KODE ETIK ISLAM DALAM MENUNTUT ILMU

Hasil gambar untuk etika menuntut ilmu islamOleh : Muhammad Arroyan

Menuntut ilmu merupakan pendekatan diri paling mulia yang dilakukan oleh seorang hamba kepada  Tuhannya dan sebagai bentuk ketaatan seorang muslim dalam meninggikan derajat di sisi Allah SWT. Dia telah menjelaskan bahwa ilmu yang akan bermanfaat bagi pemiliknya pada hari kiamat kelak adalah ilmu yang diikhlaskan oleh seorang hamba kepada Tuhannya.

        Oleh sebab itu, Islam telah memberi perhatian khusus kepada pemeluknya tentang kode etik atau adab dalam menuntut ilmu melalui Al-Qur’an dan As-Sunnah.

Allah SWT. berfirman :

هُوَ الَّذِي بَعَثَ فِي الأمِّيِّينَ رَسُولا مِنْهُمْ يَتْلُو عَلَيْهِمْ آيَاتِهِ وَيُزَكِّيهِمْ وَيُعَلِّمُهُمُ الْكِتَابَ وَالْحِكْمَةَ وَإِنْ كَانُوا مِنْ قَبْلُ لَفِي ضَلالٍ مُبِينٍ

Dia-lah yang mengutus kepada kaum yang buta huruf seorang Rasul di antara mereka, yang membacakan ayat-ayat-Nya kepada mereka, mensucikan mereka dan mengajarkan mereka Kitab dan Hikmah (As Sunnah). Dan sesungguhnya mereka sebelumnya benar-benar dalam kesesatan yang nyata. (Q.S Al-Jumu’ah :2)

PERTAMA : IKHLAS

Allah SWT berfirman :

وَمَا أُمِرُوا إِلا لِيَعْبُدُوا اللَّهَ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ حُنَفَاءَ وَيُقِيمُوا الصَّلاةَ وَيُؤْتُوا الزَّكَاةَ وَذَلِكَ دِينُ الْقَيِّمَةِ

Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama dengan lurus, dan supaya mereka mendirikan salat dan menunaikan zakat; dan yang demikian itulah agama yang lurus. (Q.S Al-Bayyinah : 5)

Ketika kita sudah belajar ikhlas dalam mencari ilmu hanya untuk Allah SWT, maka dia akan memperoleh pahala dan kemuliaan di sisiNya. Adapun jika rasa ikhlas tidak ada pada diri seorang pelajar, tetapi justru sebaliknya, maka dalam hatinya penuh dengan noda-noda riya’ dan akan menjadi malapetaka bagi dirinya pada hari kiamat.

Allah SWT. berfirman :

مَنْ كَانَ يُرِيدُ حَرْثَ الآخِرَةِ نَزِدْ لَهُ فِي حَرْثِهِ وَمَنْ كَانَ يُرِيدُ حَرْثَ الدُّنْيَا نُؤْتِهِ مِنْهَا وَمَا لَهُ فِي الآخِرَةِ مِنْ نَصِيبٍ

Barang siapa yang menghendaki keuntungan di akhirat akan Kami tambah keuntungan itu baginya dan barang siapa yang menghendaki keuntungan di dunia Kami berikan kepadanya sebagian dari keuntungan dunia dan tidak ada baginya suatu bahagian pun di akhirat. (Q.S Asy-Syura : 20)

 

KEDUA : TAWADHU’

Tawadhu’ merupakan salah satu karakter paling dominan bagi orang-orang mukmin pada umumnya dan para penuntut ilmu khususnya. Allah SWT telah memerintahkan hambaNya agar tawadhu dan berendah diri kepada sesama mukmin. Allah SWT. berfirman :

وَاخْفِضْ جَنَاحَكَ لِمَنِ اتَّبَعَكَ مِنَ الْمُؤْمِنِينَ

Dan rendahkanlah dirimu terhadap orang-orang yang mengikutimu, yaitu orang-orang yang beriman. (Q.S Asy-Syu’ara : 215)

Allah telah menjelaskan bahwa kesombongan dan kecongkakan terhadap sesama hamba adalah dua sifat yang sangat di benci olehNya.

Allah SWT. berfirman :

وَلا تُصَعِّرْ خَدَّكَ لِلنَّاسِ وَلا تَمْشِ فِي الأرْضِ مَرَحًا إِنَّ اللَّهَ لا يُحِبُّ كُلَّ مُخْتَالٍ فَخُورٍ

Dan janganlah kamu memalingkan mukamu dari manusia (karena sombong) dan janganlah kamu berjalan di muka bumi dengan angkuh. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong lagi membanggakan diri. (Q.S Luqman : 18)

 

KETIGA : SABAR

          Allah SWT. berfirman :

وَاصْبِرْ فَإِنَّ اللَّهَ لا يُضِيعُ أَجْرَ الْمُحْسِنِينَ

Dan bersabarlah, karena sesungguhnya Allah tiada menyia-nyiakan pahala orang-orang yang berbuat kebaikan. (Q.S Huud : 115)

Sabar adalah salah satu akhlak mulia yang diperintahkan Islam. Diantara macam-macamnya adalah sabar dalam taat kepada Allah. Secara ringkasnya, tujuan mulia tidak akan diperoleh kecuali dengan mengarungi berbagai kesulitan di dalamnya.

Hikmah yang dapat diambil ketika sifat sabar telah ada dalam diri seorang muslim adalah ia mampu menjaga diri dari perbuatan yang dilarang Allah dan bersungguh-sungguh dalam bertindak. Maksudnya adalah dengan kesungguhan, seseorang akan mampu melewati setiap rintangan baik dari dalam diri sendiri maupun dari luar.

Hafidz Ibnu Abdil Barr meriwayatkan dari Yahya bin Ibnu Katsir, dia berkata: “Saya mendengar bapakkny berkata: “Ilmu itu tidak bisa diperoleh dengan bermalas-malasan”.

KEEMPAT: MEMANFAATKAN WAKTU

          Dari Ibnu Abbas ra. Dia berkata: Rasulullah SAW. bersabda:

نِعْمَتَانِ مَغْبُونٌ فِيهِمَا كَثِيرٌ مِنَ النَّاسِ ، الصِّحَّةُ وَالْفَرَاغُ

”Ada dua kenikmatan yang banyak manusia tertipu, yaitu nikmat sehat dan waktu senggang”. (HR. Bukhari no. 6412)

Berkaitan dengan hadist di atas, maka wajib bagi seorang pencari ilmu untuk bersyukur kepada Allah dengan melaksanakan memanfaatkan dua nikmat ini secara maksimal.

** Bersambung…………

Diringkas dari : Abu Nabil, Etika Islam Dalam Menuntut Ilmu, Khilma Pustaka Jakarta, 2005

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s