ZAKAT

  1. Latar Belakang

Zakat adalah salah satu rukun yang bercorak sosial-ekonomi dari lima rukun Islam. Zakat juga merupakansatu-satunya ibadah yang dalam syariat islam secara eksplisit dinyatakan ada petugasnya. Dengan zakat,  disamping ikrar tauhid (syahadat) dan sholat seorang barulah sah masuk ke dalam barisan umat Islam dan diakui keislamannya. Sesuai dengan firman Allah SWT :

.فان تا بوا واقا مواا الصلاة واتواالزكاة فاخوا نكم فى الدين……

“ Tetapi bila mereka bertaubat, mendirikan shalat, dan membayar zakat, barulah mereka saudara kalian seagama “ ( At- Taubah : 11 )

Menurut Dr. Yusuf Qardhawi, ia menyatakan bahwa salah satu upaya mendasar dan fundamental untuk mengentaskan atau memperkecil masalah kemiskinan adalah denagn cara mengoptimalkan pelaksanaan zakat. Hal itu dikarenakan zakat adalah sumber dana yang tidak akan pernah kering dan habis. Zakat dapat mensucikan hati serta harta yang kita miliki karena pada hakikatnya didalam harta yang kita miliki ada di dalamnya yakni harta orang lain. Islam mengajarkan kita agar selalu ingat kepada sesama dan saling membantunya begitu pun dengan zakat yang ada kaitannya dengan ajaran islam tersebut.

BAB II

PEMBAHASAN

  1. Pengertian dan Hukum Zakat

Ditinjau dari segi bahasa, kata zakat merupakan kata dasar ( masdar ) dari zaka yang berarti berkah, tumbuh, bersih dan baik.[1]

Dari segi istilah Fiqih, berarti “ Sejumlah harta tertentu yang diwajibkan oleh Allah diserahkan kepada orang-orang yang berhak” disamping berarti “mengeluarkan jumlah tertentu itu sendiri”.[2]

Sedangkan secara terminologi syari’ah, zakat merujuk pada aktivitas memberikan sebagian kekayaan dalam jumlah dan perhitungan tertentu untuk orang-orang tertentu sebagaimana ditentukan. Zakat merupakan rukun ketiga dari rukun Islam.

Kata zakat dalam bentuk ma’rifah (definisi)[3] disebut tiga puluh kali di dalam Qur’an, diantaranya dua puluh tujuh kali disebutkan dalam satu ayat bersama shalat, dan hanya satu kali disebutkan dalam konteks yang sama dengan shalat tetapi tidak di dalam satu ayat, yaitu Firman-Nya : Dan orang-orang yang giat menunaikan zakat, setelah ayat: orang-orang yang khusyuk dalam bershalat”.[4]

Ibnu Taimiyah berkata, “Jiwa orang yang berzakat itu menjadi bersih dan kekayaannya akan bersih pula : bersih dan bertambah maknanya”. [5]

Nawawi mengutip dari pengarang al-Hawi, “ Zakat adalah kata arab yang sudah dikenal sebelum islam dan lebih banyak dipakai dalam syair-syair daripada diterangkan”.

Arti tumbuh dan suci tidak dipakaikan hanya buat kekayaan, tetapi lebih dari itu, juga buat jiwa orang yang menzakatkannya, sesuai dengan firman Allah yang artinya :

“ Pungutlah zakat dari kekayaan mereka, engkau bersihkan dan sucikan mereka dengannya ”. ( At-Taubah : 103).

Zakat juga merupakan salah satu rukun Islam dan menjadi salah satu unsur pokok bagi penegakan syariat Islam. Oleh sebab itu, hukum menunaikan zakat adalah wajib bagi setiap  muslim dan muslimah yang telah memenuhi syaratsyarat tertentu. Allah swt berfirman, “Padahal mereka dak disuruh kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama yang lurus, dan supaya mereka mendirikan salat dan menunaikan zakat. Dan yang demikian itulah agama yang lurus”. [6]

  1. Macam-Macam Klasifikasi Zakat

Zakat dapat diklasifikasikan berdasarkan jenisnya, yaitu zakat mal ( harta ) dan zakat fitrah. Serta harta yang wajib dikeluarkan zakatnya, syarat-syarat harta yang terkena zakat dan golongan yang berhak menerima zakat.

  1. Zakat Mal ( Harta )

Menurut bahasa, kata “mâl” berar kecenderungan,atau segala sesuatu yang diinginkan sekali oleh manusia untuk dimiliki dan disimpannya. Sedangkan menurut syarat, mâl adalah segala sesuatu yang dapat dimiliki atau dikuasai dan dapat digunakan (dimanfaatkan) sebagaimana lazimnya. Dengan demikian, sesuatu dapat disebut mâl apabila memenuhi dua syarat berikut:

  1. Dapat dimiliki, disimpan, dihimpun, dikuasai.
  2. Dapat diambil manfaatnya sebagaimana lazimnya.[7]

Sesuatu inilah yang perlu dikeluarkan zakatnya jika sudah memenuhi syarat dan rukunnva. Adapun syarat zakat mal adalah :

  1. Milik penuh, bukan milik bersama

2.Berkembang. Artinya harta tersebut bertambah atau berkurang bila diusahakan atau mempunyai potensi untuk berkembang

  1. Cukup nisabnya atau sudah mencapai nilai tertentu
  2. cukup haulnya atau sudah lebih satu tahun
  3. Lebih dari kebutuhan pokok dan
  4. Bebas dari hutang[8]

Adapun yang termasuk rukum zakat adalah:

a.Pelepasan atau pengeluaran hak milik pada sebagaian harta yang dikenakan wajib zakat.

b.Penyerahan sebagian harta tersebut dari orang yang mempunyai harta kepada orang yang bertugas atau orang yang mengurusi zakat (amil zakat).

  1. Penyerahan amil kepada orang yang berhak menerima zakat sebagai milik.[9]
  1. Harta yang Wajib Dizakati

Terdapat beberapa jenis kekayaan yang disebutkan dan diperingatkan Qur’an untuk dikeluarkan zakatnya sebagai hak Allah :

  1. Emas dan perak,[10]
  2. Tanaman dan buah-buahan,[11]
  3. Usaha[12]
  4. Barang-barang tambang yang dikeluarkan dari perut bumi[13]

Selain dari yang disebutkan itu, Qur’an hanya merumuskan apa yang wajib dizakatkan itu dengan rumusan yang sangat umum yaitu kata-kata “kekayaan”, seperti firmannya, “Pungutlah olehmu zakat dari kekayaan mereka, kau bersihkan dan sucikan mereka dengannya.[14]

  1. Nisab dan Kadar Zakat
  2. Zakat Emas dan Perak

Emas dan perak yang wajib di zakati adalah apabila telah sampai nisabnya dan telah cukup setahun dimiliki. Adapun nisab emas dan perak adalah 20 dinar ( setara 85 gram emas murni) dan 200 dirham (setara 595 gram perak)[15], adapun besar kadar zakatnya adalah 2,5 % dihitung dari nilai uang tersebut

  1. Zakat Profesi

Nisab zakat profesi/pendapatan dapat dikiaskan kepada nisab zakat pertanian karena adanya kemiripan karakteristik dan model harta yang diterima.[16]

Dengan demikian siapa yang mempunyai pendapatan mencapai lima  wasaq (653 kg) wajib mengeluarkan zakatnya sebesar 2,5%.

  1. Zakat Uang Tabungan

Telah menjadi kesepakatan kaum muslimin atas kewajiban zakat uang, dan bersepakat juga atas ukuran kewajiban pengeluaran zakatnya. Dengan demikian nisab dan kadar zakatnya dikiaskan dengan emas (85 gram).

  1. Zakat Perdagangan

Dalam hadits yang diriwayatkan oleh Samurah bin Jundab : “Rasulullah Saw memerintahkan kami agar menqeluarkan zakat dari semua yang kami persiapkan untuk berdagang.” ( HR.Abu Dawud)

Adapun nishab zakat perdagangan adalah 200 dirham atau 20 dinar (perak dan emas) dan kadar zakatnya adalah 2,5% apabila sudah berlalu setahun.

  1. Zakat Pertanian (Tanam-tanaman)

Nisab hasil pertanian adalah 5 wasq atau setara dengan 653 kg.  Sedangkan Kadar zakatnya adalah, apabila dialiri dengan air hujan, sungai, atau mata air adalah 10%, tetapi apabila hasil pertanian diairi dengan disirami atau irigasi (ada biaya tambahan), zakatnya adalah 5%.[17]

 

  1. Zakat Binatang Ternak
  2. Zakat Unta

Nisab unta adalah 5 ekor, artinya bila seseorang telah memiliki 5 ekor unta, maka ia telah berkewajiban mengeluarkan zakatnya Sesuai dengan ijma’ulama dan hadist-hadist shahih dari Rasulullah saw dan para sahabatnya,[18] maka dapat dibuatkan tabel kadar zakat unta sebagai berikut.

Nisab unta Zakat yang dikeluarkan
5-9 ekor 1 ekor kambing
10 – 14 ekor 2 ekor kambing
15 – 19 ekor 3 ekor kambing
20 – 24 ekor 4 ekor kambing
25 – 35 ekor Seekor unta betina ( berumur 1 tahun lebih )
36 – 45 ekor Seekor anak unta betina ( berumur 2 tahun lebih )
46 – 60 ekor Seekor anak unta betina ( berumur 3 tahun lebih )
61 – 75 ekor Seekor anak unta betina ( berumur 4 tahun lebih )
76 – 90 ekor 2 ekor anak unta betina ( berumur 2 tahun lebih )
91 – 120 ekor 2 ekor anak unta betina ( berumur 3 tahun lebih )

Adapun lebih dari 120 ekor, maka pendapat menurut sebagian ulama[19] adalah setiap 50 ekor unta zakatnya seekor anak unta betina (umur 3 tahun lebih), dan setiap 40 ekor, zakatnya seekor anak unta betina ( umur 2 tahun lebih ).

  1. Zakat Sapi, Kerbau dan Kuda
Nisab Zakat yang dikeluarkan Umurnya
30-39 ekor 1 ekor anak sapi/seekor kerbau 1 tahun lebih
40-59 ekor 1 ekor anak sapi/seekor kerbau 2 tahun lebih
60- 69 ekor 2 ekor anak sapi/seekor kerbau 1 tahun lebih
70-79 ekor 1 ekor anak sapi/seekor kerbau dan 1 ekor anak sapi/seekor kerbau 2 tahun lebih dan 1 tahun lebih

Tiap-tiap kelipatan 30 dan 40 maka zakatnya 1 ekor umur 1 tahun lebh dan 1 ekor umur 2 tahun lebih.[20]

  1. Zakat Kambing
Nisab Zakat yang dikeluarkan
1-39 ekor Tidak ada zakatnya
40-120 ekor 1 ekor kambing
121-200 ekor 2 ekor kambing
201-399 ekor 3 ekor kambing
400-499 ekor 4 ekor kambing
500-599 ekor 5 ekor kambing

Demikian setiap kelipatan 100 ekor zakatnya seekor kambing.[21]

  1. Zakat Produksi Hewani

Nisab produksi hewani ditetapan berdasarkan jumlah, sebagaimana hewan ternak lainnya, dihitung berdasarkan skala usaha, yakni 20 dinar atau sama dengan 85 gram emas murni (24 karat) dan kadarnya sebesar 2,5%.[22]

  1. Zakat Investasi, dsb.

Para ulama berbeda pendapat dalam mengemukakan ketentuan tentang nisab, berapa dan bagaimana cara menghitungnya, tapi perhitungan dengan nilai 85 gr emas selama kurun waktu setahun inilah yang lebih benar dan mudah dilakukan.[23]

  1. Kelompok Yang Wajib dan Berhak Menerima Zakat

Orang yang wajib dan berhak menerima zakat telah ditentukan oleh Al-Qur’an terdapat dalam surah At Taubah ayat 60 :

Artinya: Sesungguhnya zakat itu, hanyalah untuk orang-orang fakir, orang miskin, amil zakat, yang dilunakkan hatinya(mualaf), untuk(memerdekakan) hamba sahaya,untuk(membebaskan)orang yang berutang, untuk jalan Allah, dan untuk orang yang sedang dalam perjalanan,sebagai kewajiban dari Allah, Dan Allah Maha Mengetahui, Maha Bijaksana.

  1. Zakat Fitrah

Makna zakat fitrah, yaitu zakat yang sebab diwajibkannya adalah futur(berbuka puasa) pada bulan Ramadhan.Disebut pula dengan sedakah fitrah.[24]

Zakat fitrah diwajibkan pada tahun kedua Hijrah, yaitu tahun diwajibkannya bulan puasa Ramadhan, untuk mensucikan orang yang berpuasa dari ucapan  dan perbuatan yang tidak ada gunanya.[25]

Kewajiban zakat fitrah sesuai dengan hadist Rasulullah saw. dari Ibnu Umar :

عَنْ ابْنِ عُمَرَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُمَا قَالَ فَرَضَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ زَكَاةَ الْفِطْرِ صَاعًا مِنْ تَمْرٍ أَوْ صَاعًا مِنْ شَعِيْرٍ عَلَى الْعَبْدِ وَالْحُرِّ وَالذَّكَرِ وَاْلأُنْثَى وَالصَّغِيْرِ وَالْكَبِيْرِ مِنَ الْمُسْلِمِيْنَ.

Dari Ibnu Umar radhiallahu ‘anhuma ia mengatakan: “Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam menfardhukan zakat fitri satu sha’ kurma atau satu sha’ gandum atas budak sahaya orang merdeka laki2 wanita kecil dan besar dari kaum muslimin.

Adapun syarat-syarat wajib zakat fitrah antara lain, :

  1. Islam
  2. Mempunyai kelebihan harta dari keperluan makanan untuk dirinya sendiri.[26]

Dari Ibn Abbas radliallahu ‘anhuma, beliau mengatakan:

فَرَضَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ زَكَاةَ الْفِطْرِ طُهْرَةً لِلصَّائِمِ مِنَ اللَّغْوِ وَالرَّفَثِ، وَطُعْمَةً لِلْمَسَاكِينِ، مَنْ أَدَّاهَا قَبْلَ الصَّلَاةِ، فَهِيَ زَكَاةٌ مَقْبُولَةٌ، وَمَنْ أَدَّاهَا بَعْدَ الصَّلَاةِ، فَهِيَ صَدَقَةٌ مِنَ الصَّدَقَاتِ

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mewajibkan zakat fitrah, sebagai pembersih bari orang yang puasa dari segala perbuatan sia-sia dan ucapan jorok serta sebagai makanan bagi orang miskin. Siapa yang menunaikannya sebelum shalat id maka zakatnya diterima, dan siapa yang menunaikannya setelah shalat id maka hanya menjadi sedekah biasa. (HR. Abu Daud, Ad Daruquthni dan dishahihkan Al Albani)

Adapun yang berhak menerima zakat fitrah adalah orang-orang miskin untuk mencukupi mereka dari kebutuhan dan meminta-minta pada hari raya.[27]

BAB III

PENUTUP

  1. Kesimpulan

Secara bahasa, zakat berarti tumbuh (numuww) dan bertambah (Ziyadah). Sedangkan menurut istilah zakat adalah penyerahan atau penunaian hak yang wajib yang terdapat di dalam harta untuk diberikan kepada orang-orang yang berhak.

Zakat terbagi dua yaitu zakat Fitrah dan zakat Maal (Zakat Harta)

  1. Zakat Fitrah adalah zakat yang wajib dikeluarkan Muslim menjelang Idul Fitri pada bulan Ramadhan. Besar Zakat ini setara dengan 2,5 kilogram makanan pokok yang ada di daerah bersangkutan.
  2. Zakat Maal (Zakat Harta ) adalah zakat kekayaan yang harus dikeluarkan dalam jangka satu tahun sekali yang sudah memenuhi nishab mencakup hasil perniagaan, pertanian, pertambangan, hasil laut, hasil ternak, harta temuan, emas dan perak serta hasil kerja (profesi). Masing-masing tipe memiliki perhitungannya sendiri-sendiri.
  3. SARAN

Penyusun makalah ini manusia biasa banyak kelemahan dan kekhilafan. Maka dari itu penyusun menyarankan pada pembaca yang ingin mendalami masalah zakat, setelah membaca makalah ini membaca sumber lain yang lebih lengkap. Dan marilah kita realisasikan zakat dalam kehidupan sehari-hari yang merupakan kewajiban umat muslim dengan penuh rasa ikhlas.

DAFTAR PUSTAKA

Qardawi, Yusuf. 2006. Hukum Zakat. Jakarta : PT. Pustaka Litera AntarNusa

Yasin, A. Hadi. 2011. Panduan Zakat. Jakarta : Dompet Dhuafa Republika

Penyusun, Tim. 2011. Panduan Zakat Praktis. Jakarta : Kementrian Agama

Rasyid, Sulaiman. 2007. Fiqh Islam. Bandung : Sinar Baru Algensindo

[1] Mu’jam Wasith, juz 1 hal. 398

[2] Zamakhsyari berkata dalam al-fa’iq, jilid 1:536

[3] Kita menyatakan “ dalam bentuk ma’rifah” oleh karena itu juga terdapat dalam bentuk nakirah   dalam dua ayat, tetapi berarti lain yaitu dalam Qur’an, 18:81.

[4] Al Qur’an 23:2,4

[5] Kumpulan fatwa “ Syekh, Islam Ibnu Taimiah, jilid 25:8

[6] Qur’an 98 : 5

[7] Ahmad Hadi Yasin, Panduan Zakat (Jakarta : Dompet Dhuafa Republika,2011), hlm.15

[8] Tim Penyusun, Panduan Zakat Praktis (Jakarta : Kementrian Agama, 2013) hlm.49

[9] http://www.badanwakafnusantara.com

[10] Qur’an, 9 :34.

[11] Qur’an, 6:141

[12] Qur’an, 2:276

[13] Qur’an, Loc.Cit

[14] Quran, 9:103

[15] Sesuai dengan hadist riwayat Abu Daud dari Abi bin Abi Thalib.

[16] Ahmad Hadi Yasin, Panduan Zakat (Jakarta : Dompet Dhuafa Republika,2011), hlm.36

[17]  Ahmad Hadi Yasin, Panduan Zakat (Jakarta : Dompet Dhuafa Republika,2011), hlm. 29

[18] Hadist Riwayat Bukhari dari Anas bin Malik ra.

[19] Dalam hal ini golongan Hanafi, Nakha’I dan Tsauri berbeda pendapat.

[20] Hadist اخرجه خمسة

[21] Hadist riwayat Ahmad, Bukhari dan Nasa’i

[22] Ibid, hlm 26

[23] Yusuf Qardawi, Hukum Zakat, (Jakarta: PT. Pustaka Litera AntarNusa,2006). Hlm.456

[24] Yusuf Qardawi, Hukum Zakat, (Jakarta: PT. Pustaka Litera AntarNusa,2006).Hlm.920

[25] Op.Cit , hlm. 920

[26] Sulaiman Rasyid. Fiqh Islam, (Bandung : Sinar Baru Algensindo,2007) hlm. 208

[27] Ibid, hlm. 921

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s