk, semua itu adalah keadilan,[4]

  1. Aspek Tarbawi
  2. Tauhid sebagai landasan dalam kehidupan
  3. Orang yang berilmu akan diberikan Allah kedudukan yang mulia
  4. Allah menegakkan keadilan

 

  1. S. AL – MUJADALAH AYAT 11

 

Artinya :

Hai orang-orang beriman apabila dikatakan kepadamu: “Berlapang-lapanglah dalam majlis”, maka lapangkanlah niscaya Allah akan memberi kelapangan untukmu. Dan apabila dikatakan: “Berdirilah kamu”, maka berdirilah, niscaya Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat. Dan Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan. (Dikutip dari http://tafsirq.com/58-al-mujadilah/ayat-11)

 

  1. Mufradat (penjelasan kata).

Ahmad Mustafa Al Maraghi dalam tafsir al-Maraghi menjelaskan mufradat dalam surat al-Mujadalah ayat 11 sebagai berikut

  • lapangkanlah, dan hendaknya sebagian kamu melapangkan  kepada sebagian yang lain.
  • Allah melapangkan rahmat dan rezekinya untukmu.
  • Bangkitlah untuk memberi kelapangan kepada orang-orang yang datang.
  • Bangkitlah kamu dan jangan berlambat-lambat.
  • Allah meninggikan orang-orang yang beriman
  • Dan Allah meninggikan orang-orang yang berilmu di antara mereka, khususnya derajat-derajat dalam kemuliaan dan ketinggian kedudukan.[5]
  1. Azbab an-Nuzul
  2. Quraish shihab dalam tafsir al-Mishbah menjelaskan bahwa ada riwayat yang menyatakan bahwa ayat diatas turun pada hari Jum’at. Ketika itu Rasul. Saw. Berada di satu tempat yang sempit, dan telah menjadi kebiasaan beliau memberi tempat khusus kepada sahabat yang terlibat dalam perang Badr, karena besarnya jasa mereka. Nah, ketika majelis tengah berlangsung, beberapa orang dari sahabat-sahabat tersebut hadir, lalu mengucap salam kepada Nabi saw. Nabipun menjawab, selanjutnya mengucap salam kepada hadirin, yang juga dijawab, namun mereka tidk memberi tempat. Para sahabat itu terus saja berdiri, maka Nabi saw. Memerintahkan kepada sahabat-sahabatnya yang lain _yang tidak ikut dalam perang Badr untuk mencari tempat duduk yang lain agar para sahabat yang berjasa itu duduk di dekat Nabi saw. Perintah nabi itu mengecilkan hati mereka yang disuruh berdiri, dan ini digunakan oleh kaum munafikin untuk memecah belah dengan berkata “Katanya Muhammad berlaku adil, tetapi ternyata tidak.” Nabi yang mendengar kritik itu bersabda “Allah merahmati siapa yang member kelapangan bagi saudaranya.” Kaum beriman menyambut tuntunan Nabi dan ayat di atas pun turun mengukuhkan perintah dan sabda Nabi saw. [6]
  3. Penjelasan Ayat.
  4. Tafsir Bil Matsur

Jalaluddin Rakhmat dalam Tafsir Bil Matsur menulis bahwa begitu besarnya perhatian al-Qur’an pada majlis  ilmu sehingga ayat-ayat turun khusus untuk mengatur etika majlis. Menurut ayat ini, misalnya, etika majlis menjadi syarat diangkatnya derajat orang yang beriman dan berilmu pengetahuan. Dalam an-Nur 62 salah satu tanda orang yang beriman ialah menjalnkan teikan majlis. Dalam an-Nur 63, mengabaikan etika majlis adalah tanda orang munafik.

Apabila sahabat berkumpul bersama dalam satu majlis, mereka tidak keluar sebelum meminta ijin kepada lebih dahulu kepaa Raul saw., pemimpin majlis. Supaya tidak mengganggu, mereka memberi isyarat dengan jari tangan.

Tetapi, orang-orang munafik yang tidak tahan duduk lama dalam majlis ilmu, meninggalkan tempat secara diam-diam. Allah menyebut mereka “orang-orang yang melanggar perintah Rasul”(Tafsir al-Durr al-Mantsur 6:231 ; Tafsir al-Fakhr al-Razi 24:39).[7]

  1. Tafsir al-Mishbah
  2. Quraish Shihab dalam tafsir al-Mishbah menjelaskan bahwa ayat di atas memberi tuntunan bagaimana menjalin hubungan harmonis dalam majlis. Allah berfirman : Hai orang-orang yang beriman, apabila dikatakan kepadamu oleh siapapun : “Berlapang-lapanglah” yakni berupayalah dengan sungguh-sungguh walau dengan memaksakan diri untuk memberi tempat kepada orang lain dalam majlis-majlis yakni satu tempat, baik tempat duduk maupun bukan untuk duduk, apabila diminta kepada kamu agar melakukan itu, maka lapangkanlah tempat itu untuk orang lain itu dengan suka rela. Jika kamu melkukan hl tersebut , niscaya Allah akan melapangkan segala sesuatu buat kamu dalam hidup ini. Dan apabila diakatakan :”Berdirilah kamu ketempat yang lain, atau untuk diduduki tempatmu untuk orag lain yang lebih wajar, atau bangkitlah untuk melakukan sesuatu seperti shalat dan berjihad, maka berdiri dan bangkitlah, Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antara kamu wahai yang memperkenankan tuntunan ini dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat kemuliaan didunia dan di akhirat dan Allah terrhadap apa yang kamu kerjakan sekarang dan masa datang Maha Mengetahui.

Apa yang dilakukan Rasul saw. Terhadap sahabat-sahabat beliau yang memiliki jasa besar itu, dikenal juga dalam pergaulan internasional dewasa ini. Kita mengenal ada yang dinamai peraturan protokoler, di mana penyandang kedudukan terhormat memiliki tempat-tempat terhormat di samping Kepala Negara, karena memang seperti penegasan al-Qur’an bahwa :

 

 

Artinya:

“Tidaklah sama antara mu’min yang duduk-selain yang mempunyai uzur-dengan orang-orang yang berjihad di jalan Allah dengan harta mereka dan jiwa mereka. Allah melebihkan orang-orang yang berjihad  dengan harta dan diri mereka atas orang-orang yang duduk, satu derajat. Kepada masing-masing, Allah menjanjikan pahala yang besar” (Qs. An-Nisa :94)

Mufrodat:
Kata  (   تفسّحوا) Tafassahu dan ( افسحوا)    ifsahu terambil dari kata ( فسح)fasaha yakni lapang. Sedang kata ( انشزوا) unshuzu’u terambil dari kata ( نشوز) nusyuz yakni tempat yang tinggi. Perintah tersebut pada mulanya berarti beralih ke tempat yang tinggi. Yang di maksud di sisni pindah ke tempat lain untuk memberi kesempatan kepada yang lebih wajar duduk atau berada di tempat yang wajar pindah itu, atau bangkit melakukan satu aktifitas positif.  Ada juga yang memahaminya berdirilah dari rumah Nabi, jangan berlama-lama di sana, karna boleh jadi ada kepentingan Nabi saw. Yang lain dan yang perlu segera beliau hadapi.

Kata (لس مجا )  majalis adalah bentuk jamak dari kata (مجلس) majlis. Pada mulanya berati  tempat duduk. Dalam konteks ayat ini adalah tempat Nabi Muhammad saw. Memberi tuntunan agama kala itu. Tetapi yang di maksud di sini adalah tempat keberadaan secara mutlak, baik tempat duduk, tempat berdiri atau bahkan tempat berbaring. Karena tujuan perintah atau tuntunan ayat ini adalah  memberi tempat yang wajar serta mengalah kepada orang-orang yang di hormati atau orang yang lemah.

Ayat di atas tidak menyebut secara tegas bahwa Allah akan meninggikan  derajat orang berilmu. Tetapi menegaskan bahwa mereka memiliki derajat-derajat yakni yang lebih tinggi dari yang sekedar beriman. Tidak di sebutkan kata meninggikan itu, sebagai syarat bahwa sebenarnya ilmu yang di milikinya itulah yang berperanan besar dalam ketinggian derajat yang diperolehnya, bukan akibat dari factor diluar ilmu itu.

Tentu saja yang dimaksud dengan ( اّلد ين أو تواالعلم)   aladzina  utu al ilmi yang di beri pengetahuan adalah mereka yang beriman dan menghiasi diri mereka dengan pengetahuan. Ini berate ayat di atas membagi kaum beriman kepada dua kelompok besar, yang pertama sekedar beriman dan beramal saleh saja, dan yang kedua beriman dan meramal saleh serta memiliki pengetahuan. Derajat kelompok kedua ini menjadi lebih tinggi, bukan saja karena nilai  ilmu yang disandangnya, tetapi juga amal dan pengajaran  kepada pihak lain baik secara lisan, atau tulisan  maupun dengan keteladanan.

Ilmu yang di maksud oleh ayat di atas bukan saja ilmu agama, tetapi ilmu apapun yang bermanfaat. Dalam Qs. Fathir ayat 27-28 Allah menguraikan sekian banyak mahluk Ilahi, dan fenomena alam, lalu ayat tersebut di tutup dengan menyebutkan bahwa: Yang takut dan yang kagum kepada Allah dari hamba-hambaNya Hanyalah para ulama. Ini menunjukan bahwa ilmu dalam pandangan Alquran bukan hanya ilmu agama.  Di sisilain itu juga menunjukan bahwa ilmu haruslah menghasilkan khasyyah yakni rasa takut dan kagum kepada Allah, yang pada gilirannya mendorong yang berilmu utuk mengamalkan  ilmunya serta memanfaatkannya untuk kepentingan mahluk.  Rasul saw seringkali berdoa “Allahumma inni audzubika min ‘ilm(in) la yanfa’ (Aku berlindung kepadaMu dari ilmu yang tidak bermanfaat).

  1. Analisis

Ayat di atas diawali dengan penjelasan Allah tentang adab orang mukmin dalam majlis, di mana antar satu dengan yang lain harus saling memberikan keleluasaan, demikian juga dalam berhubungan dalam kehidupan hendaknya jangan ada yang saling memojok dan menghalngi jalan hidup orang lain, karena mereka adalah bersaudara.

Kelanjutan ayat yang menjelasakan bahwa Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antara kamu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat, mengidentifikasikan bahwa antara ilmu dan iman mempunyai hubungan yang erat di antaranya adalah :

  1. Gerak-gerik dan perilaku manusia akan ditentukan oleh kualitas ilmunya. Hal ini karena iman pada hakikatnya juga harus menumbuhkan perasaan tersebut, dengan demikian, maka ilmu itu sendiri, pada hakikatnya adlah iman, karena I juga mengangkat derajat dan kualitas manusia. Maak dengan demikian, iman akan mengangkat derajat ilmu, demikian juga ilmu juga akan mengangkat derajat ke-iman
  2. Iman yang tidak dibangun dan dibesarkan atas dasar ilmu, maka iman tersebut adalah kerdil, tidak berpotensi dan tidak mampu membuahkan dinamika menuju perubahan dan pencerahan masa depan kehidupan.
  3. Ilmu yang tidak mampu membuka hati menuju kepada iman dn petunjuk ilahi, tidak mampu menunjukkan kesalahan dan kesesatan, ia hanya laksana api yang hanya membakar atau asap yang hanya menyelimuti pandangn serta menyesakkan pernafasan.

Dalam ayat tersebut al-Qur’an menuturkan kemuliaan tentang derajat ntara orang yng beriman dengan orang yang berilmu. Karena sebagin dari manusia dalam konteks karir keimanan atau kepercayaan ada yang berangkat dari ilmu yang mengarahkan kepad keimann, dan sebagian yang lain, ada yang berangkat dari keimanan kemudian diarahkan untuk mencari ilmu. Maka orang mukmin yang benar dan betul keimanannya, maka ia adalah alim, dan orang lim yang benar ilmunya, maka ia adalah mukmin[8]

  1. Aspek Tarbawi
  2. Adab dalam majlis hendaknya saling memberikan keleluasan dalam tempat duduk, meski harus memaksakan diri
  3. Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antara kamu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat.
  4. Iman akan mengangkat derajat ilmu, demikian juga ilmu juga akan mengangkat derajat ke-iman.
  5. Hendaknya sebagai manusia harus memperhitungkan segala tindakan, ucapan, dan prasangka. Karena Allah Maha Mengetahui terhadap apa yang kita kerjakan

 

 

 

 

 

KESIMPULAN

  • Dalam Surat Ali Imra ayat 18 menurut tafsir al-Azhar Hendaklah menarik perhatian kita tentang kedudukan mulia yang diberikan Tuhan kepada Ulil-Ilmi.
  • Dalam Surat Al-Mujadalah ayat 11 dapat dianalisa bahwa Dalam ayat tersebut al-Qur’an menuturkan kemuliaan tentang derajat ntara orang yng beriman dengan orang yang berilmu. Karena sebagin dari manusia dalam konteks karir keimanan atau kepercayaan ada yang berangkat dari ilmu yang mengarahkan kepad keimann, dan sebagian yang lain, ada yang berangkat dari keimanan kemudian diarahkan untuk mencari ilmu.

 

 

DAFTAR PUSTAKA

 

http://bismillahku.blogspot.co.id/2011/04/arti-dan-terjemah-surah-ali-imran-per.html, di lihat pada tgl 16 September 2016 pada jam 10.00 wib.

 

Munir, Ahmad,  2008, Tafsir Tarbawi Mengungkap pesan al-Qur’an tentang     Pendidikan,  Yogyakarta, Teras

Rakhmat, Jalaluddin,  1994, Tafsir Bil Matsur Pesan Moral al-Qur’an, Bandung,           Remaja Rosdakarya,

Al Maraghi, Ahmad Mustafa, Terjemahan Tafsir Al Maraghi, Semarang:                        Thoha Putra

http://alsofwah.or.id diakses pada 19/09/2016 pukul 13:34

Abdulmalik Abdukarim Amrullah (Hamka), Tafsir Al-Azar Jus III, Panji          Masyarakat:Jakarta 1968

Shihab, M. Quraish, 2012, Al-Lubab makna, tujuan dan pelajaran dari surah-surh  Al-Quran ,lentera hati: Tanggeran

Shihab, M. Quraish, 2002, Tafsir Al-Mishbah: Pesan, Kesan dan Keserasian                        Al-Quran. Jakarta: Lentera Hati

 

 

[1] Abdulmalik Abdukarim Amrullah (Hamka), Tafsir Al-Azar Jus III, (Panji Masyarakat:Jakarta 1968), hlm: 158-159

[2]M. Quraish Shihab, Al-Lubab makna, tujuan dan pelajaran dari surah-surh Al-Quran ,(lentera hati: Tanggeran 2012), hlm:102

[3] M. Quraish Shihab. Tafsir Al-Mishbah: Pesan, Kesan dan Keserasian Al-Quran. Jakarta: Lentera Hati 2002

[4] http://alsofwah.or.id diakses pada 19/09/2016 pukul 13:34

[5] Ahmad Mustafa Al Maraghi, Terjemahan Tafsir Al Maraghi, (Semarang: Thoha Putra,tt), hlm.22-23

[6] Op.Cit. M. Qiraish Shihab. Tafsir Al-Mishbah hal. 78

[7] Jalaluddin Rakhmat, Tafsir Bil Matsur Pesan Moral al-Qur’an, (Bandung, Remaja Rosdakarya, 1994

[8] Ahmad Munir Tafsir Tarbawi Mengungkap pesan al-Qur’an tentang Pendidikan, (Yogyakarta, Teras, 2008) hal 94-96

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s